Konten dari Pengguna

Swadaya Pangan: Counter Attack Budaya Food Waste

Yusixka Satyaningrum

Yusixka Satyaningrum

Nature Enthusiast, menulis reviu buku dan berpuisi di https://kenangkata.blogspot.com/ sambil mengamati perkembangan dunia perikanan.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusixka Satyaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi daur ulang makanan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi daur ulang makanan. Foto: Shutter Stock

Food waste adalah segala jenis makanan dan minuman yang terbuang, baik yang masih layak konsumsi maupun tidak. Food waste merupakan masalah global yang menyebabkan kerugian ekonomi dan lingkungan yang signifikan.

Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), pada tahun 2021, sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang di seluruh dunia. Jumlah ini setara dengan 1/3 dari semua makanan yang diproduksi.

Food waste di Indonesia merupakan masalah serius yang perlu ditangani. Menurut data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), pada tahun 2022, jumlah Food waste di Indonesia mencapai 23-48 juta ton per tahun atau setara dengan 115-184 kilogram per kapita setiap tahunnya.

Food waste di Indonesia terjadi di sepanjang rantai pangan, mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi. Ditingkat produksi terjadi karena faktor-faktor seperti panen yang tidak tepat waktu, kerusakan pascapanen, dan kehilangan pasca panen. Ditingkat distribusi terjadi karena faktor-faktor seperti kerusakan selama transportasi, pencurian, dan ketidakefisienan rantai pasok. Pada tingkat konsumsi terjadi karena faktor-faktor seperti pembelian berlebih, penyimpangan makanan, dan pembuangan sisa makanan.

Foodwaste berkontribusi terhadap global warming melalui beberapa cara, antara lain:

  1. Proses produksi makanan. Proses produksi makanan, mulai dari pertanian, peternakan, hingga pengolahan, membutuhkan energi yang besar. Food waste berarti energi yang telah digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut menjadi sia-sia.

  2. Proses pembuangan Food waste yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akan membusuk dan menghasilkan gas metana. Gas metana adalah gas rumah kaca yang memiliki efek pemanasan yang 25 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

Berdasarkan data dari FAO, Food waste berkontribusi sekitar 8% dari emisi gas rumah kaca global. Hal ini menjadikan food waste sebagai salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.

Berikut adalah beberapa cara untuk mengurangi food waste:

  1. Membeli makanan secukupnya. Belilah makanan sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak ada sisa makanan yang terbuang.

  2. Memasak makanan secukupnya. Masaklah makanan secukupnya untuk satu kali makan, sehingga tidak ada sisa makanan yang terbuang.

  3. Manfaatkan sisa makanan. Sisa makanan dapat dimanfaatkan kembali untuk membuat makanan lain, seperti sup, semur, atau tumisan.

  4. Mendonasikan makanan. Makanan yang tidak terpakai dapat didonasikan ke panti asuhan, panti jompo, atau lembaga sosial lainnya.

Dengan mengurangi food waste, kita dapat menghemat energi, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan membantu mewujudkan ketahanan pangan.

Salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan membuang makanan adalah menggalakkan rumah dengan swadaya pangan yang diharapkan dapat menjadi solusi alternatif untuk mengurangi food waste.

Rumah dengan swadaya pangan adalah rumah yang memiliki sistem pertanian dan peternakan yang terintegrasi. Sistem ini memungkinkan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Berikut adalah beberapa contoh rumah dengan swadaya pangan:

  1. Rumah dengan pekarangan yang luas. Pekarangan yang luas dapat dimanfaatkan untuk menanam berbagai macam tanaman pangan, seperti sayuran, buah-buahan, dan rempah-rempah. Selain itu, pekarangan juga dapat dimanfaatkan untuk memelihara hewan ternak, seperti ayam, kambing, dan sapi.

  2. Rumah dengan kolam ikan. Kolam ikan dapat dimanfaatkan untuk memelihara ikan konsumsi, seperti ikan nila, lele, dan gurame. Selain itu, ikan juga dapat dimanfaatkan untuk pakan hewan ternak.

  3. Rumah dengan kebun hidroponik. Kebun hidroponik adalah sistem pertanian yang menggunakan media tanam selain tanah. Sistem ini dapat diterapkan di rumah dengan lahan yang terbatas.

  4. Rumah dengan pertanian perkotaan. Pertanian perkotaan adalah sistem pertanian yang dilakukan di perkotaan. Sistem ini dapat memanfaatkan lahan-lahan kosong, seperti lahan parkir, lahan bekas bangunan, dan lahan tepi jalan.

Rumah dengan swadaya pangan memiliki beberapa manfaat, antara lain:

  1. Meningkatkan ketahanan pangan. Rumah tangga yang memiliki swadaya pangan akan lebih tahan terhadap fluktuasi harga pangan.

  2. Meningkatkan kualitas pangan. Pangan yang diproduksi sendiri lebih segar dan bebas dari bahan kimia berbahaya.

  3. Meningkatkan kesadaran lingkungan. Sistem pertanian dan peternakan yang terintegrasi dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan.

Swadaya pangan dapat mengurangi foodwaste dengan cara:

  1. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pangan. Masyarakat yang terlibat dalam swadaya pangan akan lebih menghargai pangan dan cenderung untuk tidak membuangnya.

  2. Mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pangan impor. Swadaya pangan dapat membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pangan impor.

  3. Meningkatkan efisiensi penggunaan pangan. Masyarakat yang terlibat dalam swadaya pangan akan lebih memahami cara untuk menggunakan pangan secara efisien, sehingga mengurangi potensi foodwaste.

  4. Ya, swadaya pangan dapat menjadi solusi alternatif untuk mengurangi foodwaste. Foodwaste adalah segala jenis makanan dan minuman yang terbuang, baik yang masih layak konsumsi maupun tidak. Foodwaste merupakan masalah global yang menyebabkan kerugian ekonomi dan lingkungan yang signifikan.

  5. Swadaya pangan dapat mengurangi foodwaste dengan cara:

  6. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pangan. Masyarakat yang terlibat dalam swadaya pangan akan lebih menghargai pangan dan cenderung untuk tidak membuangnya.

  7. Mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pangan impor. Swadaya pangan dapat membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pangan impor.

  8. Meningkatkan efisiensi penggunaan pangan. Masyarakat yang terlibat dalam swadaya pangan akan lebih memahami cara untuk menggunakan pangan secara efisien, sehingga mengurangi potensi foodwaste.

Berikut adalah beberapa contoh bagaimana swadaya pangan dapat mengurangi foodwaste:

  1. Petani yang menanam sendiri bahan pangannya akan lebih berhati-hati dalam menggunakan bahan pangan tersebut. Mereka akan cenderung untuk tidak membuang bahan pangan yang masih bisa dikonsumsi.

  2. Peternak yang memelihara sendiri hewan ternaknya akan lebih memanfaatkan seluruh bagian hewan tersebut. Mereka akan cenderung untuk tidak membuang bagian hewan yang masih bisa dikonsumsi.

  3. Masyarakat yang memiliki kebun di rumah akan lebih cenderung untuk mengolah sendiri bahan pangan yang mereka hasilkan. Mereka akan cenderung untuk tidak membuang bahan pangan yang masih bisa dikonsumsi.

Untuk mengoptimalkan peran swadaya pangan dalam mengurangi foodwaste, pemerintah perlu memberikan dukungan kepada gerakan swadaya pangan, seperti pelatihan, bantuan modal, dan akses terhadap pasar. Selain itu, masyarakat juga perlu didorong untuk berpartisipasi dalam gerakan swadaya pangan dan mendukung program-program yang bertujuan untuk mengurangi foodwaste.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mendukung swadaya pangan sebagai solusi alternatif untuk mengurangi foodwaste:

Pemerintah perlu memberikan dukungan kepada gerakan swadaya pangan, seperti pelatihan, bantuan modal, dan akses terhadap pasar.

Masyarakat perlu didorong untuk berpartisipasi dalam gerakan swadaya pangan dan mendukung program-program yang bertujuan untuk mengurangi foodwaste.

Pendidikan dan sosialisasi tentang pentingnya swadaya pangan dan pengurangan foodwaste perlu ditingkatkan. Dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, swadaya pangan dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengurangi foodwaste dan mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia.