Killing Fields, dan sehari penuh kengerian di penjara S-21

Saya adalah Pekerja di Bidang Lingkungan yang senang menulis sebagai sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman
Tulisan dari Yus Rusila Noor tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerita horor bagian 1
Lagu “Imagine” yang dilantunkan oleh John Lennon mengalun sayu mengiringi pertemuan dua kawan lama, dan menandai berakhirnya film “the Killing Fields”. Lagu tersebut seakan menyuarakan berbagai kegetiran perjalanan hidup manusia yang tersaji dalam film tersebut. Film tersebut memang telah berhasil mengangkat salah satu sisi kelam dari sejarah kehidupan manusia.
The Killing Fields sejatinya menggambarkan dengan cerdas kisah mengenai pentingnya keinginan untuk bertahan hidup dalam kondisi apapun dan tanggung jawab yang mengiringi pengambilan suatu keputusan yang dibalut dalam persahabatan dua orang manusia berbeda bangsa, yang secara fisik berasal dari dua bangsa yang letaknya berjauhan, Amerika dan Kamboja, dengan latar belakang situasi kekejaman selama rezim Khmer Merah berkuasa di Kamboja pada tahun 1975 – 1979. Mereka adalah Sydney Schanberg, seorang koresponden the New York Times di Kamboja, dan Dith Pran, seorang wartawan. Cerita untuk film tersebut diadaptasi dari sebuah memoir yang ditulis Sydney di Harian New York Times dan kemudian memberinya hadiah Pulitzer, The Death and Life of Dith Pran (Kematian dan Kehidupan Dith Pran).
Dalam film tersebut, keduanya diperankan dengan sangat menawan oleh Sam Waterston dan Dr. Haing S. Ngor. Kredit tersendiri sebenarnya harus diberikan kepada Dr. Ngor, yang adalah juga merupakan salah seorang yang pernah selama 4 tahun mengalami langsung kekejaman rezim Khmer Merah, karena sebenarnya beliau bukanlah seorang aktor. Ini merupakan debutnya di dunia film, dan luar biasanya adalah karena beliau kemudian memperoleh hadiah Oscar 1985 sebagai Peran Pendukung terbaik. Ironisnya, Dr. Ngor kemudian ditemukan terbunuh di garasi rumahnya wilayah Pecinan Los Angeles, konon karena diserang anak-anak tanggung yang menginginkan jam Rolex-nya. Mengetahui kematiannya, Dith Pran yang saat itu berhasil mencapai perbatasan Thailand dan kemudian pindah ke Amerika (dan menjadi juru foto di Harian New York Times), berkata bahwa Dr. Ngor adalah seperti saudara kembarnya, dan kematiannya menjadikan dirinya sendiri kesepian. Dith Pran akhirnya juga dilaporkan meninggal pada usia 65 tahun karena serangan kanker.
Penjara S-21
Cerita tentang masa kelam Kamboja serta kekejaman rezim Khmer Merah dengan para kemerad dan kadernya tidak bisa dilepaskan dari sebuah komplek bangunan sekolah lanjutan dan sekolah dasar yang kemudian dirubah menjadi tempat tahanan dan interogasi. Bangunan tersebut menggambarkan betapa rezim Khmer Merah dengan selogannya “tahun nol”, telah mengubah wajah manusia berubah menjadi iblis maha kejam dan tidak berperikemanusiaan. Rezim yang di barat disebut sebagai “Nazi-nya Kamboja” telah memaksakan kehendaknya untuk melenyapkan mereka yang berpendidikan, kaum terpelajar dan professional, serta kaum agamawan dari muka bumi. Mereka hanya menginginkan lapisan petani yang bekerja di lahan pertanian dan membawa Kamboja sebagai negara agraris, meskipun sebenarnya pemimpin rezim ini adalah para kaum terpelajar, beberapa bahkan bergelar Professor. Bangunan tersebut kemudian dikenal sebagai “S – 21”. Diyakini bahwa huruf “S” berasal dari kata Sala yang berarti ruangan, sementara angka 21 adalah merupakan kode nama untuk suatu pasukan polisi khusus dari rezim Khmer Merah. Di bangunan inilah pasukan polisi khusus menginterogasi dan menyiksa warga Kamboja dan warga asing yang ditangkap karena dianggap memiliki kegiatan dan posisi yang berlawanan dengan prinsip dan ideologi yang dianut oleh rezim Khmer Merah.
Saya kebetulan dapat kesempatan langsung untuk bisa mengunjungi bangunan yang sekarang disebut sebagai “Tuol Sleng Genocide Museum”, yang berlokasi di Street 113 & St 350, Phnom Penh, Kamboja. Letaknya berada di tengah kota yang tidak sulit untuk dicapai dengan menggunakan Tuk-tuk. Untuk memasuki museum yang setiap hari buka antara jam 07.00 – 17.30 tersebut, pengunjung harus membayar tiket sebesar AS$3, kecuali untuk peneliti, pelajar dan anak-anak. Di pintu masuk, ada peringatan untuk para pengunjung, diantaranya untuk tenang dan tidak ribut, sopan serta menghormati arwah para korban yang meninggal tidak wajar di bangunan tersebut.
Segera setelah memasuki pintu pemeriksaan karcis, pengunjung dihadapkan pada halaman asri yang cukup luas dengan tumbuhan kamboja yang menawarkan keteduhan diantara teriknya sinar matahari. Saya tidak tahu kenapa pohon yang aslinya berasal dari Amerika tengah – selatan tropis dan punya nama latin Plumeria acuminata (konon sebagai penghormatan untuk botanis asal Perancis, Charles Plumier), tersebut di Indonesia memiliki nama yang sama dengan negara Kamboja. Sementara di Kamboja sendiri, menurut penjaga karcis, namanya adalah châmpéi krahâ:m (krahom berarti merah), yang di telinga saya mirip-mirip dengan “campa” atau “Kampuchea” yang juga merupakan nama lama dari Kamboja. Dibawah naungan pohon kamboja ada beberapa bangunan kuburan putih yang kabarnya berisi 14 mayat korban yang telah disiksa dan dibunuh pada saat-saat terakhir penjara tersebut dikosongkan, tahun 1979. Di bagian samping bangunan tersebut ada juga bangunan tiang yang digunakan untuk menggantung dan menyiksa para tahanan. Di salah satu sudut, terdapat papan yang berisi cuplikan dalam Bahasa Khmer, Perancis dan Inggris terkait aturan mengerikan yang diterapkan pada waktu itu. Peraturan itu berbunyi:
Kamu harus menjawab pertanyaan saya. Jangan menghindar. You must answer accordingly to my question. Don’t turn them away.
Jangan menyembunyikan fakta dengan berbasa-basi, kamu dilarang keras untuk melawan saya. Don’t try to hide the facts by making pretexts this and that, you are strictly prohibited to contest me.
Jangan bertindak bodoh berani melawan revolusi. Don’t be a fool for you are a chap who dares to thwart the revolution.
Kamu harus segera menjawab pertanyaan saya dan jangan buang waktu. You must immediately answer my questions without wasting time to reflect.
Jangan ngomong tentang ketidakbermoralan kamu atau isi dari revolusi. Don’t tell me either about your immoralities or the essence of the revolution.
Jangan menangis kalau dicambuk atau disetrum. While getting lashes or electrification you must not cry at all.
Jangan melakukan apapun, tetap duduk dan tunggu perintah saya. Jika tidak ada perintah, tetap diam. Kalau saya perintahkan sesuatu, segera lakukan dan tidak boleh protes. Do nothing, sit still and wait for my orders. If there is no order, keep quiet. When I ask you to do something, you must do it right away without protesting.
Jangan berbasa-basi tentang suku Khmer Krom untuk menyembunyikan seseorang atau pengkhianat. Don’t make pretext about Kampuchea Kromin order to hide your secret or traitor.
Jika tidak mengikuti aturan diatas, kamu akan lebih banyak menerima cambukan dan setruman. If you don’t follow all the above rules, you shall get many lashes of electric wire.
Jika kamu membangkang aturan saya, kamu akan dicambuk sepuluh kali atau diestrum lima kali. If you disobey any point of my regulations you shall get either ten lashes or five shocks of electric discharge.
Rute kunjungan dimulai dengan berbelok ke arah kiri, memasuki bangunan putih kusam berlantai tiga, yang aslinya adalah merupakan bangunan sekolah. Di lantai pertama terdapat 10 ruangan, sementara di lantai 2 dan 3 masing-masing terdapat 5 ruangan berukuran lebih besar dibanding lantai pertama. Ketiga lantai tersebut saat itu digunakan sebagai tempat untuk mengurung, menginterogasi dan menyiksa tahanan. Khusus untuk bangunan ini tahanan yang ditempatkan disini adalah berasal dari kelompok pejabat atau mereka yang pernah menduduki posisi tinggi.
Bersambung ke Cerita Horor Bagian 2
