Konten dari Pengguna

Minyak Atsiri Jadi Keterampilan: Warga Sunter Membuat Roll-On Aroma Terapi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesibukan sehari-hari sering membuat tubuh terasa lelah. Sebagian orang juga mengalami sakit kepala ringan, nyeri otot, sulit tidur, atau merasa kurang nyaman setelah menjalani berbagai aktivitas. Untuk mengatasinya, masyarakat biasanya menggunakan minyak angin, balsem, atau produk relaksasi lain yang mudah ditemukan di rumah.

Namun, tidak banyak orang mengetahui bahwa bahan aromatik dapat diolah menjadi produk sederhana yang praktis digunakan. Dengan pengetahuan dan cara pembuatan yang tepat, minyak atsiri dapat dikembangkan menjadi roll-on aromaterapi yang mudah dibawa serta digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal inilah yang diperkenalkan kepada warga melalui kegiatan pelatihan pembuatan roll-on aromaterapi di RPTRA Sutra Indah 3, Sunter Agung, Jakarta Utara. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut diselenggarakan oleh tim Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada 27 April 2026.

Peserta kegiatan mendengarkan pemaparan materi, Sumber:Dokumentasi pribadi

Pelatihan ini tidak hanya mengajak peserta mengenal minyak atsiri, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam membuat produk kesehatan rumah tangga yang sederhana.

Potensi Bahan Aromatik di Sekitar Kita

Indonesia memiliki beragam tanaman aromatik yang dapat menghasilkan minyak atsiri. Beberapa di antaranya adalah cengkeh dan sereh wangi. Selain itu, minyak lavender juga cukup dikenal dan banyak digunakan dalam produk aromaterapi.

Aroma dari minyak atsiri umumnya digunakan untuk membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman dan mendukung relaksasi. Meski demikian, minyak atsiri bukanlah pengganti obat atau terapi medis. Penggunaannya tetap perlu dilakukan secara tepat, terutama karena minyak atsiri dalam bentuk pekat dapat menyebabkan iritasi pada sebagian orang.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa minyak atsiri tidak sebaiknya langsung dioleskan ke kulit tanpa pengenceran yang sesuai. Dalam produk roll-on, minyak atsiri biasanya dicampurkan dengan minyak pembawa atau carrier oil sebelum digunakan.

Pengetahuan mengenai komposisi, cara pencampuran, dan keamanan penggunaan menjadi bagian penting dalam pembuatan produk aromaterapi. Produk yang tampak sederhana tetap membutuhkan ketelitian agar nyaman dan aman digunakan.

Belajar Tidak Hanya Melalui Penjelasan

Pelatihan di RPTRA Sutra Indah 3 dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Peserta terlebih dahulu mendapatkan penjelasan mengenai kesehatan, pemanfaatan bahan aromatik, serta hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan minyak atsiri.

Setelah sesi edukasi, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan roll-on aromaterapi. Mereka belajar mengenali bahan, mengikuti tahapan pencampuran, dan memasukkan formulasi yang telah dibuat ke dalam kemasan roll-on.

Metode praktik langsung dipilih karena keterampilan semacam ini lebih mudah dipahami ketika peserta terlibat dalam setiap tahapan. Peserta tidak hanya melihat contoh, tetapi juga mencoba membuat produknya sendiri dengan pendampingan tim pelaksana.

Dokumentasi kegiatan menunjukkan warga mengikuti sesi penjelasan secara bersama-sama, kemudian berkumpul dalam kelompok kecil saat melakukan praktik pembuatan produk. Pada akhir kegiatan, peserta dan tim pelaksana juga melakukan foto bersama sebagai penutup rangkaian pelatihan.

Didominasi Peserta Perempuan

Kegiatan tersebut diikuti oleh 39 peserta. Sebanyak 36 peserta atau 92,31 persen merupakan perempuan, sedangkan tiga peserta lainnya atau 7,69 persen merupakan laki-laki.

Tingginya jumlah peserta perempuan menunjukkan besarnya minat warga, khususnya ibu rumah tangga, terhadap pelatihan kesehatan dan keterampilan praktis yang dapat diterapkan di rumah.

Dilihat dari kelompok usia, peserta paling banyak berada pada rentang 46–55 tahun, yaitu sebesar 41,03 persen. Selanjutnya, peserta berusia 36–45 tahun mencapai 28,21 persen, usia 21–35 tahun sebesar 17,95 persen, dan peserta berusia lebih dari 56 tahun sebesar 12,82 persen.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan berhasil menjangkau warga usia produktif hingga pra-lansia. Kelompok ini umumnya memiliki peran penting dalam mengelola kebutuhan sehari-hari dan kesehatan keluarga.

Keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Dengan panduan yang tepat, pembuatan produk sederhana seperti roll-on aromaterapi dapat kembali dipraktikkan di rumah.

Pengetahuan Peserta Meningkat

Keberhasilan pelatihan tidak hanya terlihat dari antusiasme peserta. Evaluasi yang dilakukan melalui tes sebelum dan setelah kegiatan juga menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa perpaduan antara penjelasan dan praktik langsung membantu peserta memahami materi dengan lebih baik. Peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai minyak atsiri, tetapi juga mengetahui tahapan pembuatan produk dan hal-hal yang perlu diperhatikan saat menggunakannya.

Hasil tersebut juga memperlihatkan bahwa edukasi kesehatan tidak selalu harus disampaikan melalui seminar yang formal. Materi dapat dibuat lebih menarik ketika dikaitkan dengan kebutuhan sehari-hari dan disertai aktivitas yang dapat langsung dicoba.

Dari Kebutuhan Rumah Tangga Menjadi Peluang Usaha

Selain dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi, keterampilan membuat roll-on aromaterapi juga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif. Bentuknya yang kecil, praktis, dan mudah dibawa membuat produk ini cukup dekat dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.

Namun, apabila akan dijual kepada masyarakat, pembuat produk tidak cukup hanya menguasai cara mencampurkan bahan. Aspek keamanan, kebersihan, kestabilan formulasi, pelabelan, kemasan, serta ketentuan perizinan juga harus diperhatikan.

Nama bahan dan komposisi perlu dicantumkan dengan jelas. Produk juga sebaiknya dilengkapi petunjuk penggunaan dan peringatan untuk menghentikan pemakaian apabila muncul reaksi yang tidak diinginkan.

Dengan demikian, peluang ekonomi dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap konsumen. Produk kesehatan rumah tangga bukan hanya perlu menarik, tetapi juga harus dibuat secara cermat dan digunakan secara rasional.

Foto bersama peserta kegiatan dan panitia, Sumber:Dokumentasi pribadi

RPTRA sebagai Ruang Pemberdayaan Warga

RPTRA selama ini dikenal sebagai ruang berkumpul dan beraktivitas bagi masyarakat. Fungsinya dapat diperluas menjadi tempat berbagi pengetahuan serta mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan warga.

Pelatihan pembuatan roll-on aromaterapi menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari kegiatan sederhana. Warga memperoleh pengetahuan baru, mencoba keterampilan praktis, dan melihat kemungkinan untuk mengembangkannya menjadi aktivitas produktif.

Jadi, apakah bahan aromatik hanya dapat digunakan sebagai pengharum? Tentu tidak. Dengan pemahaman, formulasi, dan cara penggunaan yang tepat, minyak atsiri dapat dikembangkan menjadi produk rumah tangga yang praktis.

Hal yang paling penting bukan sekadar menghasilkan sebotol roll-on aromaterapi, melainkan membangun kemampuan masyarakat untuk memilih bahan, membuat produk secara hati-hati, serta memahami batas penggunaannya.

Kegiatan sederhana seperti ini dapat menjadi langkah awal menuju masyarakat yang lebih terampil dan mandiri. Sebab, potensi lokal akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika diikuti pengetahuan, kreativitas, dan tanggung jawab.