Quiet Quitting: 5 Tanda Kamu Mengalaminya, Cuma Lelah atau Butuh Resign?
Tulisan dari Yulia Reviani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa pekerjaan yang dulu dijalani dengan penuh semangat sekarang terasa hambar? Berangkat kerja, menyelesaikan tugas, menunggu jam pulang, lalu kembali mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Tidak ada lagi keinginan untuk mengambil tanggung jawab tambahan atau menawarkan ide baru. Semuanya terasa seperti kewajiban yang harus diselesaikan.
Situasi seperti ini mungkin pernah dialami oleh sebagian pekerja. Ada yang menganggapnya sebagai rasa bosan biasa, ada pula yang mulai mempertanyakan apakah pekerjaan yang dijalani masih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya. Dalam dunia kerja, kondisi tersebut sering dikaitkan dengan istilah quiet quitting.
Meski menggunakan kata quitting, istilah ini tidak selalu berarti seseorang benar-benar mengundurkan diri. Quiet quitting lebih merujuk pada sikap membatasi keterlibatan dalam pekerjaan sebatas tanggung jawab yang dimiliki, tanpa terus-menerus memberikan usaha ekstra di luar kewajibannya.
Fenomena ini menarik untuk dibahas karena bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi juga berkaitan dengan motivasi, lingkungan kerja, penghargaan, dan keseimbangan kehidupan pribadi. Ketika pekerjaan mulai terasa melelahkan secara fisik maupun mental, seseorang mungkin perlu mengevaluasi kembali hubungannya dengan pekerjaan tersebut.
Laporan State of the Global Workplace 2026 yang diterbitkan Gallup mencatat bahwa tingkat keterlibatan karyawan di Indonesia pada 2025 sebesar 27%. Sebanyak 68% masuk kategori not engaged, sedangkan 5% masuk kategori actively disengaged. Angka tersebut merupakan rata-rata bergerak tiga tahunan yang berakhir pada 2025.
Data ini tidak bisa langsung diartikan sebagai bukti bahwa sebagian besar pekerja Indonesia mengalami quiet quitting. Namun, tingkat keterlibatan karyawan dapat menjadi salah satu konteks untuk memahami pentingnya membicarakan hubungan pekerja dengan pekerjaan mereka.
Lalu, bagaimana cara mengenali quiet quitting? Apakah perubahan sikap terhadap pekerjaan berarti seseorang sudah tidak memiliki motivasi, atau justru sedang berusaha menjaga batasan dirinya?
Lima Tanda Quiet Quitting yang Perlu Dikenali
1. Mulai Membatasi Pekerjaan Setelah Jam Kantor
Salah satu perubahan yang mungkin terlihat adalah keinginan untuk memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi secara lebih tegas.
Jika sebelumnya seseorang terbiasa membalas pesan kantor pada malam hari atau tetap memikirkan pekerjaan saat akhir pekan, sekarang ia mulai berhenti melakukan kebiasaan tersebut. Ketika jam kerja selesai, perhatian kembali diarahkan pada kehidupan pribadi.
Namun, menetapkan batasan seperti ini tidak selalu berarti quiet quitting. Justru, membatasi pekerjaan di luar jam kerja dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup.
Hal yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik perubahan tersebut. Apakah seseorang sedang membangun kebiasaan kerja yang lebih sehat, atau mulai kehilangan minat dan kepedulian terhadap pekerjaannya?
Keduanya tidak selalu sama. Karena itu, batasan kerja sebaiknya tidak langsung dipandang sebagai tanda kemalasan atau kurangnya profesionalisme.
2. Tidak Lagi Antusias Mengikuti Rapat
Perubahan berikutnya dapat terlihat ketika seseorang mulai kehilangan antusiasme saat rapat. Jika sebelumnya aktif menyampaikan ide, memberikan masukan, atau menawarkan diri untuk membantu proyek baru, sekarang ia lebih memilih diam dan berbicara hanya ketika diperlukan.
Perubahan ini bisa dipengaruhi oleh berbagai hal. Misalnya, merasa pendapatnya tidak didengarkan, kurang mendapatkan apresiasi, atau tidak melihat kesempatan untuk berkembang di lingkungan kerja.
Ketika usaha yang diberikan terasa tidak membawa perubahan, seseorang mungkin mulai mengurangi keterlibatannya. Ia tetap menjalankan tugas, tetapi tidak lagi memiliki dorongan untuk melakukan lebih dari yang diminta.
Meski demikian, sikap pendiam saat rapat tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami quiet quitting. Perlu dilihat pula apakah perubahan tersebut berlangsung terus-menerus dan disertai penurunan minat terhadap pekerjaan secara keseluruhan.
3. Mulai Menarik Diri dari Lingkungan Kerja
Pernah merasa tidak tertarik lagi untuk mengobrol dengan rekan kerja saat istirahat atau mengikuti kegiatan bersama setelah jam kantor?
Bagi sebagian pekerja, berkurangnya interaksi sosial bisa menjadi bagian dari perubahan hubungan mereka dengan lingkungan kerja. Mereka tetap hadir dan menyelesaikan tugas, tetapi tidak lagi merasa ingin terlibat lebih jauh dalam kegiatan di kantor.
Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kelelahan, konflik dengan rekan kerja, hingga suasana kerja yang dirasa kurang nyaman.
Namun, tidak semua orang yang jarang mengikuti kegiatan kantor mengalami quiet quitting. Ada pula pekerja yang memang lebih nyaman menjaga kehidupan pribadi dan profesional secara terpisah.
Karena itu, perubahan dari kebiasaan sebelumnya lebih penting untuk diperhatikan. Jika seseorang yang biasanya menikmati interaksi bersama rekan kerja tiba-tiba kehilangan minat, ada baiknya ia mencari tahu apa yang menyebabkan perubahan tersebut.
4. Bekerja dengan Prinsip yang Penting Selesai
Tanda lain yang sering dikaitkan dengan quiet quitting adalah perubahan cara seseorang memandang pekerjaannya.
Jika sebelumnya ia berusaha memberikan hasil terbaik, mencari cara untuk meningkatkan kualitas pekerjaan, dan bersedia mengambil inisiatif, sekarang ia lebih memilih menyelesaikan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan.
Dari luar, perubahan ini mungkin terlihat seperti penurunan semangat kerja. Padahal, bekerja sesuai kesepakatan bukan berarti seseorang tidak profesional.
Persoalan yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai kehilangan minat untuk belajar, tidak lagi peduli terhadap perkembangan pekerjaannya, atau merasa bahwa kontribusinya tidak memiliki arti.
Dalam situasi seperti ini, penting untuk melihat faktor yang memengaruhi motivasi. Apakah beban pekerjaan terlalu tinggi? Apakah kontribusi yang diberikan mendapat apresiasi yang layak? Atau kesempatan untuk berkembang justru terasa semakin terbatas?
Pertanyaan tersebut membantu kita melihat bahwa hubungan seseorang dengan pekerjaannya tidak hanya dipengaruhi oleh kemauan pribadi, tetapi juga oleh lingkungan tempat ia bekerja.
5. Hari Senin Terasa Semakin Berat
Rasa malas menghadapi hari Senin merupakan hal yang cukup umum. Setelah akhir pekan, seseorang mungkin membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri dengan rutinitas pekerjaan.
Namun, situasinya perlu diperhatikan jika perasaan berat tersebut terus berulang, muncul bahkan sebelum minggu kerja dimulai, dan disertai kecemasan ketika memikirkan pekerjaan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan bahwa burnout merupakan fenomena pekerjaan yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Kondisi ini memiliki tiga karakteristik utama, yaitu kehabisan energi, meningkatnya jarak mental atau sikap negatif terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional.
Meskipun demikian, merasa berat menghadapi hari Senin saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami burnout. Perasaan tersebut bisa menjadi alasan untuk mengevaluasi beban kerja, pola istirahat, dan kondisi lingkungan kerja.
Jika rasa lelah berlangsung berkepanjangan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan.
Quiet Quitting Bukan Berarti Selalu Ingin Resign
Kelima tanda tersebut tidak dapat digunakan sebagai patokan mutlak untuk menentukan apakah seseorang mengalami quiet quitting. Perubahan perilaku yang sama bisa memiliki penyebab berbeda pada setiap orang.
Seseorang yang berhenti membalas pesan kantor setelah jam kerja mungkin sedang berusaha membangun batasan yang sehat. Sementara itu, seseorang yang kehilangan antusiasme, menarik diri dari lingkungan kerja, dan merasa tertekan setiap kali memikirkan pekerjaannya mungkin perlu mengevaluasi kondisi yang sedang dihadapi.
Quiet quitting juga perlu dibedakan dari burnout. Quiet quitting lebih berkaitan dengan pembatasan keterlibatan dalam pekerjaan, sedangkan burnout berhubungan dengan dampak stres kronis yang tidak berhasil dikelola.
Keduanya bisa saling berkaitan, tetapi tidak selalu terjadi bersamaan. Oleh sebab itu, penting untuk memahami penyebab perubahan sikap sebelum mengambil keputusan besar mengenai karier.
Bertahan, Memperbaiki Situasi, atau Mulai Mencari Pekerjaan Baru?
Ketika pekerjaan mulai terasa hambar, keputusan untuk bertahan atau resign sebaiknya tidak diambil hanya berdasarkan satu atau dua hari yang melelahkan.
Langkah pertama adalah mengevaluasi sumber masalah. Cobalah melihat apakah kelelahan muncul karena beban kerja yang berlebihan, kurangnya apresiasi, hubungan dengan atasan, atau hilangnya kesempatan untuk berkembang.
Jika masalah masih memungkinkan untuk diperbaiki, komunikasi dengan atasan dapat menjadi salah satu pilihan. Sampaikan kebutuhan secara jelas, misalnya mengenai pembagian tugas, batasan waktu kerja, atau kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru.
Selain itu, berikan ruang untuk beristirahat dan menjaga kehidupan di luar pekerjaan. Memiliki waktu untuk keluarga, teman, dan diri sendiri bukan berarti seseorang kehilangan ambisi. Sebaliknya, keseimbangan tersebut dapat membantu seseorang menilai kembali prioritas dan kebutuhan kariernya.
Namun, jika situasi kerja terus berdampak buruk pada kesejahteraan dan tidak menunjukkan perubahan meskipun berbagai upaya sudah dilakukan, mempertimbangkan pekerjaan lain juga merupakan pilihan yang wajar.
Sebelum memutuskan resign, pertimbangkan kondisi keuangan, peluang kerja yang tersedia, serta rencana setelah meninggalkan pekerjaan. Keputusan yang matang akan membantu mengurangi risiko yang mungkin muncul selama masa transisi karier.
Menjaga Batasan Kerja Juga Bagian dari Perjalanan Karier
Quiet quitting mengingatkan kita bahwa hubungan seseorang dengan pekerjaan tidak selalu berjalan dalam kondisi yang sama. Ada masa ketika pekerjaan terasa menyenangkan dan penuh tantangan, tetapi ada pula masa ketika motivasi menurun dan seseorang perlu mengevaluasi kembali arah kariernya.
Bekerja sesuai tanggung jawab bukanlah sesuatu yang salah. Seseorang tidak harus selalu mengorbankan waktu pribadi untuk membuktikan bahwa dirinya profesional. Namun, ketika pekerjaan mulai kehilangan makna dan kelelahan terus berulang, kondisi tersebut juga tidak sebaiknya diabaikan.
Daripada langsung menyalahkan diri sendiri karena merasa kurang bersemangat, cobalah memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bisa jadi kamu membutuhkan istirahat, komunikasi yang lebih baik di lingkungan kerja, atau kesempatan baru untuk berkembang.
Pada akhirnya, keputusan untuk bertahan atau resign tidak memiliki jawaban yang sama bagi setiap orang. Yang terpenting adalah memahami alasan di balik keputusan tersebut dan mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan pribadi maupun masa depan karier.
Sebab, karier yang baik bukan hanya tentang seberapa lama seseorang mampu bertahan dalam pekerjaan, tetapi juga tentang bagaimana ia dapat terus berkembang tanpa mengabaikan kesejahteraan dirinya sendiri.

