Konten dari Pengguna

Menyelami Lirik dari Tradisi Lisan Nyanyian Rakyat 'Cingciripit'

Yusri Ramadhan

Yusri Ramadhan

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusri Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa sekolah dasar mengikuti perlombaan dalam festival permainan anak tradisional di Banda Aceh, Sabtu (17/9/2022). Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Siswa sekolah dasar mengikuti perlombaan dalam festival permainan anak tradisional di Banda Aceh, Sabtu (17/9/2022). Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP

Cingciripit merupakan salah satu nyanyian rakyat Sunda. Cingciripit kerap dinyanyikan oleh anak-anak saat ingin bermain. Biasanya, anak-anak yang ingin bermain ucing-ucingan (kejar-kejaran) akan berkumpul dalam posisi melingkar terlebih dahulu.

Kemudian, salah seorang anak akan meletakkan telapak tangannya di tengah lingkaran, sedangkan anak lainnya akan meletakkan jari telunjuk mereka di atas telapak tangan tersebut. Selanjutnya, mereka akan menyanyikan Cingciripit dengan riang dan lantang. Berikut lirik dari nyanyian rakyat Cingciripit.

Cingciripit

Tulang bajing kacapit

Kacapit ku bulu pare

Bulu pare seuseukeutna

Jol pa dalang mawa wayang

Jrek-jrek nong, jrek-jrek nong

Ketika tiba pada “jrek jrek nong”, maka telapak tangan akan ditutup dan setiap anak harus mengangkat jari telunjuk mereka sebelum tergenggam. Anak yang kalah adalah anak yang telat mengangkat jari telunjuknya dan anak tersebut yang akan menjadi ucing.

Dibalik keseruan bernyanyi dan bermain Cingciripit, ada pesan dan makna yang mendalam jika kita telaah bersama. Lirik “Cingciripit tulang bajing kacapit” memiliki makna bahwa kita perlu senantiasa berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Jangan sampai kita “terjepit”, entah terjepit kemiskinan, kebodohan, dan lain sebagainya.

Lalu, lirik “Kacapit ku bulu pare, bulu pare seseukeutna” memiliki makna bahwa padi harus membawa kebermanfaatan bagi kehidupan manusia, bukan sebaliknya. Lirik “Jol pa dalang mawa wayang, jrek jrek nong” bermakna bahwa kita harus senantiasa bersyukur atas segala sesuatu karena hal tersebut merupakan karunia Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan diumpamakan sebagai dalang yang mampu menghidupkan wayang dalam pentasnya.

Memahami maknanya yang dalam, sangat disayangkan ketika kita menyadari bahwa eksistensi nyanyian rakyat Cingciripit perlahan tersisihkan oleh nyanyian dan permainan kontemporer. Maka dari itu, perlu upaya untuk melestarikan tradisi lisan yang sarat akan makna tersebut.

Kita perlu mengenalkan dan mengajak anak-anak di sekitar kita untuk bermain dan menyanyikan Cingciripit. Selain itu, perlu juga upaya mendokumentasikan nyanyian rakyat Cingciripit sebagai bukti sejarah untuk memudahkan pengenalan kepada generasi mendatang