Konten dari Pengguna

Tren Self-Diagnose di TikTok: Antara Kreativitas Konten dan Risiko Kesehatan

Yulius Evan Christian

Yulius Evan Christian

Dosen Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

TikTok telah menjelma menjadi sumber informasi bagi banyak orang—bukan hanya soal hiburan, tapi juga kesehatan. Di platform ini, kita bisa dengan mudah menemukan video-video yang menjelaskan gejala penyakit tertentu, mulai dari kecemasan, ADHD, gangguan tidur, PCOS, hingga asam lambung. Tak jarang, kontennya dikemas dengan gaya yang relatable dan dibumbui pengalaman pribadi, membuat penonton merasa: “Eh, kok aku banget ya?”

Fenomena ini dikenal dengan istilah self-diagnose, yaitu ketika seseorang merasa memahami kondisi kesehatannya sendiri hanya berdasarkan informasi dari media sosial—tanpa konsultasi dengan tenaga medis. Di TikTok, tren ini semakin ramai. Bahkan, tagar seperti #selfdiagnose, #mentalhealthcheck, atau #tiktokdiagnosis sempat viral dan dilihat jutaan kali.

Namun muncul pertanyaan penting: apakah tren ini membawa dampak positif, atau justru berbahaya?

Ilustrasi Dokter memberikan konsultasi, Sumber:IStockphoto/demaerre

Mengapa Self-Diagnose Mudah Terjadi di TikTok?

TikTok dirancang untuk membuat konten terasa dekat dan mudah dicerna. Dalam waktu kurang dari 1 menit, kita bisa melihat video yang menggambarkan 5 tanda kamu punya anxiety, atau 3 ciri ADHD pada orang dewasa. Gaya penyampaian yang santai, visual yang menarik, serta musik latar yang emosional—semua membuat informasi kesehatan terasa sangat personal dan mudah diterima.

Alasannya sederhana:

Gaya narasi personal lebih meyakinkan

Konten berbasis pengalaman pribadi membuat penonton merasa "terhubung". Penonton yang punya gejala mirip jadi merasa mendapatkan validasi.

Durasi pendek memaksa penyederhanaan

Penjelasan soal kesehatan jadi sangat ringkas, padahal sebenarnya topik seperti gangguan mental atau hormonal sangat kompleks.

Kecemasan pribadi membuat orang cepat percaya

Saat seseorang merasa tidak enak badan atau sedang emosional, mereka lebih mudah mengaitkan diri dengan informasi yang sedang mereka lihat.

Inilah yang membuat self-diagnose begitu mudah terjadi. Bahkan tanpa sadar, banyak orang merasa telah menemukan “jawaban” atas kondisi mereka hanya dari satu video viral.

Ilustrasi Dokter, Sumber:IStockphoto/Chinnapong

Apa Risikonya?

Self-diagnose bisa jadi langkah awal untuk lebih peduli terhadap diri sendiri. Namun, jika tidak dikonfirmasi oleh profesional, bisa menimbulkan banyak risiko. Beberapa di antaranya:

1. Menggunakan obat tanpa indikasi yang jelas

Orang yang merasa "pasti punya" suatu penyakit cenderung mencari solusi sendiri. Akibatnya, mereka bisa membeli obat yang tidak dibutuhkan, atau mencoba kombinasi suplemen dan herbal yang tidak aman.

2. Salah memahami kondisi tubuh sendiri

Misalnya, merasa mengalami ADHD karena mudah terdistraksi, padahal mungkin hanya kelelahan mental atau kurang tidur. Hal ini bisa mengaburkan penyebab sebenarnya dari masalah kesehatan.

3. Membuat diagnosis menjadi bias

Saat akhirnya berkonsultasi dengan dokter, pasien sudah “terbentuk” oleh keyakinan pribadi. Ini bisa membuat proses diagnosis lebih rumit karena persepsi pasien sudah terbentuk dari informasi tidak lengkap.

4. Mengabaikan gejala serius

Lebih berbahaya lagi, orang bisa mengira bahwa keluhan mereka “hanya” karena stres, padahal mungkin itu adalah gejala penyakit fisik serius yang butuh penanganan segera.

Self-Diagnose yang Paling Sering Muncul di TikTok

Beberapa kondisi yang sering jadi bahan konten viral dan berujung pada self-diagnose antara lain:

Anxiety / gangguan kecemasan

Depresi ringan

ADHD pada orang dewasa

OCD

PCOS dan ketidakseimbangan hormon

Gangguan tidur dan kelelahan kronis

Asam lambung (GERD)

Alergi makanan dan intoleransi laktosa

Sebagian konten memang dibuat oleh profesional medis, namun tidak sedikit yang hanya berdasarkan pengalaman pribadi atau kutipan tanpa sumber.

Bagaimana Menyikapi Tren Ini Secara Sehat?

TikTok dan media sosial bisa jadi sarana awal untuk mengenali gejala, tapi tidak boleh jadi tempat utama untuk diagnosis. Berikut ini beberapa langkah bijak menyikapi tren ini:

1. Gunakan konten sebagai pemicu kesadaran, bukan kesimpulan

Jika kamu merasa relate dengan konten, jadikan itu alasan untuk mencari tahu lebih lanjut—bukan langsung mengklaim bahwa kamu punya penyakit tersebut.

2. Cari informasi pendukung dari sumber terpercaya

Situs rumah sakit, organisasi kesehatan resmi, atau edukator medis bisa memberi penjelasan yang lebih lengkap dan netral.

3. Konsultasikan langsung ke tenaga kesehatan

Konsultasi tidak selalu berarti minum obat. Bisa jadi hanya klarifikasi, edukasi, atau saran gaya hidup. Tapi informasi dari dokter tentu lebih tepat dibanding dari video singkat.

4. Hati-hati membeli obat atau suplemen setelah melihat konten

Jangan terburu-buru membeli produk kesehatan hanya karena banyak yang pakai di TikTok. Baca dulu komposisinya, cek izin edarnya, dan pastikan cocok untuk kondisi tubuhmu.

5. Perkuat literasi digital dan kesehatan

Kunci utama adalah kemampuan untuk memilah mana konten yang edukatif, mana yang hanya sensasional.

Penutup: Pahami, Bukan Asal Percaya

Tren self-diagnose adalah bagian dari era informasi cepat. Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih peduli dengan kesehatan mental dan fisik. Namun di sisi lain, jika tidak disertai kehati-hatian, bisa menjadi bumerang.

Kita perlu lebih peka dalam menyerap informasi kesehatan, terlebih yang datang dari media sosial. Jangan sampai karena satu video pendek, kita membuat kesimpulan panjang yang berdampak besar pada tubuh dan pikiran kita.

Gunakan TikTok sebagai alat bantu awal untuk tahu lebih banyak—bukan sebagai “dokter pribadi” yang memberi diagnosis dalam 30 detik.