Konten dari Pengguna

Public Speaking di Era Deepfake: Bisakah Kita Mempercayai Apa yang Kita Dengar?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuni Sumarni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi deepfake yang menimbulkan tantangan baru bagi komunikasi publik di era kecerdasan buatan: Foto:  Markus Winkler/Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi deepfake yang menimbulkan tantangan baru bagi komunikasi publik di era kecerdasan buatan: Foto: Markus Winkler/Pexels

Kemampuan public speaking kini menghadapi tantangan baru di era digital. Bayangkan suatu hari kita melihat sebuah video deepfake yang menampilkan seorang tokoh sedang berbicara. Wajahnya terlihat nyata, suaranya terdengar familiar, dan kalimat yang disampaikan pun begitu meyakinkan.

Kita percaya.

Beberapa saat kemudian, terungkap bahwa orang tersebut ternyata tidak pernah mengatakan apa pun.

Tanpa disadari, kita sedang berhadapan dengan fenomena rekayasa kecerdasan buatan, ketika sesuatu yang terdengar meyakinkan belum tentu benar-benar pernah diucapkan.

Situasi semacam ini bukan lagi sekadar gambaran fiksi. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat wajah, suara, hingga gerakan seseorang semakin mudah ditiru melalui teknologi deepfake.

Selama ini, keberhasilan public speaking tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam menyampaikan pesan, tetapi juga oleh kepercayaan audiens terhadap pembicara.

Namun, ketika wajah dan suara seseorang dapat ditiru, muncul persoalan yang lebih mendasar. Apakah orang yang kita lihat dan dengar benar-benar pernah mengatakan hal tersebut?

Masalahnya bukan hanya informasi palsu dapat dibuat terlihat nyata. Yang lebih mengkhawatirkan, masyarakat juga dapat mulai meragukan informasi yang sebenarnya benar.

Di titik inilah deepfake tidak lagi sekadar menjadi persoalan teknologi. Perkembangannya mulai menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu kepercayaan.

Public Speaking Tidak Lagi Sekadar Kemampuan Berbicara

Selama ini, kemampuan berbicara di depan umum banyak dinilai dari cara seseorang menyampaikan pesan, mulai dari kejelasan suara, bahasa tubuh, intonasi, hingga kemampuan meyakinkan audiens.

Semua kemampuan tersebut tentu masih penting. Namun, cara masyarakat menerima pesan telah berubah.

Audiens tidak selalu berhadapan langsung dengan pembicara. Pesan dapat disampaikan melalui unggahan media sosial, siaran langsung, podcast, rekaman suara, hingga video pendek.

Artinya, masyarakat semakin sering mengenal seseorang melalui apa yang mereka lihat dan dengar melalui layar.

Persoalannya, sesuatu yang terlihat nyata belum tentu benar-benar terjadi.

Ketika wajah dan suara seseorang dapat direkayasa, kemampuan berbicara dengan meyakinkan tidak lagi menjadi satu-satunya modal untuk mendapatkan kepercayaan.

Seorang pembicara juga harus memiliki sesuatu yang tidak mudah dibuat hanya dengan teknologi, yaitu rekam jejak dan kredibilitas.

Ketika Masalahnya Bukan Lagi Sekadar Hoaks

Informasi palsu sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Selama bertahun-tahun, masyarakat telah berhadapan dengan hoaks dan disinformasi yang menyebar melalui media sosial. Namun, deepfake membuat persoalan tersebut menjadi semakin rumit.

Bayangkan seseorang melihat video seorang tokoh terkenal yang tampak sedang menyampaikan pernyataan kontroversial.

Wajahnya sama.

Suaranya sama.

Ekspresinya pun terlihat meyakinkan.

Tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut, video tersebut bisa saja langsung dipercaya dan dibagikan.

Masalah baru muncul ketika video tersebut ternyata palsu.

Persoalannya kemudian tidak berhenti pada orang yang tertipu. Ketika masyarakat mengetahui bahwa sebuah video yang tampak meyakinkan ternyata hasil manipulasi, mereka juga dapat mulai mempertanyakan video lain yang sebenarnya autentik.

Inilah salah satu tantangan terbesar era deepfake. Semakin mudah sesuatu yang palsu terlihat nyata, semakin sulit pula masyarakat menentukan apa yang benar.

UNESCO menempatkan literasi media dan informasi sebagai kemampuan penting dalam menghadapi perubahan lingkungan informasi, termasuk misinformasi, disinformasi, serta perkembangan teknologi AI. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan media sosial, tetapi juga perlu mampu mempertanyakan informasi yang diterima.

Public Speaker Harus Membangun Kredibilitas

Dalam situasi seperti ini, kemampuan berbicara dengan baik saja tidak cukup.

Seorang public speaker perlu membangun kredibilitas melalui apa yang disampaikan, bagaimana pernyataan tersebut didukung bukti, serta sejauh mana ucapan dan tindakannya konsisten.

Kredibilitas tidak seharusnya hanya dibangun dari suara yang lantang, bahasa tubuh yang meyakinkan, atau pemilihan kata yang menarik.

Lebih dari itu, kredibilitas berkaitan dengan kejujuran, penguasaan materi, sumber yang dapat dipercaya, konsistensi, bukti, dan tanggung jawab.

Hal ini juga tidak hanya berlaku bagi tokoh publik.

Pelajar dan mahasiswa yang membuat konten media sosial, mengikuti organisasi, melakukan presentasi, maupun menyampaikan pendapat di ruang publik pada dasarnya juga sedang belajar menjadi komunikator.

Karena itu, belajar public speaking seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:

“Bagaimana agar orang percaya kepada saya?”

Ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Apa alasan orang lain layak untuk mempercayai saya?”

Di era ketika suara seseorang dapat ditiru dan wajah seseorang dapat dimanipulasi, pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan.

Ketika Konten Sensasional Lebih Cepat Menyebar

Tantangan berikutnya datang dari karakter media sosial itu sendiri.

Konten yang mengejutkan, kontroversial, atau memancing emosi sering kali lebih mudah mendapatkan perhatian dibandingkan dengan informasi yang membutuhkan waktu untuk dipahami.

Dalam kondisi seperti ini, sebuah video berdurasi beberapa detik dapat memicu opini yang bertahan jauh lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa kebenarannya.

Persoalan semakin rumit ketika sebuah pernyataan dipotong dari konteksnya.

Satu kalimat dapat terdengar sangat berbeda ketika dipisahkan dari pembicaraan secara keseluruhan. Begitu pula sebuah video yang diedit dapat menghasilkan kesan berbeda dari kejadian sebenarnya.

Karena itu, komunikasi publik di era digital membutuhkan dua pihak yang sama-sama bertanggung jawab.

Pembicara harus menyampaikan pesan secara jelas, jujur, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, audiens juga harus berhati-hati sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.

Pembicara yang kredibel dan audiens yang kritis adalah dua elemen yang saling melengkapi dalam menciptakan komunikasi publik yang sehat.

Bukan Berarti Kita Harus Takut pada AI

Membicarakan deepfake bukan berarti AI harus dianggap sebagai ancaman.

Teknologi AI juga dapat memberikan manfaat dalam berbagai bentuk komunikasi. AI dapat membantu mencari ide, menerjemahkan bahasa, menyusun presentasi, hingga menjadi alat latihan sebelum seseorang berbicara di depan umum.

Persoalannya bukan semata-mata apakah manusia menggunakan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Karena itu, kemampuan menggunakan AI perlu berjalan bersama dengan kemampuan untuk mengkritisi hasilnya.

Masyarakat dapat membiasakan diri memeriksa sumber asli, mencari informasi pembanding, memahami konteks secara utuh, serta tidak terburu-buru membagikan konten hanya karena terlihat meyakinkan.

Pemerintah Indonesia juga tengah mengembangkan tata kelola AI dengan memperhatikan aspek etika, transparansi, dan akuntabilitas, termasuk risiko yang berkaitan dengan misinformasi, deepfake, privasi, dan keamanan.

Artinya, tantangan AI bukan hanya bagaimana menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Ketika Wajah Bisa Ditiru, Integritas Menjadi Lebih Berharga

Teknologi akan terus berkembang.

Hari ini, AI sudah mampu menghasilkan gambar, suara, teks, dan video. Ke depan, teknologi tersebut mungkin akan semakin canggih dan semakin sulit dibedakan dari kenyataan.

Dalam kondisi seperti itu, integritas justru menjadi semakin berharga.

Seorang public speaker masa depan tidak cukup hanya mampu berbicara dengan lancar di hadapan banyak orang. Ia juga harus mampu mempertanggungjawabkan apa yang dikatakannya.

Audiens pun memiliki tanggung jawab yang sama. Perkembangan teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berpikir kritis.

Ketika wajah dan suara seseorang dapat dipalsukan, kredibilitas tidak lagi cukup dibangun dari apa yang kita lihat dan dengar.

Kredibilitas dibangun dari bukti, integritas, konsistensi, dan rekam jejak.

Pada akhirnya, tantangan terbesar public speaking di era AI mungkin bukan lagi bagaimana membuat orang mau mendengarkan, melainkan bagaimana memberikan mereka alasan yang kuat untuk percaya.