Kebiasaan Menggerus Obat Tablet Sebelum Diminum: Apakah Bisa Mengurangi Khasiat?

Dosen Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Minum obat tablet terkadang menjadi tantangan bagi sebagian orang. Ada yang merasa ukuran tablet terlalu besar, sulit ditelan, rasanya tidak nyaman, atau takut tersedak. Karena alasan tersebut, sebagian masyarakat memilih menggerus obat tablet sebelum diminum agar lebih mudah masuk ke tubuh.
Kebiasaan ini terlihat sederhana, tetapi tidak selalu aman. Dalam dunia farmasi, setiap bentuk obat dibuat dengan tujuan tertentu. Ada tablet yang memang boleh dibelah atau dihancurkan, tetapi ada juga tablet yang harus diminum secara utuh. Jika obat yang seharusnya diminum utuh justru digerus, cara kerja obat di dalam tubuh bisa berubah.
Tablet bukan hanya sekadar obat padat yang dipadatkan. Beberapa tablet memiliki lapisan khusus untuk mengatur pelepasan zat aktif. Ada obat yang dibuat agar larut perlahan, ada yang baru dilepaskan setelah sampai di usus, dan ada pula yang lapisannya berfungsi melindungi lambung atau melindungi zat aktif dari asam lambung.
Salah satu jenis obat yang tidak boleh digerus adalah tablet lepas lambat. Obat jenis ini dirancang agar zat aktif dilepaskan sedikit demi sedikit dalam jangka waktu tertentu. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa tablet sediaan lepas lambat harus diminum secara utuh dan tidak boleh digerus maupun dibagi.
Jika tablet lepas lambat digerus, obat dapat dilepaskan terlalu cepat. Akibatnya, kadar obat dalam tubuh bisa meningkat secara mendadak. Kondisi ini berisiko menimbulkan efek samping yang lebih kuat, bahkan bisa membahayakan pada obat-obat tertentu.
Selain tablet lepas lambat, tablet salut enterik juga tidak boleh sembarangan dihancurkan. Sediaan lepas tunda atau salut enterik dibuat agar obat tidak langsung dilepaskan di lambung, tetapi dilepaskan setelah mencapai usus halus atau bagian saluran cerna tertentu. Tujuannya antara lain untuk menghindari iritasi lambung atau mencegah zat aktif rusak oleh asam lambung.
Jika lapisan tersebut rusak karena digerus, obat bisa terlepas di tempat yang tidak seharusnya. Dampaknya, obat mungkin menjadi kurang efektif, menimbulkan iritasi lambung, atau efeknya tidak sesuai dengan tujuan terapi.
Beberapa obat juga memiliki rasa sangat pahit atau dapat mengiritasi mulut dan tenggorokan jika dihancurkan. Pada obat tertentu, menggerus tablet juga dapat meningkatkan risiko paparan langsung terhadap zat aktif, terutama bagi orang yang membantu menyiapkan obat. Karena itu, beberapa obat khusus, seperti obat kanker, tidak boleh digerus, dibelah, atau dikunyah, kecuali atas instruksi dokter atau apoteker.
Namun, bukan berarti semua tablet dilarang digerus. Dalam kondisi tertentu, tenaga kesehatan dapat menyarankan obat dibuat dalam bentuk puyer atau dihancurkan, misalnya pada pasien anak, lansia, atau pasien yang benar-benar sulit menelan. Meski demikian, keputusan tersebut sebaiknya tidak dilakukan sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu kepada apoteker atau dokter.
Masyarakat dapat memperhatikan beberapa tanda pada nama obat atau kemasan. Obat dengan keterangan seperti SR, XR, ER, CR, retard, controlled release, sustained release, atau enteric coated umumnya tidak boleh dihancurkan sembarangan. Jika ragu, jangan menebak sendiri, karena istilah pada obat tidak selalu mudah dipahami oleh masyarakat umum.
Alternatif yang lebih aman adalah bertanya kepada apoteker apakah obat tersebut boleh dibelah, digerus, atau dilarutkan. Apoteker juga dapat membantu memberikan pilihan lain, misalnya bentuk sirup, tablet kunyah, tablet larut, atau sediaan lain yang lebih mudah digunakan.
Kebiasaan menggerus obat tablet sebelum diminum memang dapat membantu sebagian orang yang sulit menelan. Namun, tindakan ini tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Obat yang tampak sama-sama berbentuk tablet bisa memiliki teknologi pembuatan dan aturan penggunaan yang berbeda.
Jadi, apakah menggerus obat tablet bisa mengurangi khasiatnya? Jawabannya bisa iya, terutama jika obat tersebut memiliki lapisan khusus atau sistem pelepasan tertentu. Bahkan, bukan hanya khasiat yang berkurang, risiko efek samping juga dapat meningkat.
Menggunakan obat dengan benar bukan hanya soal meminum obat sesuai dosis, melainkan juga paham dengan cara penggunaannya.
Bila sulit menelan tablet, jangan langsung menggerus obat. Tanyakan dulu kepada apoteker atau tenaga kesehatan agar obat tetap aman, efektif, dan sesuai dengan tujuan pengobatan.
