Ketika Lingkungan Menjadi Bahasa Peradaban

Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yusi Ramadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lingkungan sering dipahami sebatas tempat manusia hidup. Padahal, lingkungan juga menjadi ruang yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan makhluk hidup lain, serta manusia dengan sumber daya yang menopang kehidupannya. Cara manusia memperlakukan lingkungan sebenarnya menunjukkan bagaimana sebuah peradaban memahami kebutuhan hidupnya sendiri.
Komunikasi tidak selalu berlangsung melalui kata-kata. Kondisi sungai, kualitas udara, perubahan tutupan lahan, berkurangnya ruang hijau, hingga munculnya berbagai persoalan lingkungan juga dapat menjadi tanda yang menyampaikan sesuatu kepada manusia. Lingkungan seolah menjadi bahasa yang menunjukkan apakah hubungan manusia dengan alam berjalan secara seimbang atau justru mulai mengalami tekanan.
Lingkungan dan Komunikasi Kehidupan
Setiap makhluk hidup memiliki cara berinteraksi dengan lingkungan. Manusia menggunakan bahasa, teknologi, dan berbagai bentuk komunikasi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Makhluk hidup lainnya merespons perubahan lingkungan melalui perilaku, pola hidup, dan kemampuan beradaptasi.
Persoalannya muncul ketika kemampuan manusia mengubah lingkungan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan lingkungan untuk memulihkan dirinya. Teknologi memang membuat kehidupan manusia semakin mudah, tetapi setiap teknologi juga memiliki jejak penggunaan sumber daya dan menghasilkan residu.
Di titik ini, komunikasi dengan lingkungan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan menyampaikan pesan tentang lingkungan. Komunikasi juga berarti kemampuan manusia membaca perubahan lingkungan dan menjadikannya dasar dalam mengambil keputusan.
Ketika Lingkungan Mulai Memberikan Sinyal
Kondisi lingkungan Indonesia dapat dilihat melalui berbagai indikator. Salah satunya adalah Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH), yang digunakan untuk menggambarkan kualitas lingkungan melalui sejumlah komponen seperti kualitas air, udara, lahan, dan air laut.
Data BPS dalam Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2025 menunjukkan IKLH nasional tahun 2024 sebesar 73,53, meningkat dibandingkan 72,54 pada 2023. Angka tersebut menunjukkan kondisi lingkungan secara agregat, tetapi tidak berarti seluruh persoalan lingkungan telah selesai. Kualitas lingkungan tetap berbeda antarwilayah dan setiap komponen memiliki persoalan masing-masing.
Data tersebut penting karena lingkungan tidak cukup dinilai berdasarkan kesan bahwa suatu wilayah terlihat hijau atau bersih. Kualitas air, udara, lahan, dan ekosistem perlu dipantau secara terukur agar perubahan yang terjadi dapat diketahui dan menjadi dasar pengambilan kebijakan.
Lingkungan yang mengalami pencemaran atau kehilangan fungsi ekologis sebenarnya sedang memberikan sinyal. Persoalannya, apakah manusia mau membaca sinyal tersebut sebelum dampaknya semakin besar?
Ketika Komunikasi Tidak Berjalan
Hubungan manusia dengan lingkungan dapat terganggu ketika keputusan pembangunan hanya melihat kebutuhan jangka pendek. Pembangunan kawasan permukiman, industri, infrastruktur, pertambangan, pertanian, dan berbagai aktivitas ekonomi membutuhkan ruang serta sumber daya.
Masalah muncul ketika pemanfaatan ruang tidak memperhitungkan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Sungai dapat menerima limbah sampai batas tertentu. Udara memiliki kemampuan terbatas untuk menerima emisi. Tanah dan ekosistem juga memiliki kemampuan tertentu untuk menyerap tekanan.
Jika batas tersebut terus dilewati, lingkungan memberikan respons dalam bentuk yang dapat dirasakan manusia, seperti pencemaran air, penurunan kualitas udara, banjir, kekeringan, erosi, kehilangan habitat, hingga konflik pemanfaatan sumber daya.
Persoalan lingkungan bukan hanya persoalan teknis. Ia juga berkaitan dengan bagaimana informasi lingkungan disampaikan, siapa yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan, dan sejauh mana masyarakat dapat mengetahui serta menyampaikan kondisi lingkungannya.
Politik Lingkungan dan Arah Pembangunan
Di sinilah lingkungan bertemu dengan kebijakan. Keputusan mengenai pemanfaatan lahan, pembangunan infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam, pengendalian pencemaran, dan perlindungan ekosistem selalu berkaitan dengan pilihan pembangunan.
Istilah environmental politics atau politik lingkungan dapat digunakan untuk melihat bagaimana kepentingan, kekuasaan, kebijakan, dan sumber daya berhubungan dalam pengelolaan lingkungan. Perspektif ini membantu menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak selalu muncul karena masyarakat tidak peduli. Ada keputusan, tata kelola, kepentingan ekonomi, kapasitas pengawasan, dan pilihan kebijakan yang ikut menentukan kondisi lingkungan.
Komunikasi lingkungan tidak cukup berhenti pada kampanye untuk membuang sampah pada tempatnya atau menghemat air dan energi. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi tentang rencana pembangunan, perubahan penggunaan ruang, risiko lingkungan, serta dampak dari suatu kegiatan.
Lingkungan sebagai Ruang Peradaban
Peradaban manusia berkembang karena manusia mampu memanfaatkan lingkungan. Kota tumbuh, teknologi berkembang, industri dibangun, dan kebutuhan manusia semakin kompleks. Semua itu membutuhkan sumber daya alam.
Tetapi peradaban juga diuji dari kemampuannya mempertahankan sumber daya tersebut. Lingkungan yang rusak akan membatasi pilihan generasi berikutnya. Sungai yang tercemar membutuhkan biaya lebih besar untuk dipulihkan. Hutan yang hilang membutuhkan waktu panjang untuk kembali. Tanah yang terdegradasi tidak selalu mudah dikembalikan seperti kondisi sebelumnya.
Lingkungan tidak tepat diposisikan hanya sebagai objek pembangunan. Lingkungan merupakan bagian dari sistem kehidupan yang menentukan apakah pembangunan dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Ada Tanggung Jawab yang Harus Dibagi
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menempatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai hak setiap warga negara serta menegaskan pentingnya pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. UU tersebut telah mengalami perubahan, antara lain melalui UU Nomor 6 Tahun 2023.
Artinya, menjaga lingkungan bukan hanya tugas masyarakat. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam membuat kebijakan, memberikan informasi, melakukan pengawasan, dan memastikan kegiatan pembangunan memenuhi ketentuan lingkungan. Pelaku usaha bertanggung jawab mengendalikan dampak kegiatan yang dijalankan. Masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga lingkungan dan menyampaikan informasi ketika terjadi persoalan lingkungan.
Pembagian tanggung jawab tersebut penting agar persoalan lingkungan tidak selalu dikembalikan kepada perilaku individu. Kebiasaan masyarakat memang berpengaruh, tetapi sistem pengelolaan, kebijakan, infrastruktur, pengawasan, dan keputusan pembangunan juga menentukan hasil akhirnya.
Membaca Lingkungan Sebelum Terlambat
Lingkungan sebenarnya terus berkomunikasi dengan manusia. Perubahan kualitas air, udara, lahan, dan ekosistem adalah informasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi arah pembangunan.
Karena itu, komunikasi lingkungan perlu dibangun melalui data yang terbuka, pendidikan yang mudah dipahami, partisipasi masyarakat, serta kebijakan yang mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Teknologi juga dapat digunakan untuk memantau kualitas lingkungan dan menyampaikan informasi secara cepat kepada masyarakat.
Transisi menuju energi yang lebih bersih, pengurangan pencemaran, perlindungan ekosistem, pengelolaan sampah, serta pemanfaatan sumber daya secara efisien merupakan bagian dari upaya memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungannya.
Lingkungan adalah Cermin Peradaban
Peradaban tidak hanya dapat dilihat dari gedung tinggi, jalan yang panjang, teknologi yang canggih, atau pertumbuhan ekonomi. Peradaban juga dapat dilihat dari kemampuan manusia menjaga air tetap tersedia, udara tetap layak dihirup, tanah tetap produktif, dan ekosistem tetap berfungsi.
Lingkungan bukan sekadar tempat manusia tinggal. Ia adalah ruang tempat kehidupan berlangsung dan tempat berbagai makhluk saling terhubung.
Jika lingkungan terus memberikan sinyal kerusakan, manusia perlu belajar membaca dan meresponsnya. Sebab, ketika hubungan manusia dengan lingkungan terputus, yang kehilangan bukan hanya alam. Manusia juga kehilangan sebagian dari ruang hidupnya sendiri.
