Konten dari Pengguna

Dari Singkong hingga Rengginang: KKN UIN Walisongo Ungkap Proses Produksi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuslih Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto mencetak rengginang bersama ibu sri suprapti (Sumber: Divisi pubdok KKN 41)
zoom-in-whitePerbesar
Foto mencetak rengginang bersama ibu sri suprapti (Sumber: Divisi pubdok KKN 41)

GLENDANG, WATUAGUNG — Sekilas, rengginang ketela mungkin hanya terlihat sebagai camilan sederhana. Namun, di balik teksturnya yang renyah, terdapat proses panjang yang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Mulai dari mengupas singkong, memarut, memeras, memfermentasi selama tiga malam, mencetak, hingga menjemurnya di bawah terik matahari. Proses inilah yang masih dijalankan oleh keluarga Sugiman dan Sri Suprapti di RT 08 RW 03, Glendang, Desa Watuagung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Kunjungan industri ke tempat produksi rengginang ketela tersebut memberikan gambaran langsung mengenai tahapan pembuatan makanan tradisional berbahan dasar singkong. Pengamatan proses produksi dimulai pada 28 Juli, ketika singkong dikupas dan dicuci hingga bersih. Sehari setelahnya, pada 29 Juli, singkong diparut menggunakan mesin untuk mempermudah proses pengolahan. Hasil parutan kemudian diperas untuk memisahkan ampas singkong dan airnya.

Air hasil perasan singkong tidak langsung dibuang. Air tersebut justru didiamkan selama tiga malam untuk menghasilkan endapan pati. Setelah proses fermentasi selesai, air dipisahkan, sedangkan pati yang mengendap digunakan kembali dalam proses pembuatan adonan. Pati tersebut kemudian dicampurkan dengan bahan olahan singkong dan bumbu hingga menjadi adonan yang siap dicetak.

Tahapan selanjutnya dilakukan pada 2 Agustus, yaitu mencetak adonan menjadi bentuk rengginang. Rengginang yang telah dicetak tidak dapat langsung digoreng karena masih memiliki kandungan air. Oleh sebab itu, rengginang harus dijemur terlebih dahulu di bawah sinar matahari. Cuaca panas menjadi faktor penting agar proses pengeringan dapat berlangsung dengan baik.

Rengginang idealnya dapat kering dalam waktu satu hari ketika matahari bersinar terik. Jika proses penjemuran berlangsung hingga dua atau tiga hari, rengginang tidak dapat mengembang dengan sempurna saat digoreng. “Kalau musim hujan biasanya libur membuatnya. Kalau dijemur sampai dua atau tiga hari, rengginangnya tidak bisa mengembang,” ungkap Sri Suprapti. Kondisi tersebut membuat produksi rengginang biasanya hanya dilakukan pada musim kemarau, ketika cuaca mendukung proses pengeringan. Sementara itu, saat musim hujan tiba, kegiatan produksi untuk sementara dihentikan.

Setelah benar-benar kering, rengginang baru memasuki tahap akhir, yaitu penggorengan. Dari proses tersebut, singkong yang semula hanya berupa bahan mentah berubah menjadi camilan renyah yang siap dinikmati. Setiap tahap harus dilakukan secara berurutan dan tidak dapat dilewati. Proses yang cukup panjang inilah yang menjadi salah satu ciri khas pembuatan rengginang ketela secara tradisional.

Usaha Turun-temurun

Di balik usaha tersebut, terdapat cerita panjang yang berawal dari keluarga. Sugiman, 71 tahun, dan Sri Suprapti, 68 tahun, telah melanjutkan usaha pembuatan rengginang ketela selama belasan tahun. Meskipun kegiatan produksinya sudah berlangsung cukup lama, usaha tersebut baru didaftarkan sebagai UMKM sekitar dua tahun terakhir. UMKM tersebut menggunakan nama Sri Wahyuni, yang merupakan adik dari Sri Suprapti.

Rengginang ketela pertama kali dibuat oleh adik Sri Suprapti, Sri Wahyuni, yang tinggal di Kulon Progo, Yogyakarta. Usaha tersebut kemudian dilanjutkan oleh Sri Suprapti setelah Sri Wahyuni memutuskan untuk fokus mengasuh cucunya. “Dulu adik saya yang pertama membuat rengginang ini di Kulon Progo. Karena adik saya memilih mengasuh cucunya, akhirnya saya yang meneruskan sampai sekarang,” ujar Sri Suprapti. Resep dan keterampilan membuat rengginang tersebut kemudian dibawa dan dikembangkan oleh Sri Suprapti bersama suaminya di Kabupaten Semarang. Cita rasa dan cara pembuatannya masih mempertahankan ciri khas yang terinspirasi dari Yogyakarta.

Foto memeras singkong (Sumber: Divisi pubdok KKN 41)

Sugiman dan Sri Suprapti memilih untuk mengembangkan rengginang ketela di Kabupaten Semarang karena pada saat itu produk serupa belum banyak ditemukan di daerah Kabupaten Semarang. Dari sinilah usaha rumahan tersebut terus dijalankan dan dipertahankan hingga sekarang. Meski proses produksinya masih sederhana, keterampilan yang dimiliki telah diwariskan dan dipraktikkan selama bertahun-tahun. Usaha singkong rengginang ini menjadi salah satu cara keluarga untuk mempertahankan makanan tradisional sekaligus memperoleh penghasilan.

Selain cuaca, ketersediaan bahan baku juga menjadi kendala dalam proses produksi. Singkong tidak selalu mudah diperoleh dalam jumlah yang dibutuhkan. Bahkan, ketika memiliki tanaman singkong sendiri, jumlahnya belum tentu mencukupi kebutuhan produksi. Kondisi tersebut membuat Sugiman dan Sri Suprapti harus menyesuaikan waktu dan jumlah produksi dengan ketersediaan bahan baku.

Dalam pemasarannya, rengginang ketela tersebut tidak dijual secara tetap di warung-warung. Produk lebih banyak dibuat berdasarkan pesanan dari pelanggan. Terkadang, pesanan sudah diterima ketika rengginang masih berada dalam tahap pengeringan. Rengginang tersebut juga kerap dipesan untuk kebutuhan acara hajatan dan pernikahan.

Pesanan yang datang tidak hanya digunakan untuk konsumsi pribadi. Sebagian pembeli juga menjadikan rengginang ketela sebagai oleh-oleh. Sistem produksi berdasarkan pesanan membantu keluarga menyesuaikan jumlah produksi dengan kebutuhan konsumen. Dengan cara tersebut, produk yang dihasilkan dapat langsung disalurkan kepada pembeli tanpa harus disimpan terlalu lama.

Wawancara dengan Sugiman dan Sri Suprapti dilakukan pada 6 Agustus setelah rangkaian pengamatan proses produksi. Dari hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa usaha rengginang ketela bukan sekadar kegiatan untuk menghasilkan makanan. Usaha tersebut juga menjadi bagian dari upaya keluarga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, usaha ini turut mempertahankan pengetahuan dan keterampilan membuat makanan tradisional yang telah diwariskan selama belasan tahun.

Harapan Besar Keluarga untuk Memenuhi Kebutuhan Sehari-hari

Harapan terbesar dari usaha ini adalah agar produksi rengginang ketela dapat terus berjalan dan membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, keberlangsungan usaha tersebut tetap bergantung pada beberapa faktor, terutama cuaca dan ketersediaan singkong. Dari sepotong rengginang yang tampak sederhana, tersimpan proses panjang yang membutuhkan waktu berhari-hari. Perjalanan singkong dari bahan mentah hingga menjadi rengginang renyah menjadi bukti bahwa makanan tradisional juga menyimpan nilai kerja keras dan ketekunan.