Konten dari Pengguna

Antara Liberalisasi & Inklusivitas: Catatan SOM Leader APEC Indonesia 2013

Dubes Yuri Octavian Thamrin

Dubes Yuri Octavian Thamrin

Diplomat senior yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun mewakili Indonesia baik dalam diplomasi bilateral maupun multilateral. Mantan Dubes RI untuk Inggris (2008-2011) dan Mantan Dubes RI untuk Belgia (2016-2020)

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dubes Yuri Octavian Thamrin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kawasan Asia-Pasifik pada 2013 masih berada dalam bayang-bayang dampak krisis keuangan global 2008–2009. Pemulihan memang telah berlangsung, tetapi ketidakpastian ekonomi global tetap terasa dan pertumbuhan belum sepenuhnya merata. Dalam situasi seperti itu, kawasan tidak hanya dituntut untuk kembali tumbuh, tetapi juga menjadi lebih tangguh dan adaptif, seperti filosofi yang diusung Indonesia melalui logo APEC 2013: rumpun bambu yang tetap kukuh meski diterpa angin kencang. Dalam konteks inilah Indonesia memegang keketuaan APEC, dengan tanggung jawab tidak hanya menjaga momentum pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa arah kerja sama kawasan tetap inklusif dan relevan bagi seluruh anggotanya.

APEC sejak awal tidak dimaksudkan sebagai forum yang semata-mata mendorong liberalisasi perdagangan. Terdapat tiga dimensi yang harus dijaga keseimbangannya: liberalisasi perdagangan dan investasi, fasilitasi bisnis, serta kerja sama ekonomi dan teknis (ECOTECH). Bagi banyak ekonomi berkembang, dimensi ketiga ini memiliki arti yang sangat penting, karena di sanalah upaya penguatan kapasitas, alih pengetahuan, dan pemberdayaan ekonomi ditempatkan. Keseimbangan inilah yang menjadi fondasi bagi APEC untuk tetap relevan di tengah keragaman tingkat pembangunan para anggotanya—yang secara khas disebut sebagai “ekonomi”, bukan negara, sehingga memungkinkan entitas seperti Taiwan (Chinese Taipei) dapat berpartisipasi dalam kerangka kerja sama ekonomi kawasan.

Dalam praktiknya, Indonesia membingkai peran tersebut dalam tiga prioritas utama: pencapaian Bogor Goals, pertumbuhan berkelanjutan yang berkeadilan, serta penguatan konektivitas. Pendekatan ini sejalan dengan kerangka pembangunan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono saat itu yang menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi (pro1growth), penciptaan lapangan kerja (pro-jobs) dan pengurangan kemiskinan (pro-poor) secara simultan. Dengan demikian, keterbukaan ekonomi tidak diposisikan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif. Dalam kerangka ini, Indonesia berupaya memastikan bahwa agenda APEC tidak terlepas dari realitas kebutuhan pembangunan di dalam negeri maupun di antara negara-negara berkembang lainnya di kawasan.

Salah satu karakter khas APEC adalah tingkat collegiality yang tinggi di antara para pejabat senior. Meskipun masing-masing mewakili kepentingan ekonomi yang berbeda, interaksi berlangsung dalam suasana yang relatif cair, profesional, dan saling menghormati. Dalam banyak situasi, kedekatan ini menjadi “pelumas” yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan dalam menjembatani perbedaan pandangan dan mencapai kesepakatan. Diplomasi dalam forum seperti APEC tidak hanya berlangsung di ruang sidang formal, tetapi juga melalui interaksi yang dibangun atas dasar kepercayaan dan pemahaman bersama.

Dinamika tersebut diperkuat oleh mekanisme yang khas dalam APEC, yaitu pathfinder approach. Pendekatan ini memungkinkan suatu inisiatif dijalankan terlebih dahulu oleh ekonomi yang siap, tanpa harus menunggu kesepakatan seluruh anggota. Dalam banyak hal, pendekatan ini mencerminkan pragmatisme APEC: mendorong kemajuan secara bertahap, membangun kepercayaan melalui pengalaman nyata, dan kemudian memperluas adopsinya ketika inisiatif tersebut terbukti bermanfaat. Dengan cara ini, APEC mampu menjaga momentum kerja sama meskipun dihadapkan pada perbedaan tingkat kesiapan dan kepentingan di antara para anggotanya.

Di sisi lain, APEC juga memiliki keterkaitan erat dengan dunia usaha melalui APEC Business Advisory Council (ABAC). Interaksi antara pemerintah dan pelaku bisnis membantu memastikan bahwa berbagai inisiatif yang disepakati tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi memiliki relevansi praktis bagi dunia usaha. Masukan dari ABAC menjadi jembatan penting antara kebijakan dan implementasi, terutama dalam bidang konektivitas, investasi, dan kemudahan berusaha.

Sebagai tuan rumah, Indonesia juga memanfaatkan APEC sebagai sarana untuk memperkenalkan kekayaan dan keragaman daerahnya. Sepanjang tahun 2013, ratusan pertemuan APEC diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia, mulai dari pertemuan pejabat senior, kelompok kerja, hingga pertemuan tingkat menteri. Rangkaian Senior Officials’ Meeting (SOM) sendiri berlangsung dalam empat putaran, masing-masing di Jakarta, Medan, Surabaya, dan Bali sebagai puncaknya. Penyebaran lokasi ini tidak hanya mendukung kelancaran proses diplomasi, tetapi juga menjadi etalase bagi potensi pariwisata dan budaya Indonesia di mata kawasan Asia-Pasifik. Dalam banyak hal, APEC menjadi momentum untuk menampilkan Indonesia sebagai negara yang terbuka, dinamis, dan kaya akan keragaman.

Dalam konteks kelembagaan, peran Indonesia dijalankan melalui koordinasi yang erat di dalam negeri. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika pada Kementerian Luar Negeri merangkap sebagai Senior Officials’ Meeting (SOM) Leader Indonesia untuk APEC, sekaligus bertanggung jawab atas hubungan bilateral di kawasan. Peran ini menuntut kemampuan untuk mengelola proses multilateral yang kompleks, sekaligus memastikan bahwa hubungan bilateral dengan mitra utama tetap berjalan efektif. Diplomasi kawasan, dalam praktiknya, tidak pernah berjalan dalam satu jalur; ia selalu menuntut kemampuan untuk bergerak di berbagai lapisan secara simultan.

Tantangan tersebut terasa nyata pada puncak rangkaian APEC di Bali. Setelah melalui proses panjang mulai dari pertemuan pejabat senior, pertemuan tingkat menteri, hingga KTT para pemimpin, Indonesia masih harus segera memastikan kelancaran berbagai pertemuan bilateral Presiden dengan para pemimpin ekonomi APEC, termasuk dari China, Jepang, Korea Selatan, India, dan mitra penting lainnya. Setiap pertemuan memiliki substansi dan kepentingan yang tidak kalah kompleks. Transisi dari peran multilateral ke bilateral berlangsung dalam tempo yang sangat cepat, mencerminkan bahwa diplomasi kawasan adalah proses yang berkelanjutan dan saling terkait sehingga kami yang baru saja selesai memimpin SOM APEC segera ganti "topi" untuk mengawal keberhasilan pertemuan bilateral Presiden SBY dengan beberapa pemimpin APEC khususnya dari kawasan Aspasaf.

Pada akhirnya, keketuaan Indonesia menghasilkan 20 deliverables yang mencakup berbagai bidang kerja sama. Beberapa di antaranya memiliki bobot strategis yang signifikan, seperti penguatan kerangka konektivitas kawasan yang mencakup dimensi fisik, kelembagaan, dan people-to-people; inisiatif pembangunan infrastruktur dalam kerangka multi-year plan; serta dukungan terhadap sistem perdagangan multilateral, termasuk momentum menuju WTO Ministerial Conference di Bali.

Di samping itu, Indonesia juga mendorong berbagai inisiatif yang menekankan inklusivitas dan keberlanjutan, seperti pemberdayaan usaha kecil dan menengah, peningkatan peran perempuan dalam ekonomi, penguatan inklusi keuangan, serta kerja sama di bidang ketahanan pangan dan isu kelautan. Tidak kalah penting, terdapat pula kerja sama dalam penanggulangan terorisme yang berkaitan dengan keamanan rantai pasok dan kelancaran perdagangan, serta upaya penanggulangan praktik ilegal seperti illegal logging, yang berkaitan erat dengan keberlanjutan sumber daya alam dan tata kelola perdagangan yang bertanggung jawab. Secara keseluruhan, deliverables tersebut mencerminkan upaya Indonesia untuk menjaga keseimbangan antara keterbukaan ekonomi dan kebutuhan pembangunan yang lebih merata di kawasan.

Namun pengalaman APEC juga menunjukkan bahwa tidak semua inisiatif yang disepakati akan secara otomatis berlanjut. Dokumen akhir yang dihasilkan kerap memuat berbagai gagasan cemerlang, tetapi sebagian dapat kehilangan momentum ketika kepemimpinan berganti dan prioritas berubah. Dalam praktiknya, keberlanjutan sebuah inisiatif sangat bergantung pada sejauh mana ia mampu menjawab kebutuhan nyata kawasan dan menarik minat kepemimpinan berikutnya untuk melanjutkannya.

Dalam konteks itu, salah satu deliverable Indonesia yang menonjol adalah inisiatif pembangunan infrastruktur dalam kerangka multi-year plan. Inisiatif ini didasarkan pada pemahaman bahwa aspirasi pertumbuhan tinggi di kawasan Asia-Pasifik memerlukan fondasi infrastruktur yang kuat. Konektivitas tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan dalam pembangunan yang konkret. Menariknya, inisiatif ini tidak berhenti pada tahun keketuaan Indonesia, tetapi juga dipahami akan dilanjutkan oleh China sebagai Ketua APEC berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketika suatu gagasan mampu menjawab kebutuhan kawasan secara nyata, ia memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang melampaui satu siklus kepemimpinan.

Indonesia bahkan menuangkan semangat tersebut dalam simbol yang sederhana: rumpun bambu. Dipilih melalui sayembara nasional, bambu melambangkan ketahanan dan kelenturan—mampu meliuk diterpa angin tanpa patah, dan kembali tegak ketika tekanan mereda. Simbol ini mencerminkan harapan bahwa kawasan Asia-Pasifik, di tengah berbagai tantangan, tetap tangguh, adaptif, dan terus bergerak maju bersama.

Pengalaman APEC 2013 pada akhirnya memperlihatkan bahwa keberhasilan dalam forum seperti ini tidak semata-mata diukur dari jumlah kesepakatan yang dihasilkan, tetapi dari kemampuan menjaga keseimbangan berbagai kepentingan yang ada. Indonesia berupaya memastikan bahwa keterbukaan ekonomi tetap berjalan seiring dengan pembangunan yang lebih merata, serta bahwa kerja sama kawasan tetap memberikan ruang bagi kepentingan negara-negara berkembang. Dalam keseimbangan itulah makna diplomasi Indonesia di APEC menemukan relevansinya.

---000---