Konten dari Pengguna

Sering Minum Obat Nyeri Tanpa Resep: Apa Dampaknya bagi Kesehatan Ginjal?

Yulius Evan Christian

Yulius Evan Christian

Dosen Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi obat nyeri. Foto: IStockphoto/BackyardProduction
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat nyeri. Foto: IStockphoto/BackyardProduction

Obat nyeri menjadi salah satu jenis obat yang paling sering digunakan masyarakat. Saat kepala terasa pusing, badan pegal, gigi nyeri, atau haid terasa sakit, sebagian orang langsung mencari obat pereda nyeri yang mudah dibeli di apotek maupun toko obat. Karena mudah didapatkan, obat nyeri sering dianggap aman digunakan kapan saja.

Padahal, obat nyeri tetaplah obat yang memiliki aturan pakai, manfaat, dan risiko efek samping. Penggunaan obat nyeri tanpa resep boleh saja dilakukan untuk keluhan ringan tertentu, tetapi harus tetap sesuai dosis, durasi, dan kondisi tubuh masing-masing. Jika digunakan terlalu sering atau sembarangan, obat yang awalnya bertujuan meredakan nyeri justru dapat menimbulkan masalah kesehatan baru.

Salah satu kelompok obat nyeri yang banyak digunakan adalah obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID. Contohnya antara lain ibuprofen, aspirin, naproxen, diklofenak, asam mefenamat, dan beberapa obat sejenis lainnya. Obat ini bekerja dengan membantu mengurangi nyeri, peradangan, dan demam. Namun, penggunaannya tetap perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan efek samping, terutama bila dipakai dalam dosis tinggi atau jangka panjang.

Ilustrasi minum obat. Foto: elifilm/Shutterstock

Salah satu organ yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat nyeri adalah ginjal. Ginjal berperan menyaring darah, membuang sisa metabolisme, mengatur cairan tubuh, dan membantu menjaga keseimbangan elektrolit. Ketika obat tertentu digunakan terlalu sering, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko, kerja ginjal bisa ikut terdampak.

Literatur medis mengaitkan penggunaan NSAID dengan gangguan ginjal, termasuk cedera ginjal akut, radang jaringan ginjal, hingga gangguan ginjal kronis pada kondisi tertentu. Risiko ini lebih besar pada orang yang sudah memiliki penyakit ginjal, lanjut usia, dehidrasi, tekanan darah tinggi, diabetes, gagal jantung, atau sedang menggunakan obat tertentu yang juga memengaruhi fungsi ginjal.

Masalahnya, gangguan ginjal tidak selalu langsung terasa. Seseorang bisa saja merasa baik-baik saja, padahal fungsi ginjal mulai menurun. Karena itu, kebiasaan minum obat nyeri setiap kali muncul keluhan—tanpa memperhatikan dosis dan lama penggunaan—perlu diwaspadai.

Ilustrasi Ginjal. Foto: Shutterstock

Selain ginjal, obat nyeri golongan NSAID juga dapat menimbulkan efek samping pada saluran cerna. NHS menyebutkan efek samping umum NSAID dapat berupa gangguan pencernaan, sakit perut, mual, muntah, diare, pusing, ruam, dan sakit kepala. Pada sebagian orang—terutama yang memiliki riwayat maag atau tukak lambung—keluhan lambung bisa lebih terasa.

Kebiasaan lain yang sering terjadi adalah mencampur beberapa obat nyeri sekaligus. Misalnya, seseorang minum obat sakit kepala, lalu menambah obat nyeri lain karena merasa belum membaik. Padahal, beberapa obat bisa memiliki kandungan atau golongan yang mirip. Jika dikonsumsi bersamaan tanpa arahan tenaga kesehatan, risiko kelebihan dosis dan efek samping dapat meningkat.

Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap obat nyeri yang dikonsumsi bersamaan dengan obat lain, seperti obat tekanan darah, pengencer darah, obat jantung, atau obat ginjal. Interaksi obat bisa terjadi dan membuat penggunaan obat menjadi kurang aman. Karena itu, orang dengan penyakit kronis sebaiknya tidak sembarangan memilih obat nyeri.

Ilustrasi ibu hamil minum obat. Foto: Shutterstock

Bagi ibu hamil, penggunaan obat nyeri juga perlu perhatian khusus. FDA memperingatkan bahwa NSAID sebaiknya dihindari pada usia kehamilan sekitar 20 minggu atau lebih, kecuali atas arahan tenaga kesehatan, karena dapat menyebabkan masalah ginjal yang serius pada janin dan menurunkan jumlah cairan ketuban.

Lalu, apakah obat nyeri tanpa resep tidak boleh digunakan sama sekali? Tentu bukan begitu. Obat nyeri tetap bermanfaat bila digunakan dengan tepat. Untuk keluhan ringan dan sementara, obat nyeri dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. Namun, penggunaannya harus mengikuti aturan pada kemasan, tidak melebihi dosis, dan tidak digunakan terus-menerus tanpa pemeriksaan.

Jika nyeri sering kambuh, semakin berat, atau tidak membaik setelah beberapa hari, sebaiknya jangan hanya mengandalkan obat pereda nyeri. Nyeri adalah tanda bahwa tubuh sedang mengalami sesuatu. Menutupi nyeri terus-menerus dengan obat tanpa mengetahui penyebabnya dapat membuat masalah utama terlambat ditangani.

Ilustrasi nyeri sendi. Bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Foto: siro46/Shutterstock

Dari sudut pandang farmasi, penggunaan obat yang rasional sangat penting. Obat harus digunakan sesuai indikasi, dosis, waktu, lama penggunaan, dan kondisi pasien. Obat yang sama belum tentu aman untuk semua orang. Apa yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untuk diri sendiri.

Jadi, sering minum obat nyeri tanpa resep dapat berdampak pada kesehatan ginjal—terutama bila dilakukan dalam jangka panjang, dosis berlebihan, atau pada orang dengan faktor risiko tertentu. Kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan lambung dan interaksi obat.

Langkah paling aman adalah membaca aturan pakai, menggunakan dosis terendah yang efektif dalam waktu sesingkat mungkin, menghindari penggunaan ganda obat sejenis, serta berkonsultasi dengan apoteker atau dokter bila nyeri sering muncul. Obat nyeri memang bisa membantu, tetapi penggunaannya tetap harus bijak agar tidak menjadi sumber masalah kesehatan baru.