Menjaga Ibu Seperti Menjaga Surga yang Masih Ada di Dunia

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yunita Wahyu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua setengah tahun terbaring akibat stroke, seorang ibu menjadi pusat perhatian dan kasih sayang keluarga. Di balik tubuh ringkihnya, terletak surga yang dijaga dengan setia oleh anak, menantu, dan cucu tercinta.
Pagi itu, di sebuah rumah sederhana di desa Karang Jati, Kabupaten Cilacap, seorang perempuan lansia terbaring diam. Tubuhnya kaku, tatapan nya kosong. Ia adalah Mbah Bariyah, 87 tahun, yang telah menderita stroke sejak dua setengah tahun lalu, setelah terpeleset dari kamar mandi.
Kejadian itu terjadi begitu cepat. Saat hendak mengambil air wudhu untuk salat maghrib, tergelincir di kamar mandi. Tubuhnya terbaring ke lantai. Suasana mendadak panik. Keluarga segera menuju ke rumah sakit. Namun saat sudah berada di rumah sakit, Mbah mengalami stroke dan sempat tidak sadarkan diri selama satu minggu.
Seorang anak menyuapi Ibunya lewat Slang
Sejak itu, hidup berubah. Rutinitas yang dulu dijalani dengan canda dan tawa, kini berganti dengan pengorbanan dan kesabaran. Namun bagi sang anak, merawat ibunya bukan beban, melainkan bentuk cinta yang tak bisa dibayar dengan apa pun.
Seorang anak memijat tangan Ibunya
Setiap hari, ia menyuapi Mbah lewat bantuan slang, mengganti pakaiannya, memijat tubuhnya yang kaku, dan menemaninya berbicara, walaupun tak ada jawaban. Dalam diamnya, Mbah tetap menjadi pusat kehidupan rumah itu. Anak, menantu, dan cucu bergantian menjaga, mencurahkan kasih sayang yang mengalir tanpa syarat.
Perjalanan merawat orang tua yang sakit memang tak mudah. Kadang penuh lelah, kadang diliputi air mata. Tapi di balik itu, ada kebahagiaan yang tak bisa didefinisikan—kebahagiaan karena bisa menjaga seseorang yang telah memberikan segalanya.
Cucu Mbah Bariyah
Yang membuat rumah itu lebih hidup adalah kehadiran cucu-cucu kecil yang sering duduk di sisi sang nenek. Di tengah kesibukan dunia, keluarga ini memilih untuk berkumpul. Mereka tidak pergi ke mana-mana. Mereka tinggal, menjaga, dan menyayangi. Mereka merawat satu sama lain—terutama ibu mereka—dengan cinta yang tak bersyarat.
Kisah ini bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang pengabdian. Tentang anak yang tak pernah meninggalkan ibunya. Tentang menantu yang tulus merawat tanpa pamrih. Tentang cucu-cucu yang membawa tawa di tengah kesunyian.
Karena di rumah itu, cinta tak pernah pergi. Ia tinggal di setiap pelukan, di setiap suapan, dan di setiap doa yang dilantunkan untuk seorang ibu yang dulu memberi segalanya—dan kini dirawat dengan segala cinta.
