Gap Year Pasca Pandemi dan Pengaruhnya Terhadap Mental Remaja

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Yuriki Saufa Yura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teruntuk kalian yang tengah duduk di bangku kelas 12 SMA, sudahkah terpikir akan rencana bagaimana kalian ingin menapaki kehidupan setelah sekolah? Well, beragam opsi dan pilihan seringkali menghantui kita ya, friends! Banyak di antara kalian yang memilih untuk berkuliah di kampus atau jurusan impian, ada yang ingin terjun ke dunia kerja, dan ada pula yang memantapkan hatinya untuk mengabdi pada negara. Dari semua itu, tak sedikit juga dari mereka yang bahkan belum menemukan titik terang akan rencana perjalanan mereka selanjutnya. Meski tak mudah dan terasa tak mempunyai kepastian, kalian harus tetap mempersiapkannya, ya!
Namun, perjalanan kehidupan tak semulus kain sutra. Bagaimana jika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan? Kecewa? Tentu ada. Tapi, kalian tidak perlu berlarut-larut dalam kekecewaan dan tetap semangat, ya! Banyak jalan menuju roma. Dan dari banyaknya jalan, banyak pula orang yang memilih untuk menjalani masa gap year demi mencapai impiannya.
Apa sih itu Gap Year?
Memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah di tahun pertama setelah lulus SMA atau yang biasa disebut dengan gap year bukan merupakan hal yang baru. Terdapat banyak alasan mengapa mereka mengambil keputusan tersebut. Salah satunya ialah karena mereka masih mengincar kampus idaman mereka, jadi selama menunda perkuliahan, mereka memanfaatkan waktu 1 tahun itu untuk mendalami kembali materi-materi yang akan diujikan pada ujian masuk perguruan tinggi. Namun, tidak sedikit dari mereka yang mengalami perubahan baik secara emosional maupun perilaku yang mempengaruhi kesehariannya, ditambah dengan situasi pandemi covid 19 yang menemani masa-masa SMA-nya.
Dampak Negatif dari Gap Year
Mudah merasa stres dan tertekan
Bukan tanpa alasan melainkan mereka merasa belum jelas mau dibawa kemana masa depannya, mengingat sistem belajar yang digunakan adalah online dimana suasana sekitar sangat berpengaruh pada mood yang membuat emosi tidak stabil. Di fase ini seseorang akan mudah terpengaruh dan kehilangan rasa percaya diri, mereka juga tidak ingin mengecewakan lagi.
Overthinking berlebih
Dikarenakan adanya ketidakpastian mengenai diterimanya mereka atau tidak di kampus impian, sehingga terkadang hal ini membuat mereka lupa bahwa kejadian yang mereka sedang mereka alami sebenarnya sudah ditetapkan dan harus dilalui. Ketidakpastian ini pun dapat menyebabkan terganggunya kesehatan mental dari mereka yang memutuskan untuk gap year.
Merasa sedih
Mereka yang memutuskan untuk gap year cenderung merasa tertinggal dari teman sebayanya yang sudah merasakan kehidupan perkuliahan. Sehingga, membahas hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan merupakan sesuatu yang sensitif, hal ini pun membuat sebagian orang memutuskan untuk tidak aktif di sosial media. Pandemi covid 19 kemarin juga membuat kurangnya interaksi secara langsung dengan teman sebayanya.
Dari 3 hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengaruh gap year dapat berpotensi membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih menyendiri. Namun menurut Danang Giri Sadewa dilansir dari kanal YouTube-nya, menjelaskan banyak nilai positif yang bisa diambil dari masa ini.
Dampak Positif dari Gap Year
Bisa menjadi lebih hemat
Jika memaksakan kuliah karena rasa malu yang nyatanya tidak sesuai dengan kemauan juga kemampuan, hal ini akan mengakibatkan munculnya rasa tidak nyaman saat mengalami perkuliahan, lho! Sehingga, hal ini pun hanya akan menambah pengeluaran untuk biaya semester, tempat tinggal, dan kehidupan jika memilih berkuliah di luar kota.
Akan menjadi lebih siap
Siap yang dimaksud adalah siap dari segi mental maupun fisik untuk menempuh ujian di tahun berikutnya karena memiliki waktu 1 tahun lagi untuk mempersiapkan diri dan mendalami materi.
Lebih bisa mendalami diri sendiri
Dengan melakukan hobi seperti berolahraga, berkebun, memasak, dan kemampuan seperti public speaking yang jarang bisa dilakukan saat bangku SMA karena padatnya jadwal dapat meningkatkan kemampuan kita dan lebih bagus lagi jika hobi yang disalurkan bisa diubah menjadi uang untuk tabungan kuliah.
Memiliki waktu untuk menambah pengalaman
Waktu 1 tahun dirasa cukup untuk menambah pengalaman baik sebagai relawan dengan mengikuti organisasi seperti karang taruna atau dalam sebuah acara seperti seminar dan mungkin mencoba terjun ke dunia kerja.
Semoga ini bisa membantu kalian dimasa gap year, simak baik-baik, ya!
Saran bagi kalian yang sedang mengalami Gap Year
Pertama sebagai insan yang beriman, kita harus beribadah, berdoa dan mempercayakan segalanya pada Yang Kuasa bila ingin ilmu yang kita dapatkan bisa terserap dengan baik. Kedua, mengonsumsi makanan yang bergizi dan minum air putih supaya imun tetap terjaga dengan sehat. Ketiga, membuat manajemen waktu yang baik agar semua aktifitas dilakukan secara konsisten. Selanjutnya, kita bisa menggunakan metode belajar yang sesuai dengan diri kita agar terasa nyaman dan efisien. Dan terakhir, sangat dianjurkan bagi kita untuk mencari support system yang dapat membantu kita untuk menyalurkan keluh-kesah yang dialami, sekaligus sebagai penyemangat kita dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan uraian-uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa gap year tidak seburuk yang kita kira banyak hal baik yang bisa dipetik, oleh karena itu untuk kalian yang sedang mengalami nya jangan putus semangat ya! semoga mimpi kalian dapat terealisasikan.
Referensi
Sadewa, Danang Giri. "Nunda Kuliah Setahun Bisa Lebih Hemat? Keuntungan Gap Year!" Youtube, diunggah oleh Danang Giri Sadewa, 10 Oktober. 2020, https://youtu.be/kf5lUj-dYXc .
