Konten dari Pengguna

Heartland versus Rimland: Membaca Ulang Geopolitik Dunia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dubes Yuri Octavian Thamrin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia terus berubah. Selama beberapa dekade, banyak orang percaya bahwa globalisasi dan revolusi digital akan membuat letak geografis semakin kehilangan arti. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Di tengah persaingan Amerika Serikat dan China, perang di Ukraina, serta perebutan semikonduktor, mineral kritis, dan rantai pasok global, geografi kembali menjadi salah satu faktor yang menentukan arah politik dunia.

Tidak mengherankan apabila sejumlah teori geopolitik klasik yang pernah dianggap usang kini kembali mendapat perhatian. Gagasan-gagasan yang dikemukakan lebih dari satu abad lalu ternyata masih membantu kita memahami dinamika persaingan kekuatan besar pada abad ke-21.

Pada akhir abad ke-19, Alfred Thayer Mahan, seorang perwira Angkatan Laut Amerika Serikat sekaligus pemikir strategi maritim, berpendapat bahwa negara yang menguasai lautan akan memiliki pengaruh global. Beberapa dekade kemudian, Halford Mackinder, ahli geografi dan geopolitik asal Inggris, mengemukakan teori Heartland yang menempatkan daratan Eurasia sebagai pusat gravitasi geopolitik dunia. Nicholas Spykman, ilmuwan politik Amerika kelahiran Belanda dan salah satu pelopor geopolitik modern, kemudian mengembangkan teori Rimland, yaitu kawasan pesisir Eurasia yang menjadi titik temu kekuatan darat dan laut. Ketiga pemikir tersebut tidak saling meniadakan, melainkan menjelaskan bagaimana perubahan teknologi, ekonomi, dan distribusi kekuatan membentuk geopolitik pada zamannya masing-masing.

Lebih dari satu abad kemudian, sejumlah analis kembali menggunakan kerangka tersebut untuk membaca perubahan lanskap geopolitik dunia. Salah satunya adalah Michael Beckley dan Hal Brands dalam Foreign Affairs (Juli 2026). Menurut mereka, dunia saat ini memperlihatkan kemunculan kembali persaingan klasik antara kekuatan daratan (Heartland) dan kekuatan maritim (Rimland), meskipun dalam bentuk yang sangat berbeda dari masa lalu.

Dalam pembacaan mereka, China dan Rusia menjadi inti kekuatan Heartland yang semakin terintegrasi. Iran dan Korea Utara dipandang sebagai bagian dari jaringan negara-negara revisionis yang, dengan kapasitas masing-masing, memperkuat tekanan terhadap tatanan internasional yang selama ini didominasi Barat. Berbeda dengan kekuatan kontinental pada masa Napoleon, Kekaisaran Jerman, atau Uni Soviet, Heartland masa kini bukanlah sebuah imperium tunggal, melainkan koalisi longgar yang disatukan oleh kepentingan bersama untuk mengurangi dominasi Amerika Serikat dan sekutunya.

Persaingan tersebut juga telah berubah sifat. Jika dahulu perebutan wilayah menjadi instrumen utama, kini kompetisi semakin banyak berlangsung melalui ekonomi, teknologi, industri, dan jaringan global. Serangan siber, disinformasi, penguasaan semikonduktor, mineral kritis, kabel data bawah laut, hingga rantai pasok strategis menjadi bagian dari persaingan geopolitik. Globalisasi sendiri tidak lagi hanya menjadi pendorong kerja sama internasional, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen pengaruh dan tekanan politik.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap menjadi jangkar utama Rimland dengan dukungan jaringan sekutu di Eropa dan Indo-Pasifik, termasuk negara-negara NATO, Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Menurut Beckley dan Brands, keunggulan utama koalisi ini bukan semata-mata terletak pada kekuatan militernya, tetapi pada kombinasi ukuran ekonomi, kepemimpinan teknologi, kapasitas industri, serta luasnya jaringan aliansi yang dimiliki. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa keunggulan tersebut tidak dapat dipertahankan tanpa kepemimpinan Amerika Serikat yang konsisten. Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, koordinasi dan kohesi di antara negara-negara Rimland dinilai menghadapi tantangan akibat meningkatnya kecenderungan unilateralisme dan berkurangnya kepercayaan sebagian sekutu terhadap komitmen Washington. Karena itu, persoalan utama Rimland bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan bagaimana mengoordinasikan seluruh keunggulan tersebut menjadi strategi bersama yang efektif.

Di sisi lain, negara-negara Heartland terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap sistem ekonomi dan teknologi yang didominasi Barat. Mereka memperluas jaringan perdagangan alternatif, memperkuat kerja sama industri, mengembangkan teknologi domestik, serta membangun ketahanan terhadap berbagai bentuk pembatasan ekonomi dan teknologi. Persaingan kedua kubu pun semakin bergeser dari konfrontasi militer langsung menuju kompetisi jangka panjang dalam bidang ekonomi, industri, teknologi, dan keamanan.

Namun, salah satu bagian paling menarik dari analisis Beckley dan Brands justru menyangkut posisi negara-negara Global South. Mereka berpendapat bahwa Rimland tidak perlu terobsesi memenangkan seluruh negara berkembang. Sebagaimana pada masa Perang Dingin, banyak negara akan tetap memilih pendekatan yang pragmatis sesuai kepentingan nasional masing-masing. Sebagian tertarik pada investasi dan pembiayaan dari China, tetapi pada saat yang sama juga mengkhawatirkan kelebihan kapasitas industri, praktik dumping, maupun ketergantungan ekonomi yang berlebihan. Karena itu, dunia kemungkinan tidak akan kembali terbagi secara kaku ke dalam dua blok yang saling berhadapan. Yang lebih mungkin muncul adalah negara-negara yang terus menjalankan strategi hedging, bekerja sama dengan berbagai pihak sesuai isu dan kepentingannya.

Bagi ASEAN, perkembangan tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Kawasan ini berada di persimpangan dua samudra dan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Posisi tersebut menjadikan ASEAN semakin penting, tetapi sekaligus semakin rentan terhadap dampak rivalitas kekuatan besar. Menjaga persatuan kawasan dan sentralitas ASEAN karena itu tetap menjadi kepentingan strategis.

Bagi Indonesia, pelajaran terpenting bukanlah menentukan apakah Heartland atau Rimland yang pada akhirnya akan lebih unggul. Yang jauh lebih penting adalah memahami bahwa persaingan geopolitik masa kini semakin ditentukan oleh kualitas ekonomi, teknologi, industri, dan kemampuan beradaptasi. Posisi geografis Indonesia yang strategis, kekayaan mineral kritis, serta peran pentingnya di Indo-Pasifik merupakan modal yang besar. Namun, modal tersebut hanya akan menjadi sumber kekuatan apabila didukung oleh daya saing ekonomi, penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia, serta kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan dan ketahanan nasional.

Pada akhirnya, membaca ulang teori Heartland dan Rimland bukan berarti menerima seluruh kerangka tersebut tanpa kritik. Dunia abad ke-21 jauh lebih kompleks daripada pembelahan geopolitik klasik. Namun, teori-teori tersebut tetap relevan sebagai salah satu lensa untuk memahami bagaimana geografi, teknologi, ekonomi, dan politik saling berinteraksi membentuk tatanan internasional. Bagi Indonesia, tantangan sesungguhnya bukan memilih salah satu kubu, melainkan memastikan bahwa bangsa ini memiliki daya saing dan ruang gerak strategis yang cukup untuk tetap menjadi subjek, bukan sekadar objek, dalam perubahan geopolitik dunia.

---000---