Bansos Digital 50 Juta Orang, Antara Efisiensi Birokrasi dan Kesiapan Warga

Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta, pemerhati sejarah, komunikasi publik, media, dan perkembangan sosial politik Indonesia.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Yunaldi Libra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemerintah Indonesia menyiapkan perubahan besar dalam mekanisme penyaluran bantuan sosial. 50 juta masyarakat kelompok desil bawah direncanakan menerima bantuan melalui rekening bank. Ujicoba metode ini akan dilakukan mulai awal 2027. Kebijakan baru penyaluran bantuan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun sistem bansos yang lebih akurat, transparan, dan mengurangi kesalahan sasaran penerima.
Digitalisasi bansos merupakan sebuah langkah maju yang dilakukan oleh pemerintah secara administratif. Penggunaan rekening bank memungkinkan proses penyaluran bantuan lebih mudah dilacak. Selain itu, metode digital ini juga mengurangi potensi penyimpangan, sekaligus memperbaiki persoalan data penerima. Namun, dalam perspektif ilmu komunikasi keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih sistem yang dibangun, tetapi juga bagaimana masyarakat menerima dan mengadopsi perubahan tersebut.
Teori Difusi Inovasi yang dikenalkan oleh Everett M. Rogers bisa menjelaskan fenomena bansos digital ini. Menurut Rogers, difusi inovasi adalah proses ketika sebuah inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam periode waktu tertentu kepada anggota sebuah sistem sosial. Rogers menjelaskan bahwa difusi bukan sekadar penyebaran teknologi atau gagasan baru, tetapi sebuah proses komunikasi sosial yang melibatkan bagaimana individu memahami, menerima, atau menolak sebuah inovasi.
Bansos digital bukan sekadar membuat rekening bank baru. Bansos digital merupakan perubahan cara masyarakat menerima bantuan pemerintah, dari sistem lama yang sudah terbiasa digunakan menuju sistem digital yang mengharuskan masyarakat memahami layanan keuangan.
Jadi persoalannya bukan sekadar apakah pemerintah bisa membuat rekening bansos digital. Tantangan sebenarnya adalah apakah masyarakat penerima mampu beradaptasi dengan perubahan cara menerima bantuan tersebut.
Bansos Digital dan Lima Faktor Penerimaan Inovasi
Rogers menjelaskan bahwa cepat atau lambatnya sebuah inovasi diterima masyarakat dipengaruhi oleh lima karakteristik utama, yaitu relative advantage, compatibility, complexity, trialability, dan observability.
Faktor pertama adalah keuntungan relatif. Sebuah inovasi akan lebih mudah diterima apabila masyarakat merasa inovasi tersebut memberikan manfaat dibandingkan cara sebelumnya. Rogers menegaskan bahwa keuntungan relatif bukan hanya persoalan manfaat objektif, tetapi bagaimana masyarakat mempersepsikan manfaat tersebut. Semakin besar keuntungan yang dirasakan pengguna, semakin cepat inovasi diterima.
Dalam kasus bansos digital, pemerintah melihat banyak keuntungan. Bantuan melalui rekening dapat membuat distribusi lebih cepat, transparan, dan lebih mudah diawasi.Namun persepsi penerima bansos bisa saja berbeda. Bagi sebagian masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan layanan perbankan, rekening mungkin menjadi solusi. Tetapi bagi sebagian kelompok masyarakat yang belum pernah menggunakan layanan bank, perubahan ini bisa dianggap sebagai persoalan baru.
Meski terlihat sederhana, sistem baru ini tidak selalu mudah bagi semua masyarakat. Ada berbagai kendala yang mungkin muncul, seperti kartu hilang, lupa PIN, rekening tidak aktif, hingga kesulitan memahami cara mengambil bantuan. Artinya, keberhasilan inovasi ini tidak hanya bergantung pada sistem yang dibuat pemerintah, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dalam menggunakannya.
Kesesuaian dengan Kehidupan Masyarakat
Faktor kedua dalam teori Rogers adalah compatibility, yaitu sejauh mana sebuah inovasi dianggap sesuai dengan nilai, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan pengguna. Faktor ini menjadi tantangan terbesar bansos digital.
Masyarakat penerima bansos bukan kelompok yang seragam. Ada yang tinggal di kota dengan akses layanan digital yang baik, tetapi ada pula masyarakat di daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses perbankan dan literasi digital.
Jika pemerintah hanya melihat bansos digital dari perspektif efisiensi birokrasi, maka ada risiko muncul jarak antara sistem yang dibuat negara dengan kemampuan masyarakat menggunakannya.
Rogers menjelaskan bahwa inovasi dapat gagal bukan karena inovasi tersebut tidak memiliki manfaat, tetapi karena tidak sesuai dengan nilai, pengalaman, dan kondisi sosial pengguna. Dalam kajian difusi inovasi, keberhasilan perubahan sangat bergantung pada bagaimana inovasi tersebut diterima dalam sistem sosial yang ada. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah, karena digitalisasi bansos harus dipahami bukan hanya sebagai proyek teknologi, tetapi sebagai proses perubahan perilaku masyarakat.
Teknologi Tidak Boleh Lebih Rumit daripada Masalah yang Ingin Diselesaikan
Faktor ketiga adalah complexity atau tingkat kerumitan. Menurut Rogers, inovasi yang dianggap sulit dipahami dan digunakan akan lebih lambat diterima dibandingkan inovasi yang sederhana.
Dalam konteks bansos, pemerintah perlu memastikan bahwa rekening tidak akan menjadi hambatan baru. Sebab bagi sebagian penerima, persoalannya bukan hanya apakah bantuan masuk, tetapi apakah mereka mampu mengakses bantuan tersebut.
Sosialisasi tidak cukup hanya memberi tahu bahwa mulai 2027 bansos akan masuk ke rekening. Masyarakat juga perlu mendapat penjelasan yang mudah dipahami, seperti bagaimana cara menggunakan rekening, apa yang harus dilakukan jika mengalami kendala, dan kemana harus meminta bantuan ketika tidak memahami proses transaksi. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya tahu adanya perubahan, tetapi juga siap menjalankan sistem baru tersebut.
Komunikasi menjadi faktor utama karena difusi inovasi pada dasarnya adalah proses pertukaran informasi untuk mengurangi ketidakpastian masyarakat terhadap inovasi baru. Rogers menjelaskan bahwa individu membutuhkan informasi untuk mengurangi ketidakpastian sebelum memutuskan menerima atau menolak sebuah inovasi.
Uji Coba Harus Menjadi Proses Belajar, Bukan Sekadar Pengujian Sistem
Rencana uji coba bansos digital pada awal 2027 sebenarnya merupakan langkah yang sesuai dengan konsep trialability dalam teori Rogers. Trialability adalah sejauh mana sebuah inovasi dapat dicoba dalam skala terbatas sebelum diterapkan secara penuh. Rogers menjelaskan bahwa inovasi yang dapat diuji lebih dahulu cenderung lebih cepat diterima karena masyarakat dapat belajar melalui pengalaman langsung.
Uji coba bansos digital tidak cukup hanya memastikan teknologi berjalan dengan baik. Pemerintah juga perlu melihat apakah masyarakat sudah siap menggunakannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah kelompok masyarakat yang masih kesulitan memakai rekening. Selain itu juga ada daerah yang membutuhkan pendampingan, dan informasi yang belum dipahami oleh penerima bantuan. Sebuah inovasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dalam menerima dan menggunakannya.
Peran Pendamping Sosial dan Tokoh Lokal
Dalam teori Difusi Inovasi, masyarakat tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan informasi resmi pemerintah. Rogers menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal memiliki peran besar dalam proses adopsi inovasi karena masyarakat sering menilai inovasi berdasarkan pengalaman orang-orang terdekat yang sudah menggunakannya.
Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan media massa untuk menyampaikan informasi tentang bansos digital. Masyarakat juga perlu mendapatkan penjelasan langsung melalui pendamping sosial, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta penerima bantuan yang sudah lebih memahami sistem ini. Mereka dapat membantu menjelaskan, menjawab pertanyaan, dan mendampingi masyarakat agar lebih mudah beradaptasi dengan perubahan cara menerima bantuan.
Keberhasilan Bansos Digital Ditentukan oleh Manusia
Digitalisasi bansos merupakan langkah penting dalam memperbaiki tata kelola bantuan sosial. Tapi keberhasilan bansos digital tidak boleh diukur dari kecanggihan sistem dan jumlah rekening yang berhasil dibuat.
Dalam perspektif Teori Difusi Inovasi Everett M. Rogers, sebuah inovasi akan berhasil apabila masyarakat memahami, menerima, dan mampu menggunakan perubahan tersebut.Pemerintah bukan hanya sedang mengubah cara mengirim bantuan.Pemerintah sedang mengubah cara negara berkomunikasi dengan masyarakat miskin.
Untuk itulah tantangan terbesar bansos digital bukan sekadar membuat 50 juta rekening baru. Tantangan sebenarnya adalah memastikan 50 juta masyarakat tersebut tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga menjadi pengguna yang memahami inovasi baru tersebut.
Sebab teknologi terbaik bukanlah teknologi yang paling canggih. Teknologi terbaik adalah teknologi yang mampu dipahami dan digunakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
