Brussel: “Kota Kecil” yang Mengatur Banyak Hal Besar

Diplomat senior yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun mewakili Indonesia baik dalam diplomasi bilateral maupun multilateral. Mantan Dubes RI untuk Inggris (2008-2011) dan Mantan Dubes RI untuk Belgia (2016-2020)
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Dubes Yuri Octavian Thamrin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalau ada yang bilang tugas Dubes itu kerjanya “datang resepsi, salaman, foto, pulang,” saya biasanya senyum saja. Itu seperti bilang pemain bola tugasnya “cuma lari.” Yang tidak kelihatan justru intinya: membaca situasi, mengunci peluang, dan menjaga kepentingan nasional—kadang di ruang rapat, kadang di lorong, kadang di coffee break yang tampaknya santai tapi sesungguhnya high-stakes.
Saya bertugas di Brussel sebagai Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia, Keharyapatihan Luksemburg, dan Uni Eropa periode 2016-2020—paket komplit: bilateral yang penuh nuansa, plus “mesin raksasa” kebijakan Uni Eropa yang dampaknya bisa sampai ke kebun, pelabuhan, pabrik, dan dapur rakyat kita.
Di akhir masa tugas, saya merangkum satu prinsip: diplomasi itu harus membumi, percaya diri, cerdas, konkret, dan kreatif—bukan sekadar gaya-gayaan, tapi supaya benar-benar menciptakan peluang bagi kepentingan Indonesia.
Belgia: Negara “Low Profile” yang Punya Tombol-tombol Penting
Belgia itu unik. Negara kecil, tapi jangan tertipu: kecil-kecil cabe rawit. Secara tata kelola, Belgia bisa bikin orang belajar “sabar tingkat dewa”: pemerintahnya kompleks—federal, komunitas, regional—sehingga untuk memahami siapa berwenang atas apa, diplomat harus punya peta, kompas, dan kadang… doa. Tapi justru di situ tantangan dan seninya.
Mengapa Belgia penting bagi Indonesia?
1. Sejarah dan simpati awal: Belgia termasuk negara yang sejak awal mengakui kemerdekaan Indonesia (ini modal historis yang sering jadi pintu pembuka percakapan).
2. Peluang ekonomi & investasi: Belgia memang tone-nya “low profile,” tidak seberisik negara besar, tapi peluangnya banyak—logistik, pelabuhan, industri, dan jejaring bisnis yang menghubungkan Eropa.
3. Iptek: walau kecil, Belgia punya ekosistem riset yang serius—dan ada tradisi kuat melahirkan ilmuwan kelas dunia, Belgia pun termasuk negara dengan cukup banyak peraih penghargaan Nobel.
4. Pertahanan: Belgia punya reputasi industri pertahanan; bahkan dalam percakapan kerja sama, hal-hal teknis seperti platform, komponen, hingga know-how bisa jadi agenda yang nyata. Fyi, Belgia adalah produsen pistol FN yg ikonik dan legendaris; di samping itu "turret" (moncong meriam) di tankboat buatan Indonesia pun berasal dari Belgia.
5. Pariwisata & budaya: Belgia itu “dekat ke mana-mana.” Dari Brussel, bermobil atau naik kereta sebentar bisa tiba di kota-kota Eropa yang jadi pusat bisnis, budaya, atau institusi internasional. Turis asal Belgia banyak yg berkunjung ke Indonesia, namun jumlahnya masih perlu kita tingkatkan melalui promosi wisata yg jitu termasuk ikut serta dalam festival Europhalia.
Jadi, kalau ada yang bertanya, “Belgia itu penting karena apa?” Jawaban saya: karena Belgia itu simpul. Dan diplomat itu kerjanya di simpul-simpul: mengikat, mengurai, lalu mengikat lagi—tapi untuk kepentingan RI.
Luksemburg: Mini, Super-Kaya, dan Kelas Berat di Keuangan
Kalau Belgia itu simpul, Luksemburg itu—dengan segala kesederhanaan geografisnya—semacam “ruang server” finansial: kecil, tenang, tapi mengalirkan banyak arus global.
Salah satu fokus yang kami dorong adalah kerja sama keuangan, termasuk green bond. Dalam catatan resmi kami, KBRI Brussel mendorong tindak lanjut kerja sama obligasi hijau antara Indonesia dan Luksemburg, termasuk komunikasi dengan Luxembourg Green Exchange.
Konteksnya jelas: Uni Eropa adalah pusat keuangan besar dunia, dengan ekosistem bank dan pasar modal yang kuat. Maka, bagi Indonesia, bekerja dengan Luksemburg itu seperti membuka pintu ke jaringan pembiayaan yang bisa membantu agenda pembangunan—terutama yang hijau dan berkelanjutan.
Dan ya, jangan lupakan sisi “manusiawinya”: kerja sama pariwisata juga penting. Diplomasi bukan hanya angka—tapi juga people-to-people contact.
Uni Eropa: Kursinya di Brussel, Dampaknya Sampai ke Nusantara
Belgia penting bukan hanya karena Belgianya, tetapi karena Brussel adalah seat Uni Eropa—salah satu pemain besar global. Maka perwakilan RI di Uni Eropa harus lincah di dua lapangan sekaligus: lapangan hubungan (membangun kerja sama) dan lapangan kebijakan (mengamankan kepentingan).
Bidangnya luas: ekonomi, dagang, investasi, iptek—juga isu-isu yang sering sensitif tapi tak bisa dihindari: HAM, lingkungan hidup, demokrasi, hingga dialog antar-peradaban untuk memperkuat saling pengertian antar umat beragama. Apalagi Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia sangat "risih" dengan "Islamophibia" akibat kesalahpahaman tentang Islam.
Di sisi ekonomi-politik, tugas kita juga sering sangat praktis: memastikan akses pasar dan perlakuan adil bagi komoditas Indonesia—mulai dari sawit, kopi, teh, produk kayu, sampai ikan (dan turunannya). Kadang debatnya elegan, kadang debatnya… ya seperti debat keluarga besar: semua merasa paling benar, tapi tetap harus makan satu meja.
“Papua Dossier” dan Seni Mengelola Isu di Tiga Medan
Ada satu medan yang menuntut kewaspadaan tinggi: aktivitas kelompok separatis Papua di Eropa. Dalam pengalaman kami, penanganan isu Papua itu harus proporsional, terukur, cermat, dan antisipatif.
Yang menarik (dan sering luput dibayangkan publik): penanganannya terjadi di tiga arena:
1. Parlemen Eropa,
2. ACP (African, Caribbean and Pacific Group of States; sekarang ACP berganti nama menjadi OACPS) dan
3. Jejaring organisasi gereja/kemasyarakatan.
Di Parlemen Eropa, isu Papua sering “nebeng” pada resolusi omnibus. Kadang ada upaya memasukkan rujukan yang ekstrem, tapi dengan lobi dan penjelasan yang efektif, rujukan-runjukan itu bisa dieliminasi dan diarahkan menjadi lebih berimbang.
Sementara di ACP, dinamika berbeda. Ada upaya pihak tertentu untuk menggulirkan isu Papua, sehingga kita perlu membangun jejaring dan membaca “peta suara”. Dalam catatan kami, “kunci” menghadang langkah-langkah itu banyak bergantung pada dukungan negara-negara Pasifik Selatan anggota ACP—misalnya PNG, Fiji, dan Timor Leste dan juga negara-negara ACP anggota OKI- yang membantu menolak atau melemahkan inisiatif yang memojokkan Indonesia. Di samping itu, bantuan capacity building dan beasiswa bagi negara2 ACP juga penting untuk memenangkan simpati terhadap Indonesia dalam organisasi itu.
Ini bagian yang sering saya sebut: diplomasi itu bukan cuma pidato; ia juga arsitektur jejaring—siapa bicara dengan siapa, kapan, dan lewat jalur apa.
Penutup: Brussel Mengajarkan Satu Hal—Diplomasi Itu Kerja Senyap yang Menentukan
Bertugas di Belgia–Luksemburg–Uni Eropa itu seperti mengemudikan kendaraan di jalan Eropa: rutenya tertib, aturannya detail, tapi kalau kita paham peta dan sabar membaca rambu, kita bisa sampai lebih cepat dan lebih aman.
Dan pada akhirnya, saya percaya diplomasi yang baik itu bukan yang paling ramai di media sosial, tapi yang paling terasa dampaknya: peluang ekonomi terbuka, kerja sama iptek bergerak, persepsi membaik, dan kepentingan nasional lebih terlindungi—dengan cara yang elegan, cerdas, dan tetap manusiawi.
Saya menutup tulisan ini dengan satu kisah yang selalu membuat saya optimistis. Di Belgia ada sosok bernama Eric Domb, pemilik theme park Pairi Daiza—sebuah taman satwa dan budaya yang dikenal kelas dunia. Yang menarik: Eric adalah pencinta Indonesia sejak muda. Ketertarikannya bukan sekadar “suka Bali,” tapi rasa hormat yang tulus pada budaya, alam, dan masyarakat Indonesia. Dari perjumpaan-perjumpaan seperti itulah saya belajar: goodwill sering lahir dari ketulusan, konsistensi, dan hubungan antarmanusia.
Di sisi lain, komunitas Indonesia di Belgia jumlahnya memang kecil—sekitar 2.300 orang—tetapi mereka berbakat, hangat, dan (kalau saya boleh bilang) “bekerja dalam senyap” menjaga nama baik bangsa. Bersama-sama dengan KBRI Brussel, mereka aktif memajukan citra Indonesia: lewat kegiatan budaya, akademik, jejaring profesional, hingga dukungan untuk agenda ekonomi dan investasi. Mereka mengingatkan saya bahwa diplomasi bukan hanya urusan kantor perwakilan; diplomasi juga hidup di tangan warga negara kita—yang menjaga wajah Indonesia tetap ramah, cerdas, dan berkelas, di tengah jantung Eropa.
Jadi ya, Brussel memang “kota kecil” yang mengatur banyak hal besar. Tetapi sering kali, hal besar itu bergerak karena hal-hal kecil: pertemanan yang dirawat, reputasi yang dijaga, dan kerja bersama yang konsisten. Dan di situlah diplomasi menemukan maknanya—bukan sekadar mewakili negara, melainkan menghadirkan Indonesia dengan cara yang membuat orang lain berkata: “Saya percaya pada Indonesia.”
