Konten dari Pengguna

Blue Food: Jalan Pintas Menuju Stabilitas Ketahanan Pangan

Yusixka Satyaningrum

Yusixka Satyaningrum

Nature Enthusiast, menulis reviu buku dan berpuisi di https://kenangkata.blogspot.com/ sambil mengamati perkembangan dunia perikanan.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusixka Satyaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Blue Food. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Blue Food. Foto: Getty Images

Blue food atau pangan biru adalah istilah yang mengacu pada sumber pangan yang berasal dari laut dan perairan tawar, seperti ikan, kerang, rumput laut, dan alga. Selama ini, blue food sering dianggap sebagai alternatif sumber pangan di tengah isu ketahanan pangan global. Blue food dapat menjadi solusi potensial untuk mengatasi ketahanan pangan global, terutama dengan meningkatnya populasi dan perubahan iklim.

Selain pertanian berbasis lahan, lautan memainkan peran penting dalam ketahanan pangan Indonesia. Perikanan laut tidak hanya menyediakan makanan tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang rentan.

Potensi Blue Food untuk Ketahanan Pangan

Berikut beberapa alasan mengapa blue food penting untuk ketahanan pangan:

  1. Sumber Nutrisi Lengkap: Blue food kaya akan protein, vitamin, mineral, dan omega-3 yang essential bagi kesehatan dan perkembangan manusia.

  2. Potensi Besar: Lautan Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan blue food, dengan garis pantai terpanjang di dunia dan kekayaan laut yang berlimpah.

  3. Kelestarian: Budidaya blue food dapat dilakukan secara berkelanjutan, ramah lingkungan, dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut.

  4. Solusi Nyata: Dapat menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan protein dan gizi buruk, terutama di daerah pesisir sebagai salah satu alternatif diversifikasi bahan pangan.

  5. Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat: Potensi yang besar dengan variasi yang beragam adalah modal dalam diversifikasi usaha untuk meningkatkan pendapatan dan lapangan kerja bagi masyarakat pesisir.

Namun begitu, konsumsi ikan di Indonesia masih rendah dibanding negara tetangga Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan, angka konsumsi ikan nasional mencapai 56,48 kilogram (kg) per kapita pada 2022 alias tumbuh 2,39% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Nilai ini menjadi rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Jika dibandingkan dengan tahun 2012, angka konsumsinya sudah melonjak 66,65%. Meskipun blue food memiliki banyak potensi, terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti:

  • Pencemaran laut: Pencemaran laut dapat membahayakan kesehatan manusia dan biota laut.

  • Overfishing: Penangkapan ikan berlebihan dapat mengancam kelestarian sumber daya laut.

  • Budidaya yang tidak berkelanjutan: Budidaya blue food yang tidak berkelanjutan dapat merusak lingkungan.

  • Akses dan infrastruktur: Akses dan infrastruktur untuk pengolahan dan distribusi blue food masih terbatas di beberapa wilayah.

Untuk memaksimalkan peran blue food untuk menjadi penyokong dalam mencapai stabilitas ketahanan pangan dapat dilakukan dengan mengatasi tantangan tersebut dengan beberapa solusi yaitu:

1. Meningkatkan akses: Membangun infrastruktur perikanan dan budidaya laut di daerah terpencil. Meningkatkan distribusi dengan membangun rantai pasokan yang lebih efisien.

2. Menurunkan harga: Meningkatkan efisiensi produksi dengan menggunakan teknologi yang tepat. Meningkatkan edukasi dan promosi tentang manfaat blue food agar lebih mudah diterima oleh pasar domestik. Memberikan subsidi dan insentif bagi pembudidaya.

3. Memastikan keberlanjutan: Menerapkan praktik budidaya yang ramah lingkungan berkelanjutan. Mengatur regulasi dan pengawasan terhadap budidaya laut dan penangkapan ikan. Melakukan penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan produksi blue food secara berkelanjutan.

4. Meningkatkan jaminan keamanan pangan: Melakukan monitoring dan pengawasan terhadap mutu dan keamanan produksi blue food agar nilai gizi terjaga Meningkatkan edukasi dan pengetahuan tentang keamanan pangan produk blue food untuk meningkatkan tingkat konsumsi.

Dengan memanfaatkan potensi blue food secara optimal, Indonesia dapat mencapai stabilitas ketahanan pangan. Blue food bukan lagi alternatif, melainkan solusi utama untuk menyediakan sumber pangan yang bergizi, berkelanjutan, dan terjangkau bagi seluruh rakyat Indonesia.

Blue Food Assessment

Blue Food Assessment diluncurkan pada tahun 2021 dan diinisiasi oleh Stockholm Resilience Centre, the Center for Ocean Solutions and Center on Food Security dan the Environment at Stanford University dan EAT yang mempertemukan para ilmuwan dari berbagi institusi di seluruh dunia. Beberapa faktor yang mungkin mendorong munculnya konsep ini antara lain:

  • Meningkatnya populasi dunia: Kebutuhan pangan diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi global.

  • Penurunan stok ikan liar: Praktik penangkapan ikan yang berlebihan menyebabkan penurunan stok ikan liar di laut.

  • Dampak perubahan iklim: Perubahan iklim mempengaruhi ekosistem laut dan berpotensi mengganggu keberlanjutan sumber daya perikanan.

Blue Food yang menjadi salah satu produk dari Agenda Biru Nasional yang merupakan bagian target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024.

Kementerian PPN/ Bappenas akan melaksanakan Blue Food Assessment (Penilaian Status Pangan Akuatik) tingkat Nasional bersama mitra pembangunan, sebagai langkah tindak lanjut dari peluncuran Peta Jalan Ekonomi Biru Indonesia dalam mewujudkan visi Ekonomi Biru Indonesia dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui penilaian ini diharapkan mampu menjadi instrumen penting untuk:

  • Mengidentifikasi potensi dan tantangan: Mengetahui potensi produksi, jenis pangan akuatik unggulan, dan hambatan yang dihadapi.

  • Mengembangkan strategi: Merumuskan strategi dan kebijakan dalam pengembangan sistem pangan akuatik yang efektif dan berkelanjutan.

  • Memperkuat ketahanan pangan: Meningkatkan kontribusi pangan akuatik dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

  • Mendukung ekonomi biru: Mengembangkan ekonomi berbasis sumber daya laut secara berkelanjutan.

Data dan informasi yang komprehensif dapat membantu para pengambil keputusan dalam mengevaluasi peluang dan menerapkan solusi untuk membangun sistem ketahanan pangan yang sehat, adil dan berkelanjutan dan menjadi masukan yang penting dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Indonesia dengan potensi sumber daya kelautan yang begitu besar mempunyai peluang yang tinggi dalam menciptakan ketahan pangan nasional dan berkontribusi pada ketahanan pangan global melalui blue food.