Konten dari Pengguna

Refocusing Agenda Biru Melalui Blue Food Assessment

Yusixka Satyaningrum

Yusixka Satyaningrum

Nature Enthusiast, menulis reviu buku dan berpuisi di https://kenangkata.blogspot.com/ sambil mengamati perkembangan dunia perikanan.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusixka Satyaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Oziel Gómez: https://www.pexels.com/id-id/foto/foto-tumpukan-ikan-1578445/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Oziel Gómez: https://www.pexels.com/id-id/foto/foto-tumpukan-ikan-1578445/

Blue Food Assessment (BFA) ditujukan sebagai dukungan kepada para pengambil keputusan dalam mengevaluasi timbal balik atas kebijakan dan menetapkan solusi berkelanjutan agenda biru untuk membangun ekosistem yang sehat menuju sistem pangan yang adil dan berkelanjutan.

BFA diluncurkan pada tahun 2021 sebagai inisiatif bersama internasional yang mempertemukan lebih dari 100 ilmuwan dari lebih dari 25 institusi. Dipimpin oleh Pusat Ketahanan Stockholm di Universitas Stockholm, Pusat Solusi Kelautan dan Pusat Ketahanan Pangan dan Lingkungan di Universitas Stanford , dan EAT.

BFA menyajikan tinjauan yang belum pernah terjadi sebelumnya mengenai sektor pangan akuatik dan telah mengungkap bagaimana perikanan dan akuakultur dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mewujudkan pola makan yang sehat dan sistem pangan yang lebih berkelanjutan, adil, dan berketahanan di seluruh dunia.

Tujuan BFA:

  • Memetakan Potensi dan Tantangan: BFA akan menganalisis potensi dan hambatan pengembangan pangan akuatik di Indonesia, termasuk identifikasi wilayah dengan potensi tinggi, komoditas unggulan, dan hambatan yang dihadapi oleh para pemangku kepentingan.

  • Mengembangkan Strategi Tepat Sasaran: Hasil BFA akan menjadi dasar untuk merumuskan strategi dan kebijakan yang tepat sasaran dalam pengembangan sistem pangan akuatik. Strategi ini akan fokus pada peningkatan produksi, diversifikasi produk, dan penguatan rantai nilai.

  • Memperkuat Ketahanan Pangan: BFA diharapkan dapat meningkatkan kontribusi pangan akuatik dalam mencapai ketahanan pangan nasional. Hal ini akan dilakukan dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan akuatik yang aman, bergizi, dan terjangkau.

  • Mendukung Ekonomi Biru: Memetakan Potensi dan Tantangan: PSPA akan menganalisis potensi dan hambatan pengembangan pangan akuatik di Indonesia, termasuk identifikasi wilayah dengan potensi tinggi, komoditas unggulan, dan hambatan yang dihadapi oleh para pemangku kepentingan.

  • Mengembangkan Strategi Tepat Sasaran: Hasil BFA akan menjadi dasar untuk merumuskan strategi dan kebijakan yang tepat sasaran dalam pengembangan sistem pangan akuatik. Strategi ini akan fokus pada peningkatan produksi, diversifikasi produk, dan penguatan rantai nilai.

  • Memperkuat Ketahanan Pangan: BFA diharapkan dapat meningkatkan kontribusi pangan akuatik dalam mencapai ketahanan pangan nasional. Hal ini akan dilakukan dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan akuatik yang aman, bergizi, dan terjangkau.

  • Mendukung Ekonomi Biru: BFA akan menjadi landasan untuk mengembangkan ekonomi biru yang berkelanjutan di Indonesia. Pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan akan dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil. akan menjadi landasan untuk mengembangkan ekonomi biru yang berkelanjutan di Indonesia. Pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan akan dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

Manfaat BFA:

  • Memperkuat Data dan Informasi: BFA akan menghasilkan data dan informasi yang komprehensif tentang status pangan akuatik di Indonesia. Data ini akan menjadi dasar yang kuat untuk pengambilan kebijakan dan pengembangan program yang tepat sasaran.

  • Meningkatkan Koordinasi dan Sinergi: BFA akan mendorong koordinasi dan sinergi antar berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Kerjasama ini penting untuk memastikan keberhasilan pengembangan sistem pangan akuatik.

  • Meningkatkan Investasi: BFA diharapkan dapat menarik investor untuk berinvestasi di sektor pangan akuatik. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di sektor kelautan.

Roadmap dari ekonomi biru ini adalah pada 2045, dengan target utama luas wilayah laut yang terlindungi atau marine protected area mencakup 30% dari total luas wilayah laut, kontribusi sektor kelautan terhadap produk domestik bruto 15% dari saat ini 7,6%, dan tenaga kerja sektor kelautan akan mencapai 12 persen dari total pekerja pada 2045.

Redevelopment Strategi Agenda Biru

BFA merupakan langkah krusial dalam mewujudkan visi Ekonomi Biru Indonesia dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Diinisiasi sebagai tindak lanjut dari peluncuran Peta Jalan Ekonomi Biru Indonesia, BFA diharapkan mampu memberikan muatan substantif dalam pengembangan sistem pangan nasional pada penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, rencana aksi ekonomi biru ini terbagi ke dalam 5 fase:

  1. Tahun 2023-2024 adalah fase memperkuat konsolidasi ekosistem ekonomi biru,

  2. Tahun 2025-2029 pengembangan ekonomi biru sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru,

  3. Tahun 2030-2034 ekspansi ekonomi biru melalui diversifikasi,

  4. Tahun 2035-2039 peningkatan kontribusi dan daya saing ekonomi biru, dan

  5. Tahun 2040-2045 ekonomi biru Indonesia telah maju dan berkelanjutan.

Pada tahun ini telah direncanakan penyusunan Blue Food Assessment (BFA) Indonesia oleh dengan Kementerian PPN/Bappenas bersama dengang Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kemenkomarves, BRIN, Stanford University, dan para ahli dari berbagai universitas di Indonesia beserta NGO dalam negeri yang fokus pada dunia perikanan tanah air seperti IOJI. Program ini telah dianggarkan untuk dilaksanan dan telah di release lelang kebutuhan pengadaaan jasa konsultasi dan survey tersebut dengan senilai 4 Milyar rupiah.

Dengan berbagai kontribusi dari berbagi pihak dan ahli diharapkan program ini dapat memetakan potensi dengan lebih akurat disertai dengan analisis untuk mengakselerasi pemilihan keijakan yang tepat sasaran.

Karena dalam pelaksanaan agenda biru kita tidak hanya berpacu dengan timeline dari peta jalan yang telah dibuat namun juga berkejaran dengan degradasi lingkungan dan perubahan iklim global yang tak terelakkan serta kebutuhan akan pasokan bahan pangan yang terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dunia.

Dua hal ini dapat menjadi peluang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengingat begitu luasnya perairan laut kita.

BFA tidak hanya diharapkan mampu memetakan potensi namun dapat memotret progres pembangunan ekonomi biru se-presisi mungkin agar pemangku kebijakan dapat lebih mudah dalam menentukan starting point dalam refocusing kebijakan yang telah berjalan. kebutuhan paling mendesak dari hasil BFA antara lain:

  1. Laporan BFA: Laporan yang berisi analisis potensi dan hambatan, strategi dan kebijakan, serta rekomendasi untuk pengembangan Blue Food.

  2. Peta Potensi Blue Food: Peta yang menunjukkan wilayah-wilayah dengan potensi tinggi untuk pengembangan Blue Food.

  3. Strategi dan Kebijakan Pengembangan Blue Food: Strategi dan kebijakan yang tepat sasaran untuk meningkatkan produksi, diversifikasi produk, dan penguatan rantai nilai Blue Food.

Hasil BFA dan berbagai temuan penting lainnya untuk merumuskan serangkaian tujuan kebijakan. Tujuan ini dirancang untuk mewujudkan kontribusi pangan air dalam menciptakan sistem pangan global yang lebih bergizi, adil, tangguh, dan berkelanjutan. Seluruh proses dari BFA ini diharapkan menggambarkan berbagai aspek penting pangan air, termasuk:

  • Blue Food Assessment: Kajian untuk memahami potensi dan tantangan pengembangan pangan air.

  • Kinerja lingkungan: Dampak positif dan negatif produksi pangan air terhadap lingkungan.

  • Kerentanan: Ancaman terhadap pasokan pangan air akibat perubahan lingkungan dan iklim.

  • Keadilan: Distribusi manfaat yang tidak merata dalam sistem pangan air.

  • Permintaan: Tren dan prediksi permintaan pangan air di masa depan.

  • Pelaku: Keberagaman aktor dalam rantai nilai pangan air.

  • Kebijakan: Tujuan dan strategi kebijakan untuk mendukung pengembangan pangan air yang berkelanjutan.

Dokumen ini harus menekankan bahwa kebijakan yang adil dan terintegrasi antara sektor publik dan swasta sangatlah penting untuk:

  1. Mengoptimalkan manfaat lingkungan, gizi, dan sosial dari pangan air.

  2. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat.

  3. Mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Pangan air bukanlah solusi ajaib, namun dengan pengelolaan yang tepat, ia dapat menjadi kunci untuk mencapai sistem pangan yang lebih baik bagi semua bukan hanya sebagai sumber protein dan kalori.

Dibutuhkan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi transformasi sistem pangan. Transformasi ini diperlukan untuk mencapai keberlanjutan dan keadilan dalam sistem pangan nasional. Ketidakpastian yang menyertai transformasi ini menuntut kemampuan untuk berinovasi dan diversifikasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang adaptif dan fleksibel untuk mencapai keberlanjutan dan keadilan dalam sistem pangan.