MRT Jakarta dan Ingatan Kota, Ketika Modernisasi Bertemu Sejarah

Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta, pemerhati sejarah, komunikasi publik, media, dan perkembangan sosial politik Indonesia.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yunaldi Libra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

MRT Jakarta dan Perjalanan Panjang Kota yang Berubah
MRT Jakarta menghadirkan wajah baru transportasi modern di ibu kota. Namun, di balik pembangunan infrastruktur modern tersebut, Jakarta justru menemukan kembali jejak masa lalunya. Temuan benda-benda bersejarah dalam proyek MRT menunjukkan bahwa sebuah kota tidak pernah benar-benar kosong. Jejak kehidupan masyarakat dimasa lalu tersimpan di bawah jalan, gedung, dan ruang publik yang kita lihat hari ini.
Temuan tersebut bukan hanya soal benda bersejarah yang muncul dari dalam tanah. Benda itu adalah pengingat bahwa Jakarta memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi kota besar seperti sekarang. Pertanyaannya kemudian bukan lagi hanya bagaimana Jakarta membangun masa depan, tetapi juga bagaimana Jakarta menjaga ingatan tentang masa lalunya.
Benda Sejarah Bukan Sekadar Barang Lama
Menurut Maurice Halbwachs dalam teori memori kolektif, manusia tidak mengingat masa lalu hanya berdasarkan ingatan pribadi. Ingatan seseorang terbentuk melalui hubungan dengan orang lain, lingkungan, dan masyarakat tempat dia hidup. Halbwachs menjelaskan, masyarakat membantu seseorang menyimpan, mengingat kembali, dan memahami berbagai pengalaman yang pernah terjadi di masa lalu. Karena itu, sebuah benda bersejarah tidak hanya memiliki nilai karena usianya. Nilainya muncul karena masyarakat memberikan makna terhadap benda tersebut.
Seperti halnya sebuah rel trem lama. Rel trem lama bukan hanya potongan besi yang sudah tidak digunakan. Ia merupakan simbol perjalanan sebuah kota. Simbol bagaimana masyarakat bergerak, bagaimana teknologi berkembang, dan bagaimana wajah Jakarta berubah dari masa ke masa. Ketika benda sejarah hilang, yang hilang bukan hanya bentuk fisiknya. Yang ikut hilang adalah cerita yang melekat di dalamnya.
Pembangunan Kota Tidak Boleh Menghapus Ingatan
Bagaimanapun pembangunan adalah kebutuhan sebuah kota. Jakarta membutuhkan transportasi modern dan infrastruktur yang mampu menjawab persoalan mobilitas masyarakat. Tapi pembangunan tidak seharusnya membuat kota kehilangan hubungan dengan sejarahnya.
Sering kali pembangunan melihat ruang hanya berdasarkan fungsi hari ini. Tanah dianggap sebagai tempat membangun, bangunan dianggap sebagai objek fisik, dan ruang dinilai dari manfaat ekonominya.
Sementara itu sejarah melihat ruang dengan cara berbeda. Sebuah tempat bukan hanya lokasi. Tempat adalah ruang yang menyimpan pengalaman manusia. Halbwachs menjelaskan bahwa masa lalu tidak hanya disimpan, tetapi terus dibangun kembali berdasarkan kondisi masyarakat pada masa kini. Ingatan kolektif bekerja melalui kerangka sosial yang membantu masyarakat memahami kembali masa lalu sesuai dengan kebutuhan zamannya.
Jadi, cara Jakarta memperlakukan temuan sejarah hari ini akan menentukan bagaimana generasi berikutnya mengenal kota mereka.
Jakarta Harus Menentukan Apa yang Ingin Diingat
Setiap kota memiliki pilihan tentang apa yang ingin dipertahankan dan apa yang akhirnya dilupakan. Jakarta harus menentukan, apakah sejarah hanya dianggap penting ketika berada di museum? Atau sejarah juga harus hadir dalam ruang kehidupan sehari-hari? inilah tantangannya. Kota ini tidak hanya membutuhkan gedung tinggi dan transportasi modern. Jakarta juga membutuhkan identitas.
Halbwachs menjelaskan bahwa ingatan individu selalu berkaitan dengan kelompok sosial. Seseorang mengingat dengan menempatkan dirinya dalam perspektif kelompoknya. Dalam konteks kota, masyarakat mengenali dirinya melalui berbagai simbol yang diwariskan dari masa lalu. Ketika sebuah kota kehilangan simbol sejarahnya, masyarakat perlahan kehilangan salah satu cara untuk memahami perjalanan dirinya sendiri.
MRT Jakarta Bisa Menjadi Jembatan Masa Lalu dan Masa Depan
Temuan benda bersejarah dalam proyek MRT seharusnya tidak dilihat sebagai penghambat pembangunan. Hal ini justru merupakan kesempatan untuk membuat pembangunan menjadi lebih bermakna.
MRT tidak hanya dapat menjadi alat transportasi, tetapi juga ruang edukasi sejarah. Benda-benda yang ditemukan dapat menjadi bagian dari cerita publik melalui museum, ruang pamer, informasi digital, atau narasi sejarah yang terhubung dengan perjalanan masyarakat menggunakan MRT.
Dengan cara itu masyarakat tidak hanya berpindah tempat, tetapi juga memahami tempat yang mereka lalui. Sebuah kota menjadi lebih hidup ketika masyarakat mengetahui cerita di balik ruang yang mereka tempati.
Kota Modern adalah Kota yang Tidak Melupakan Masa Lalunya
Menjadi kota modern bukan berarti harus memutus hubungan dengan masa lalu. Kemajuan dan sejarah bukan dua hal yang saling bertentangan. Justru kota yang besar adalah kota yang mampu membawa masa lalunya berjalan bersama masa depan.
MRT Jakarta menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus berhadapan dengan sejarah. Keduanya dapat berjalan bersama jika ada kemauan untuk melihat bahwa sebuah kota bukan hanya kumpulan beton, jalan, dan teknologi.
Jakarta membutuhkan MRT untuk bergerak lebih cepat. Namun, Jakarta juga membutuhkan sejarah agar masyarakat memahami perjalanan panjang yang membentuk kota ini. Sebab, kota yang kehilangan ingatan mungkin tetap berdiri secara fisik, tetapi kehilangan cerita yang membuatnya memiliki makna.
#MRTJakarta #TransportasiJakarta #JakartaModern #SejarahJakarta #JakartaTerkini #JakartaHariIni #DKIJakarta #IbuKotaIndonesia #TransportasiPublik #PembangunanJakarta #WajahBaruJakarta #JakartaTempoDulu #CeritaJakarta #JejakSejarahJakarta #UrbanJakarta #InfoJakarta #BeritaJakarta #iNews #iNewsid #BeritaTerkini #Indonesia
