Konten dari Pengguna

Rutinitas Sehat yang Terlalu Ketat: Membantu Tubuh atau Membebani Pikiran?

Yulius Evan Christian

Yulius Evan Christian

Dosen Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Self Love, Sumber : IStockphoto/Drazen Zigic
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Self Love, Sumber : IStockphoto/Drazen Zigic

Belakangan ini, istilah self-care semakin populer dan sering dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan fisik dan mental. Mulai dari skincare routine, olahraga rutin, meditasi, hingga konsumsi makanan sehat—semuanya dianggap sebagai bagian dari merawat diri.

Namun, muncul fenomena baru yang jarang disadari: over-self care, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu fokus pada upaya menjaga kesehatan hingga justru menimbulkan dampak negatif.

Hal ini memunculkan pertanyaan penting: apakah self-care selalu membawa manfaat, atau bisa berubah menjadi tekanan jika dilakukan secara berlebihan?

Apa Itu Over-Self Care?

Over-self care terjadi ketika aktivitas yang seharusnya membantu menjaga kesehatan justru menjadi kewajiban yang membebani. Seseorang merasa harus selalu:

  • mengikuti rutinitas kesehatan tertentu

  • menjaga pola makan secara sangat ketat

  • melakukan berbagai aktivitas self-care tanpa jeda

  • mencapai standar tertentu dalam menjaga diri

Alih-alih memberikan kenyamanan, aktivitas ini justru dapat menimbulkan tekanan.

Dari Kebutuhan Menjadi Kewajiban

Self-care pada dasarnya adalah kebutuhan, bukan kewajiban yang harus dilakukan secara sempurna. Namun, pengaruh media sosial dan tren gaya hidup sering membuat self-care terlihat seperti sesuatu yang harus dilakukan secara ideal.

Akibatnya, seseorang bisa merasa bersalah jika tidak melakukan rutinitas tersebut.

Dampak yang Tidak Disadari

Ketika self-care dilakukan secara berlebihan, beberapa dampak yang dapat muncul antara lain:

  • stres karena tekanan untuk selalu “sehat”

  • rasa bersalah ketika tidak mengikuti rutinitas

  • kelelahan mental

  • fokus berlebihan pada diri sendiri

Ironisnya, aktivitas yang seharusnya meningkatkan kesehatan justru dapat mengganggu keseimbangan.

Ilusi Kesempurnaan dalam Self-Care

Banyak konten yang menampilkan self-care sebagai aktivitas yang sempurna dan menyenangkan. Namun, tidak semua orang memiliki kondisi atau waktu yang sama untuk melakukannya.

Perbandingan ini dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.

Kesehatan yang Seharusnya Fleksibel

Kesehatan bukan sesuatu yang kaku atau harus selalu sempurna. Tubuh dan pikiran memiliki kebutuhan yang berubah-ubah, sehingga pendekatan yang fleksibel justru lebih penting.

Self-care seharusnya membantu seseorang merasa lebih baik, bukan menjadi sumber tekanan baru.

Menemukan Keseimbangan

Untuk menghindari over-self care, beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • memahami kebutuhan diri sendiri

  • tidak memaksakan rutinitas tertentu

  • memberi ruang untuk fleksibilitas

  • tidak membandingkan diri dengan orang lain

Pendekatan ini membantu menjaga self-care tetap menjadi hal yang positif.

Refleksi Gaya Hidup Modern

Fenomena over-self care menunjukkan bagaimana sesuatu yang baik dapat berubah menjadi berlebihan jika tidak disikapi dengan bijak. Ini juga mencerminkan bagaimana tren kesehatan dapat memengaruhi cara kita melihat diri sendiri.

Pada akhirnya, merawat diri bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang keseimbangan dan kenyamanan dalam menjalani hidup.