Astabrata: Kepemimpinan yang Tak Cuma Pintar, tapi Menumbuhkan

Diplomat senior yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun mewakili Indonesia baik dalam diplomasi bilateral maupun multilateral. Mantan Dubes RI untuk Inggris (2008-2011) dan Mantan Dubes RI untuk Belgia (2016-2020)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dubes Yuri Octavian Thamrin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya pertama kali mengenal filsafat Astabrata saat kuliah di FISIP UI, dalam mata kuliah pemikiran politik Jawa. Pengajarnya, Soemarsaid Murtono, adalah salah satu rujukan penting studi Jawa kuno—penulis State and Statecraft in Old Java yang diterbitkan Cornell University. Dari kelas itu saya menangkap satu hal: Astabrata bukan sekadar artefak budaya, melainkan seni memimpin yang tetap relevan di organisasi modern yang penuh tekanan, target, dan drama manusia.
Ada delapan elemen Astabrata yang sederhana. Namun justru karena sederhana, ia menuntut disiplin karakter. Ini bukan teori untuk dipajang di dinding, melainkan pedoman yang harus hidup dalam sikap sehari-hari: bagaimana pemimpin menahan emosi, memberi arah, memperlakukan tim, dan mengambil keputusan ketika situasi tidak ideal.
Pertama, bumi: pemimpin harus kuat memikul beban. Bumi menanggung apa pun di atasnya tanpa mengeluh—manusia, hewan, gunung, bahkan sampah kita. Itu pelajaran tentang daya tahan. Pemimpin yang kuat seperti bumi tidak gampang “retak” saat tekanan datang. Ia tetap tenang, tidak kehilangan fokus, dan tidak merusak organisasi hanya karena emosi sesaat.
Kedua, matahari: pemimpin memberi arah yang terang. Dalam dunia kerja hari ini, banyak orang sibuk, tetapi tidak selalu jelas ke mana bergerak. Pemimpin seperti matahari harus knowledgable—mengerti medan tugas, membaca situasi, dan berani menetapkan prioritas. Arah yang jelas sangat diperlukan organisasi.
Ketiga, api: tegas dan adil. Api bisa menghangatkan, tetapi juga membakar. Pemimpin harus menegakkan disiplin dan keadilan—tidak pilih kasih—sekaligus mampu menyalakan semangat: membuat orang percaya bahwa kerja mereka ada artinya.
Keempat, bulan: meneduhkan. Dalam imajinasi Jawa, purnama itu momen gembira. Bulan memberi terang yang lembut. Pemimpin yang baik bukan hanya mesin pemberi target pada organisasi, tetapi penjaga iklim batin tim—mampu memberi apresiasi, membuat orang merasa aman, dan menciptakan suasana kerja yang manusiawi.
Kelima, hujan: menumbuhkan. Pemimpin yang bertabiat seperti hujan tidak pelit peluang. Ia mendorong pendidikan, meningkatkan kapasitas anak buah, dan membuka jalan agar orang-orangnya berkembang. Organisasi yang kuat bukan yang paling keras memeras anak buah, melainkan yang paling konsisten menumbuhkan.
Keenam, angin: peka terhadap aspirasi. Angin tidak terlihat, tapi terasa. Pemimpin perlu hadir dengan cara yang tidak selalu ramai, tetapi nyata: mendengar, menangkap kegelisahan tim, memahami kebutuhan lapangan, dan bertindak sebelum masalah kecil menjadi krisis besar.
Ketujuh, samudra: luas dan stabil. Samudra menampung banyak sungai—jernih maupun keruh—tanpa panik. Pemimpin seperti samudra berwawasan luas, lapang menerima kritik, mampu menampung perbedaan, dan menyerap persoalan tanpa meledak-ledak. Gelombang boleh tinggi, tetapi pemimpin tetap tenang: menyimak, menimbang, lalu memutuskan dengan kepala dingin.
Kedelapan, bintang: cita-cita. Bintang melambangkan aspirasi yang membuat organisasi tidak berhenti pada rutinitas. Pemimpin perlu berani menetapkan tujuan tinggi—bukan untuk gaya-gayaan, tetapi agar kerja punya arah besar dan makna.
Dalam perjalanan karier, saya pernah punya atasan yang luar biasa cerdas dan sangat eloquent. Secara intelektual, ia menonjol. Tetapi gaya kepemimpinannya payah: mudah marah, memperlakukan staf seperti “batur”, sulit memberi ruang kegembiraan, dan ingin tampak seolah-olah hanya dirinya yang paling sempurna—padahal banyak capaian yang menempel pada namanya berdiri di atas kerja keras orang-orang di belakang layar. Dari situ saya belajar: kepintaran bukan jaminan kepemimpinan. Kepintaran tanpa karakter bisa menjadi kontraproduktif—menciptakan organisasi yang takut, bukan yang tumbuh.
Ketika ada peluang untuk memimpin—di Kemlu maupun saat bertugas di kedutaan— kita perlu berusaha memegang tiga hal sederhana: profesionalisme tinggi, terus membaca dan riset agar paham bidang tugas, serta mendengar masukan staf sebagai sensor lapangan. Astabrata membantu memberi “kompas batin”: memikul kuat seperti bumi, menerangi seperti matahari, tegas seperti api, meneduhkan seperti bulan, menumbuhkan seperti hujan, peka seperti angin, lapang seperti samudra, dan punya aspirasi seperti bintang.
Di zaman ketika pemimpin sering dinilai dari panggung dan retorika, Astabrata mengingatkan: kepemimpinan sejati bukan soal terlihat hebat, melainkan membuat tim kita dan semua elemennya mampu bekerja hebat.
