Penerapan Ice Breaking dalam Meningkatkan Semangat Belajar Siswa

Mahasiswi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yunika Moufeeda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam proses pembelajaran di kelas tententunya terdapat problem yang hendak diselesaikan salah satunya meningkatkan semangat belajar siswa agar tercapainya tujuan pendidikan. Di dalam kelas tentunya akan dihadapi dengan berbagai karakteristik siswa. Sehingga guru harus dapat mengatasi hal demikian dengan menerapkan cara belajar yang menarik agar pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif dan aktif. Salah satu metode yang menarik untuk di terapkan di lembaga pendidikan khususnya di kelas adalah dengan menerapkan pembelajaran menggunakan ice breaking.
Pemilihan ice breaking harus mempertimbangkan aspek kesesuaian dengan materi pemebelajaran, potensi untuk meningkatkan interaksi siswa serta kemampuannya dalam menciptakan suasana belajar yang positif dan menyenangkan. Selain itu, ketersediaan sumber daya yang mendukung, seperti media pembelajaran yang menarik dan inovatif, waktu yang cukup untuk pelaksanaan ice breaking dan dukungan dari pihak sekolah menjadi faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Terakhir, kompetensi dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan ice breaking juga perlu diperhatikan.
Ice breaking ini adalah jenis permainan yang bisa mengurangi kejjenuhan serta menambah antusias dan semangat belajar para siswa. Pembelajaran menggunakan ice breaking juga dapat dilakukan beberapa kali untuk menyesuaikan dalam proses belajar mengajar.
Pada siswa kelas VI SDN 22 Banyuasin III, Yunika (Mahasiswi KKN) menerapkan ice breaking di awal pembelajaran, di tengah-tengah pembelajaran, dan di akhir pembelajaran. Namun, Yunika juga menerapkan ice breaking ketika konsentrasi siswa mulai menurun yang mengakibatkan siswa tidak fokus dalam belajar. Dalam kelas seorang guru harus menciptakan suasana yang nyaman bagi siswa, mulai dari lingkungan belajar, suasana belajar dan gaya belajarnya. Maka dari itu, di awal pembelajaran penulis menyampaikan kepada siswa untuk mencari tempat duduk dan suasana belajar yang di senangi oleh siswa. Setelah membuka pelajaran, ice breaking pertama yang diterapkan yaitu mengajak siswa melakukan gerakan yang biasanya dinamai dengan "tepuk semangat". Hal ini dilakukan untuk melihat antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Setelah itu, Yunika menuliskan materi mengenai pembelajaran PAI yaitu materi sholat wajib. Selanjutnya penulis menjelaskan materi tersebut diiringi dengan ice breaking yang kedua yaitu tepuk fokus yang melatih siswa untuk fokus dalam mendengarkan materi yang disampaikan. Dalam hal ini, terlihat antusias siswa dalam mendengarkan dan menjawab pertanyaan yang diajukan. Kemudian setelah materi pertama selesai, penulis mengajak siswa ice breaking dengan bermain "tepuk pagi, siang, sore dan malam" tapi diubah menjadi "tepuk apel, jeruk, pisang dan mangga". Setelah dilakukannya ice breaking maka siswa sudah kembali focus dalam menerima pembelajaran.
Di hari yang sama pada materi selanjutnya mengenai Sejarah Nabi Muhammad SAW. Siswa diajak menghafal sambil bernyanyi agar siswa lebih mudah dalam mengingat riwayat hidup Nabi Muhammad SAW, mulai dari tempat dan tanggal lahirnya, nama ayah dan ibunya, nama paman dan kakeknya, dan lain sebagainya. Terakhir, sebelum menutup pembelajaran siswa diminta menjawab kuis yang ajukan, bagi siswa yang dapat menjawab kuis tersebut maka diberi apresiasi berupa reward.
Sebelum diterapkan pembelajaran menggunakan ice breaking, siswa kelas VI SDN 22 Banyuasin III telihat pasif dalam proses pembelajaran. Seringkali pembelajaran dikelas menjadi monoton hingga menumbuhkan rasa jenuh bagi siswa dalam belajar. Namun, setelah diberikannya materi yang diiringi dengan metode ice breaking, terlihat bahwa siswa sangat antusias dan super aktif dalam mengikuti pembelajaran. Sehingga penggunaan ice breaking ini berhasil menghidupkan suasana kelas menjadi lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Siswa juga memperlihatkan respon dan antusias yang sangat positif dalam mempraktekkan ice breaking sehingga ketika diterapkan di dalam kelas, maka proses pembelajaran tersebut terasa lebih baaik dan menyennagkan.
Dengan demikian, sebagai seorang guru hendaknya agar lebih kreatif saat pembelajaran di kelas serta memiliki kemauan untuk mempelajari dan menggunakan ice breaking dalam proses belajar mengajar. Metode ice breaking ini banyak sekali tersebar di sosial media terutama pada aplikasi YouTube yang bisa dijadikan sebagai sumber referensi. Para guru bisa mencontoh dan memilih sesuai dengan karakteristik siswa untuk diterapkan di dalam kelas.
Kesimpulan
penerapan ice breaking pada pembelajaran PAI dalam meningkatkan semangat belajar siswa kelas VI SDN 22 Banyuasin III memberikan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan semangat belajar dan partisipasi aktif siswa. Penerapan Ice Breaking ini membantu menciptakan suasana kelas yang lebih rileks dan menyenangkan, sehingga siswa lebih mudah fokus dan bersemangat dalam pembelajaran. Sebelum diterapkan pembelajaran menggunakan ice breaking, siswa kelas VI SDN 22 Banyuasin III telihat pasif dalam proses pembelajaran. Namun, setelah diberikannya materi yang diiringi dengan metode ice breaking, terlihat bahwa siswa sangat antusias dan super aktif dalam mengikuti pembelajaran.
