Konten dari Pengguna

Ngaji Ngopi; Sisi Lain Dari Kecerdasan Otak

Yusron Aloy

Yusron Aloy

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusron Aloy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai seorang penggemar kopi, saya tentu punya banyak selera. Racikan kopi dari warung satu ke warung lainnya tentu punya ciri khas berbeda. Tetapi Satu hal, kebiasaan ngopi kadang merubah sesuatu yang prioritas menjadi super-prioritas. Sebagian orang menganggap kopi sebagai pengencer otak yang beku, sebagai stimulus bagi inspirasi. Benarkah demikian?mari kita ulas.

Awal tahun 2012 lebih sedikit, saya mulai cinta dengan kopi. Awalnya, saya menganggap kopi sebagai obat pengusir kantuk bila mengerjakan sesuatu. Dasarnya sederhana: manusia mudah bosen. Kenapa? Kapsitas konsentrasi otak manusia itu berkisar antara 10-20 menit. Dalam kurun waktu itu, otak masih bisa diajak kompromi. Digembleng semaksimal mungkin. Lepas dari itu-kemungkinan besar-tidak akan berfungsi untuk hal yang dibutuhkan. Jenuh, ngantuk, dll adalah pilihan yang terjadi secara instan. Ibarat mesin motor, komponen spartpartnya mulai tak stabil. Penyebabnya, akibat perjalanan jauh dan lupa mengganti oli. Dan atau memang tidak pernah berkunjung ke bengkel untuk hanya sekedar membersihkan kabilator mesin dan mengganti busi. Ini bagian dari sikap lalai manusia bila sudah kadung jadi penggemar bantal dan penikmat sikap abai. Saban hari hanya tidur-makan.

Tetapi bukan lantas kehilangan otak. Itu hanya animo liar berdasar pengalaman pribadi. Dari sini, upaya membangkitkan kembali semangat otak sangat diperlukan. Otak perlu ransangan luar-dalam agar mampu merekam seperti semula. Saya lebih memilih Kopi sebagai perantara mengembalikan "otak" saya.

Sebagai pekerja di bidang yang membutuhkan kesiapan otak dan tenaga, saya merutinkan ngopi sebelum memulai perburuan informasi. Saya menyempatkan mencicipi kopi barang sejenak. Hampir semua tempat tongkrongan saya jajal. Tujuannya satu; minum kopi. Tak lupa pula saya kombinasikan dengan rokok. Sebab, dua kebiasaan ini selalu beriringan, tanpa saling mendahului. Rokok tanpa kopi, sumir. Kopi tanpa rokok, payau. Saya pilih keduanya sebagai pelatih belajar konsisten. Seruputan dan hisapannya selalu teratur. Menenggak kopi bukan perkara mudah. Butuh kelihaian dalam menyeruput secangkir kopi. Bagi yang tidak biasa, cara meminum kopi diserupakan dengan meminum air. Tipe orang ini tidak bisa diajak menyelami kedamaian setiap seruputan pada kopi. Selain menghadirkan kedamaian, kopi juga dipercaya mendatangkan keakraban. Dari keakraban itu akan timbul kecerdasan. Kok bisa?

Saya mencoba mengutip tulisan media Tempo.co tanggal 25 Februari 2015. menurut dokter Michael Hartanto Angriawan dari tim Meetdoctor menyebut bahwa kopi memiliki beberapa manfaat diantaranya:

Kopi meningkatkan kecerdasan.

Rasa lelah dapat diusir dengan meminum kopi karena kandungan kafein dalam kopi merupakan kandungan psikoaktif. Kafein dari kopi akan diserap darah dan sampai ke otak—tempat kafein akan memblokir adenosine—sehingga neurotransmitters, seperti norepinephrine dan dopamine, bertambah. Alhasil, otak bisa bekerja maksimal. Kopi juga mendukung fungsi kognitif otak sehingga ingatan lebih kuat, mempertajam emosi, meningkatkan kewaspadaan, serta fungsi kognitif otak.

Kopi untuk umur panjang.

Angka kematian pada peminum kopi berkurang hingga 20 persen pada pria dan 26 persen pada wanita dalam jangka waktu 18-24 tahun. Para penderita diabetes tipe II juga memiliki kesempatan bertahan hidup lebih lama hingga 70 persen karena mengkonsumsi kopi.

Kopi membuat bahagia.

Penelitian di Harvard School of Public Health tahun 2011 menyatakan risiko depresi turun sebanyak 20 persen pada wanita yang meminum empat gelas kopi atau lebih dalam sehari. Penelitian lain menyebutkan bahwa empat gelas kopi atau lebih dalam sehari bisa menurunkan niat bunuh diri hingga 50 persen.

Dari beberapa ulasan di atas sudah dapat dipastikan saya akan selamat dari beberapa kemungkinan yang mengancam jasmani-rohani saya. Ketepatan dan ketenangan sangat menentukan kualitas kehidupan masa depan. Saya percaya kopi untuk selalu menjaga ketenangan saya dalam menjalani aktifitas sehari-hari. So, mari kita lestarikan budaya minum kopi ini.(*).