Masyarakat Minangkabau dan Kebudayaan Minangkabau menurut Koentjaraningrat

Pendidikan: Mahasiswi Universitas Andalas Fakultas: Ilmu Budaya Jurusan: Sastra Jepang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yurisa amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Masyarakat Minangkabau

Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas luasnya dan terikat oleh satu kebudayaan yang mereka anggap sama. Masyarakat Minangkabau adalah kelompok etnik nusantara yang berbahasa dan menjunjung tinggi adat Minangkabau. Masyarakat Minang merupakan bagian dari masyarakat Austronesia yang melakukan migrasi dari daratan China selatan ke pulau Sumatera sekitar 2.500-2.000 tahun yang lalu. Masyarakat Minang biasanya menyebut kelompoknya dengan sebutan Urang Awak. Awak itu sendiri berarti saya, ‘aku’ atau ‘kita’ dalam percakapan keseharian orang Minang. Minangkabau Berasal dari kata ‘Manang’ yang berarti menang, dan “Kabau’ yang berarti kerbau. Kata ini didapat dari siasat masyarakat saat mengadu kerbau dengan pasukan Kerajaanı Majapahit.
Kebudayaan Minangkabau menurut Koentjaraningrat
Koentjaraningrat Prof. Dr. H.C. KPH. Koentjaraningrat adalah seorang antropolog yang berperan besar dalam mendeskripsikan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Atas jasanya, ia diberi penghargaan sebagai Bapak Antropologi Indonesia oleh Lingkar Budaya Indonesia. Menurut Ktoentjaraningrat unsur-unsur budaya yaitu berupa bahasa, pengetahuan, sosial, peralatan hidup atau teknologi, ekonomi, religi dan keseniaan
1. Unsur budaya keagamaan Minangkabau
Islam menjadi agama mayoritas dan pondasi utama dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Sebelum masuknya pengaruh Islam, masyarakat Minangkabau menganut kepercayaan animisme.
2. Unsur budaya Bahasa Minangkabau
Masyarakat Minangkabau berinteraksi dengan menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa sehari-hari. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa Minang juga digunakan dalam pembuatan kiasan dan peribahasa sangat kental dalam bahasa Minangkabau, begitu juga dengan adanya pantun.
3. Unsur budaya Kesenian Minangkabau
Kesenian Minangkabau identik dengan tari-tarian seperti tari piring, tari payung, tari persembahan, tari randai yang sering dipertunjukan diacara-acara adat. Ksenian ini sendiri menjadi cerminan nilai-nilai adat, kepercayaan dan sejarah masyarakat Minangkabau.
4. Unsur budaya Perekonomian Minangkabau
Di Minangkabau, masyarakatnya dikenal dengan pandai berdagang. Daerah pesisir pantai, menangkap ikan lalu dijual. Daerah pegunugan, bercocok tanam dan beternak.
5. Unsur budaya Sosial Minangkabau
Minangkabau menganut sistem kekerabatan. Matrilineal dimana kesejahteraan seorang anak menjadi tanggung jawab bersama keluarga besar Ibu. Pola perkawinan Minangkabau bersifat eksogami, yang dimana kedua bilah pihak atau salah satu dari yang menikah tidak lebur ke dalam kaum kerabat.
6. Unsur budaya Teknologi Minangkabau
Teknologi atau peralatan hidup masyarakat Minangkabau mengalami perubahan seiring perkembangan jaman. sektor pertanian di Minangkabau telah mengalami transformasi berkat penggunaan sistem teknologi yang canggih. Petani di daerah ini telah mengadopsi teknologi modern seperti sistem irigasi cerdas, pemantauan pertanian berbasis sensor, dan penggunaan pupuk organik. Sistem irigasi cerdas memungkinkan petani untuk mengoptimalkan penggunaan air dan menghindari pemborosan sumber daya.
7. Unsur budaya Pengetahuan Minangkabau
Masyarakat Minangkabau memiliki kekayaan intelektual yang tertanam dalam berbagai aspek kehidupan yang menjadi pedoman hidup, nilai-nilai, dan cara pandang mereka terhadap duni. Sistem pengetahuan di kalangan masyarakat Minangkabau cukup unik yaitu dimana anak usia 7 tahun biasanya akan tinggal di surau dan belajar agama maupun adat Minangkabau. Di usia remaja inilah pemuda Minang ditempa untuk menimba ilmu sebanyak mungkin. Barulah setelah mendapatkan ilmu mereka akan kembali untuk membangun kampung mereka. Mereka akan pulangs sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dan lebih matang lagi. Mereka juga harus menjadi sosok yang bertanggung jawab terhadap keluarga dan apapun yang dilakukannya.
Kebudayaan Minangkabau sebagai ide dan gagasan
Kebudayaan Minangkabau merupakan sekumpulan nilai, adat, tradis dan praktik kehidupan yang dianut oleh masyarakat Minangkabau, yang terletak di Sumatera Barat. Kebudayaan ini sangat dipengaruhi oleh Islam, namun tetap mempertahankan karakter khas seperti sistem kekerabatan matrilineal, filosofi hidup yang bersumber dari adat serta semangat gotong royong dan perantauan. Berikut beberapa bentuk kebudayaan Minangkabau
1. Sistem Materilenial
Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal, di mana garis keturunan ditarik ⁶dari pihak ibu. Dalam sistem ini, perempuan memiliki peran sentral dalam warisan harta dan tanah keluarga. Anak-anak akan menjadi bagian dari keluarga ibu, sementara suami hanya “menumpang” di rumah istri dan tidak memiliki hak atas harta warisan istri.
2. Manjapuik Marapulai
Manjapuik Marapulai adalah tradisi adat Minangkabau yang merupakan acara penting dalam rangkaian pernikahan, yaitu menjemput calon pengantin pria ke rumah calon pengantin wanita untuk melangsungkan akad nikah.
3. Filosofi hidup Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah
Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, merupakan falsafah hidup yang diturunkan kepada masyarakat Minangkabau yang menjadikan ajaran Islam sebagai satusatunya landasan atau pedoman pola tingkah laku dalam hidup. “Adat basandi syarak” mengajarkan bahwa adat bersandar pada syariat Islam, sementara “syarak basandi Kitabullah” berarti syariat Islam bersandar pada Al- Qur’an. Prinsip ini menciptakan harmoni antara adat dan agama, di mana aturan-aturan adat dijalankan sejalan dengan nilai-nilai Islam.
4. Falsafah Alam Takambang Jadi Guru
Falsafah ini bermakna bahwa alam merupakan guru yang sesungguhnya bagi manusia, yang dapat memberikan hikmah dan ikhtiar. Falsafah ini berarti bahwa alam adalah sumber pelajaran bagi kehidupan. Setiap elemen alam, seperti gunung, sungai, hutan, dan hewan, dapat dijadikan teladan dalam menyelesaikan masalah kehidupan. Filosofi ini mengajarkan bahwa masyarakat harus bijak dalam membaca dan meniru hukum alam untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan spiritual.
Kebudayaan Minangkabau dalam Benda dan Artefak
Benda dan artefak Minangkabau bukan hanya sekadar benda mati, tetapi merupakan cerminan jiwa dan semangat masyarakat Minangkabau. Dengan memahami makna di balik setiap benda, kita dapat lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya. Beberapa contoh benda dan artefak minangkabau sebagai berikut:
1. Rumah Gadang
Rumah Gadang Lebih dari sekadar tempat tinggal, rumahGadang adalah simbol marga, kekayaan dan status ssosial. Terdapat ornamen, ukiran dan bentuk bangunannya mencerminkan nilai-nilai adat dan kepercayaan masyarakat Minangkabau. Rumah Gadang hanya dibangun oleh penduduk asli yang memiliki peran dan menduduki hierarki tertentu di dalam masyarakat. Penghuninya akan menggunakan rumah sebagai tempat makan, tidur, masak dan berkumpul. Selain fungsi sehari-hari rumah gadang memiliki fungsi adat tertentu. Melansir laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat, berikut fungsi adat rumah Gadang:
[1] Sebagai tempat melangsungkan upacara yang berkaitan dengan siklus kehidupan termasuk turun mandi, khitan, pernikahan hingga kematian.
[2] Sebagai tempat melangsungkan upacara adat seperti pengangkatan datuak dalam prosesi "batagak gala".
[3] Sebagai tempat bermusyawarah masyarakat lingkungan sekitar.
2. Songket
Songket adalah Kain tenun dengan benang emas atau perak ini memiliki motif yang sangat khas dan makna yang mendalam. Songket digunakan dalam upacara adat dan dikenakan pada acara-acara resmi serta merupakan simbol kemewahan. Songket juga digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket ini ditenun dengan tanga. Campuran benang logam metalik tertenun yang berlatarkan kain menimbulkan efek kemilau. Sejarah dari songket Minangkabau sendiri yaitu berawal dari kerajaan Sriwijaya yang kemudian dikembangkan melalui kerajaan Melayu sampai akhirnya masuk ke ranah Minang. Songket tercipta sebagai alat ekspresi karena orang-orang Minang pada jaman dahulu tidak bisa menulis dan akhirnya mereka pun mengekspresikan perasaan mereka ke dalam songket sehingga masing-masing songket punya arti dan makna yang berbeda-beda.
3. Keris
Keris merupakan salah satu karya seni budaya adiluhung peninggalan budaya masa lalu yang bernilai tinggi, kegunaannya selalu berkembang dari masa ke masa sesuai konteks zaman. Keris memiliki fungsi yaitu beberapa di antaranya:
(1) Sebagai senjata tikam. Keris sebagai senjata hanya digunakan pada masa lalu (sampai dengan awal kemerdekaan). Pada masa sekarang tidak satu kerispun dipergunakan orang untuk senjata maupun untuk kejahatan. Perubahan itu disebabkan karena kelangkaan keris yang beredar, dan atau banyak senjata lain yang lebih efektif dan mudah dimiliki selain keris.
(2) Sebagai simbol perjanjian. Perjajian yang dimaksud menyangkut urusan adat, yang terpenting seperti perjanjian perdamaian dan pertunangan.
(3) Sebagai pengobatan, pagar rumah, dan penolak bala. Hal ini berlaku secara khusus bagi kalangan terbatas/sebagian kecil masyarakat.
