AI Tidak Akan Menggantikan Wartawan, Tetapi Mengubah Otonominya

Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Yunaldi Libra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa diskusi mengenai Artificial Intelligence dikalangan wartawan, selalu saja muncul pertanyaan, apakah suatu hari wartawan tidak lagi dibutuhkan karena sebagian pekerjaan jurnalistik dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan? Pertanyaan itu terdengar masuk akal ketika ChatGPT mulai digunakan di ruang redaksi. Generative AI seperti Chat GPT kini dapat membantu merumuskan kalimat, membuat ringkasan, mencari alternatif judul, hingga membantu mengemas sebuah berita agar lebih mudah ditemukan di platform digital.
Tapi, setelah melihat penggunaannya dari dekat, saya justru menemukan persoalan yang berbeda. AI tidak serta-merta menggantikan wartawan. Ia hanya mengubah cara wartawan menggunakan otonominya. Perubahan itu tidak berlangsung melalui sebuah peristiwa besar. Tidak akan pernah ada ruang redaksi tiba-tiba dipenuhi mesin, dan wartawan kehilangan pekerjaannya.
AI masuk melalui pekerjaan printilan kecil seperti pembuatan judul dan deskripsi. Seorang produser konten berita dapat meminta ChatGPT menawarkan beberapa alternatif judul. Dari pilihan tersebut, tidak semuanya digunakan. Ada yang dipilih, ada yang digabungkan, ada yang diperbaiki, dan ada pula yang ditolak.
Dalam penelitian saya di Divisi Digital salah satu TV Nasional mengenai penggunaan ChatGPT dalam produksi konten berita pola seperti itu terlihat cukup jelas. Produser yang ditarget 20 konten berita perhari tetap menentukan fondasi berita, kemudian menggunakan AI untuk membantu menghasilkan variasi judul dan deskripsi. Hasilnya kembali diperiksa dan disesuaikan dengan kebutuhan editorial. Pada titik inilah batas antara pekerjaan manusia dan mesin mulai menjadi menarik.
AI Tidak Mengambil Alih, Tetapi Membagi Pekerjaan
Selama ini perdebatan tentang kecerdasan buatan dalam jurnalistik sering kali diletakkan dalam kerangka sederhana, apakah AI akan menggantikan wartawan?. Menurut saya, pertanyaan tersebut terlalu jauh. Pertanyaan yang lebih dekat dengan kenyataan di ruang redaksi adalah, Pekerjaan apa yang mulai dipercayakan kepada mesin, dan pekerjaan apa yang tetap dipertahankan manusia?
Dalam praktik yang saya teliti, AI digunakan terutama pada pekerjaan yang bersifat pengemasan. Produser dapat meminta alternatif judul, deskripsi, atau kata-kata yang lebih sesuai dengan kebutuhan SEO. Namun, keputusan akhir tetap berada pada manusia, dalam hal ini adalah produser. Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa otonomi wartawan tidak hilang sepenuhnya. Tetapi ia juga sudah tidak lagi persis sama.
Wartawan mulai bekerja bersama mesin. Sebagian pekerjaan didelegasikan agar proses produksi menjadi lebih cepat, sementara keputusan yang dianggap penting tetap dipertahankan di tangan manusia. Saya melihatnya sebagai negosiasi otonomi.Wartawan tidak menolak teknologi. Tetapi wartawan juga tidak menyerahkan keputusan jurnalistik sepenuhnya kepada teknologi.
Ketika Mesin Terlalu Pintar Untuk Dipercaya Begitu Saja
Ada alasan mengapa keputusan akhir tetap penting. Dalam penelitian saya, produser menemukan bahwa hasil AI tidak selalu sesuai dengan konteks peristiwa. Misalnya ketika AI diminta menghasilkan judul yang lebih bombastis. AI dapat menghasilkan pilihan yang terasa terlalu dramatis untuk sebuah peristiwa yang sebenarnya bersifat seremonial. Hasil tersebut kemudian harus dikoreksi dan diarahkan kembali agar sesuai dengan fakta, konteks dan visual berita.
Persoalannya bukan hanya apakah AI bisa menulis kalimat dengan baik. Persoalannya adalah apakah kalimat tersebut tepat untuk peristiwa yang sedang diberitakan. Pada titik inilah pengalaman dan penilaian jurnalistik masih mempunyai tempat yang penting. Mesin dapat menawarkan pilihan. Tetapi wartawan harus memahami mengapa sebuah pilihan tepat dan pilihan lain harus ditolak.
Pada praktiknya ChatGPT kadang memberikan jawaban yang terlalu kaku, terlalu bombastis atau tidak sesuai konteks. Sehingga produser harus mengedit kembali jawaban hasil ChatGPT, bahkan sampai menggabungkan beberapa alternatif judul untuk menghasilkan satu judul akhir. Dengan kata lain, AI menawarkan tapi tetap Wartawan lah yang menilai dan memutuskan.
Ketika Judul Bertemu Algoritma
Persoalannya menjadi rumit ketika berita masuk ke platform digital.Berita yang tayang di platform digital seperti youtube tidak hanya berhadapan dengan pembaca. Konten berita juga berhadapan dengan algoritma. Dalam penelitian saya, produksi konten harus pertimbangan SEO. Selain itu, performa youtube juga ikut memengaruhi cara judul dikemas. Data seperti click-through rate dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk mengevaluasi dan bahkan mengubah judul setelah konten dipublikasikan.
Kondisi ini mengakibatkan judul berada diantara beberapa kepentingan sekaligus. Judul harus sesuai fakta, menarik perhatian dan juga dapat bekerja dalam lingkungan platform. Namun ketiganya tidak selalu berjalan searah. Judul yang paling menarik belum tentu paling tepat. Judul yang paling sesuai dengan fakta belum tentu menjadi judul dengan performa terbaik. Pada kondisi inilah wartawan dalam hal ini produser konten kembali berhadapan dengan pilihan. Mana yang harus dipilih, apakah mengoptimalkan berita untuk publik atau berita untuk algoritma?. Pertanyaan tersebut semakin penting ketika AI digunakan untuk membantu menghasilkan pilihan judul. Sebab mesin dapat dengan cepat memberikan banyak alternatif, tetapi keputusan mengenai alternatif mana yang layak digunakan tetap membawa konsekuensi jurnalistik
Kecepatan Tidak Boleh Menghapus Tanggung Jawab
AI memang memberikan keuntungan bagi ruang redaksi. Ai bisa menghasilkan berbagai alternatif jawaban dengan cepat saat tuntutan produksi tinggi. Kemampuan AI ini tentunya dapat membantu produser menghemat waktu. Tetapi alasan efisiensi tidak berarti memindahkan tanggung jawab editorial kepada mesin. Dalam penelitian saya terdapat mekanisme pemeriksaan berjenjang terhadap hasil produksi. Draf yang dibuat produser dengan bantuan AI, diperiksa kembali melalui mekanisme newsroom digital. Jika judul dianggap terlalu keras, menyerang personal atau berpotensi menimbulkan persoalan, ia masih dapat dikoreksi sebelum menjadi konsumsi publik.
Mekanisme tersebut menunjukkan bahwa teknologi boleh mempercepat produksi, tetapi tanggung jawab tetap membutuhkan manusia.Karena ketika sebuah judul ternyata salah, publik tidak akan meminta pertanggungjawaban kepada algoritma. Publik akan melihat media yang menerbitkannya.
Masa Depan Wartawan Bukan Bebas Dari AI
Setelelah menyelesaikan Tesis saya tentang Negosiasi Otonomi Dalam Jurnalisme Platform ini, saya tidak melihat masa depan jurnalistik sebagai pertarungan antara wartawan dan AI. Yang terlihat justru ruang redaksi akan semakin dipenuhi kerja sama manusia dan mesin. Persoalannya bukan lagi tentang apakah wartawan boleh menggunakan AI. Persoalannya adalah seberapa jauh wartawan bersedia menyerahkan keputusan kepada AI.
Wartawan yang akan bertahan adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi, dan paham tentang batas penggunaannya.Wartawan harus mampu mengatakan “Gunakan hasil ini”. Namun, wartawan juga harus mampu mengatakan “Yang ini jangan digunakan”. Kemampuan untuk menolak justru lebih penting. Karena ketika mesin semakin mudah menghasilkan berbagai pilihan, nilai seorang wartawan tidak lagi terletak pada kemampuannya menghasilkan kalimat secepat mesin. Namun nilai seorang wartawan akan ditentukan pada kemampuannya dalam menilai, memverifikasi dan mempertanggungjawabkan pilihan tersebut kepada publik.
Wartawan boleh dibantu oleh AI untuk bekerja lebih cepat. Wartawan boleh dibantu AI untuk mencari judul dan melakukan pekerjaan berulang. Namun wartawanlah yang harus memutuskan fakta apa yang layak diberitakan, bagaimana fakta tersebut harus ditempatkan dalam konteks, dan apakah sebuah judul benar-benar mewakili peristiwa tetap membutuhkan manusia.
Jadi, pertanyaan tentang masa depan jurnalistik seharusnya bukan lagi soal “Apakah AI akan menggantikan wartawan?”. Namun yang paling penting adalah “Apakah wartawan masih mampu menentukan batas ketika bekerja bersama AI?”. Karena AI mungkin dapat membantu membuat berita lebih cepat. Tapi manusialah yang akan bertanggung jawab atas berita yang ditayangkan.
