Konten dari Pengguna

Membangun bersama Alam, bukan Melawannya

Yus Rusila Noor

Yus Rusila Noor

Saya adalah Pekerja di Bidang Lingkungan yang senang menulis sebagai sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yus Rusila Noor tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yus Rusila Noor

Direktur, Wetlands International Indonesia

Jakarta dan sebagian besar pesisir utara Pulau Jawa berada di garis depan krisis iklim. Abrasi pantai, penurunan muka tanah yang cepat, dan kenaikan muka air laut telah menggusur banyak keluarga, dan membuat banyak lahan persawahan dan tambak menjadi rusak. Ancaman ini bukan hanya menghancurkan infrastruktur dan rumah-rumah warga, tetapi juga mengancam ketahanan pangan dan penghidupan jutaan orang.

Gambar 1. Naiknya permukaan laut yang diperparah dengan penurunan muka tanah di Wilayah Demak membuat rumah-rumah warga di Desa Sriwulan terendam secara permanen dan ditinggalkan penghuninya. Foto: Apri Astra/Wetlands International Indonesia

Merespon tantangan tersebut, Pemerintah Indonesia telah menunjukkan minat yang semakin besar terhadap pendekatan perlindungan pesisir berbasis hibrid—yakni perpaduan antara pemanfaatan jasa ekosistem alami dan rekayasa teknik. Seperti dikatakan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Lilik Retno Cahyadiningsih, bahwa pembangunan sistem pertahanan pesisir pantai utara Jawa tidak hanya mengandalkan tanggul laut beton namun juga menggunakan sabuk hijau mangrove (Kompas.com, 09/04/2025).

Pemikiran yang terintegrasi ini mencerminkan perubahan menuju praktik terbaik dalam adaptasi iklim dan pengelolaan kawasan pesisir—serta pengakuan bahwa ketangguhan tidak bisa dibangun hanya melalui rekayasa teknis.

Mengapa Solusi Hibrid Semakin Penting?

Tanggul beton memang dapat memberikan perlindungan jangka pendek, terutama di wilayah perkotaan berisiko tinggi seperti Jakarta dan Semarang. Namun, infrastruktur ‘abu-abu’ ini terbilang cukup mahal biaya pembangunan dan perawatannya, dapat mengganggu pola aliran sedimen alami, dan tidak dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Saat abrasi, banjir rob, dan penurunan tanah makin parah, pertahanan yang kaku ini bisa gagal atau justru memindahkan masalah ke wilayah pesisir lainnya.

Gambar 2. Infrastruktur keras wilayah pesisir mengganggu pola aliran sedimen alami. Kenaikan muka air laut dan intensitas badai yang meningkat dapat merusak tanggul, menghilangkan fungsi perlindungan pesisir. Foto: Stephan Verschure

Sebaliknya, solusi berbasis alam seperti sabuk mangrove, menawarkan pertahanan alami yang berkelanjutan. Sabuk mangrove yang sehat dan lebar dapat menyerap energi gelombang, menjebak sedimen, mengurangi banjir dan abrasi, serta mendukung keanekaragaman hayati dan produksi perikanan—menyediakan manfaat ganda yang tidak bisa diberikan oleh struktur beton.

Tentu saja, di wilayah perkotaan padat atau sekitar infrastruktur vital, solusi berbasis alam saja belum cukup. Di sinilah solusi hibrid—pendekatan terpadu yang menggabungkan infrastruktur ‘keras’—seperti tanggul laut, pemecah gelombang, dan bendungan dengan intervensi berbasis alam (nature-based solutions) seperti konservasi dan rehabilitasi mangrove—menjadi pendekatan yang lebih efektif. Pendekatan ini memanfaatkan keunggulan dari kedua sistem— perlindungan langsung dan spesifik yang diberikan oleh struktur rekayasa teknik, serta ketahanan jangka panjang yang adaptif dan membawa banyak manfaat tambahan dari ekosistem alami.

Intervensi berbasis alam bersifat fleksibel dan dapat beradaptasi dengan kenaikan muka air laut, penurunan muka tanah, dan dinamika pesisir, tanpa perlu membangun ulang secara total. Mangrove yang sehat—jika mendapat cukup ruang dan suplai sedimen—dapat berpindah ke arah daratan secara alami seiring naiknya permukaan laut.

Pelajaran dari Demak, Jawa Tengah

Jenis perlindungan pesisir terintegrasi dan adaptif tersebut merupakan inti dari pendekatan rekayasa hibrid yang telah dikembangkan melalui program percontohan skala besar di Indonesia. Di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, inisiatif rintisan ‘Membangun bersama Alam’ telah diterapkan secara langsung atas kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Kerajaan Belanda. Pada inisiatif tersebut, struktur rekayasa permeabel dibangun untuk menumpuk kembali sedimen dan menghidupkan kembali hutan mangrove secara alami pada lahan yang terabrasi. Inisiatif tersebut juga memperkenalkan sistem tambak terhubung mangrove guna menciptakan kembali sabuk hijau mangrove yang memberikan perlindungan dari abrasi dan meningkatkan kualitas air bagi produktifitas tambak.

Meskipun menghadapi tantangan, hasilnya telah terlihat. Dalam hitungan tahun, pertahanan pesisir sabuk mangrove mulai berangsur mendekati pulih, menstabilkan garis pantai dan meningkatkan produktifitas tambak, membangkitkan kembali harapan masyarakat setempat.

Gambar 3 Rekayasa teknik struktur permeabel - konstruksi seperti pagar dan terdiri dari dua baris tiang vertikal dengan ranting-ranting kering diantaranya. Pada tingkat lanskap, struktur ini bertujuan untuk menghentikan erosi dan mendapatkan kembali garis pantai yang stabil dengan memulihkan keseimbangan sedimen di pesisir dari abrasi menjadi akresi untuk menciptakan kondisi rekolonisasi mangrove alami. Foto menunjukan perubahan ketinggian sedimen dari Oktober 2015 (atas) hingga November 2016 (bawah). Foto: Yus Rusila Noor (Wetlands International Indonesia
Gambar 4. Akumulasi sedimen di belakan struktur permeabel di Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak sudah terjadi dan memadat pada Oktober 2024 (bawah) dibandingkan kondisi pada Mei 2017 (atas). Dalam beberapa waktu kedepan pertumbuhan mangrove alami dapat terjadi jika tidak ada gangguan akibat dinamika pantai. Sumber: Google Earth

Kini, pendekatan Membangun bersama Alam sedang diperluas dan diadaptasi melalui inisiatif global dan nasional untuk mendorong transformasi yang lebih luas dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir. Melalui perencanaan lanskap yang inklusif, kebijakan dan kelembagaan yang kuat, alih pengetahuan dan pengembangan kapasitas lokal, serta investasi yang lebih cerdas, kita bisa menciptakan lanskap pesisir Indonesia yang lebih tangguh.

Ke depan, keberhasilan solusi rekayasa hibrid di wilayah seperti pantai utara Jawa sangat bergantung pada pendekatan sistemik dan terpadu. Upaya pemulihan koridor ekologi—yang menghubungkan laut/sungai, hutan mangrove dan lahan produksi tambak—dapat meningkatkan kualitas dan hasil tambak, melindungi pemukiman warga dari abrasi dan intrusi air laut, serta menjadi penyangga alami terhadap ancaman bencana lainnya yang dipicu iklim. Semua jasa ekosistem ini sangat penting untuk ketahanan pangan, perlindungan pesisir, dan keberlanjutan ekonomi jangka panjang.

Langkah tepat Indonesia dalam mendorong solusi hibrid menunjukkan bahwa kita siap mengadopsi model pembangunan yang cerdas, berkelanjutan, dan inklusif. Kini saatnya memperkuat komitmen tersebut.

Kunjungan Misi Dagang Kerajaan Belanda ke Indonesia pada 16–19 Juni 2025 merupakan peluang strategis untuk mewujudkan visi ini. Pengalaman kemitraan yang panjang antara Pemerintah Indonesia dan Kerajaan Belanda dalam pengelolaan sektor air memberikan posisi kuat untuk bersama menciptakan dan mendanai solusi hibrid berskala luas di seluruh Indonesia. Bersama, kita dapat mempercepat investasi, memperluas inovasi, dan mewujudkan ketahanan pesisir dengan membangun bersama alam, bukan melawannya.