Sakralitas Malam Jumat Dan Urusan 'Ranjang'

Tulisan dari Yusron Aloy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi sebagian kalangan, malam jumat merupakan malam sejuta mistik. Kejadian yang sifatnya nyeleneh dan terjadi di malam jumat dianggap ritus berkalang ghaib. Bahkan penyebutan mistik itu bisa berlaku pada setan seram macam wewe gombel. Ini sebuah animo yang tak memiliki dasar pasti. Kecenderungan manusia memiliki keyakinan secara turun temurun adalah kelainan gen yang direduksi secara mentahan. Toh walaupun setan itu tak memiliki jam pasti kapan ia berkeliaran atau kapan akan membully manusia.
Saya tak perlu panjang lebar membahas mengenai setan. Terpenting, keberadaan mereka tetap bagian dari kita. Kembali ke pembahasan awal. Kepercayaan masyarakat terhadap mitos dan fakta masih bercorak abu-abu. Simbol ataupun tempat yang dianggap memiliki aura mistik begitu dihormati. Saya ambil contoh sederhana. Bila kalian berjumpa jalan simpang empat, seringkali ditemui aneka makanan terbungkus daun yang dipincuk menyerupai karikatur perahu ukuran mini. Katakanlah bahasa lumrahnya sesajen. Sepintas, kebiasaan ini terlihat berlebihan. Tak banyak yang tak tahu soal kegunaan atau manfaatnya. Bagi mereka, jalan simpang empat merupakan tempat makhluk halus berunding. Bahkan katanya, kalau mau melintas harus pamitan dulu. Duh, ini kok tambah aneh saja. Logika apa coba yang digunakan? Entahlah, yang jelas, ini realitas yang-terpaksa- mesti diterima.
Kebiasaan seperti ini sudah berubah menjadi kepercayaan paten dan tidak bisa diganggu gugat. Seperti cinta qois kepada laila dalam kisah laila majnun: tidak bisa dirubah. Alih alih ngalap barokah telah memikat separuh jiwa mereka. Lalu dusta apa lagi yang mesti "dibuang"?. Sepertinya saya terlalu bijak menggambarkan persoalan ini. Macam pak ustad saja.
Lantas, apa kaitannya dengan urusan ranjang? Sebentar dulu. Dalam suatu keterangan(caelah mulai lagi pak ustadnya) dijelaskan, malam jumat adalah malam paling mulia dari malam-malam lainnya. Bila melakukan sesuatu yang positif di malam jumat pahalanya akan berlipat ganda. Termasuk mematronkan urusan ranjang. Istilah bekennya "membunuh orang kafir". Bagi yang memiliki pasangan- yang sudah resmi, lho, iya-idium ini sangat istimewa. Mereka sangat mempersiapkan betul segala kebutuhan sebelum "bertarung" semalam suntuk. Dari Mulai memermak kamarnya sewangi mungkin hingga memadati toko jamu kuat. Fenomena ini saya temui di beberapa toko jamu di Surabaya. Bak prajurit yang siap menghadapi medan pertempuran, mereka rela antri menunggu giliran takaran jamu. Seperti sudah pengalaman saja kamu, tong. Oh tidak. Saya hanya mendengar cerita teman-teman yang sudah lihai di bidang itu. lantas saya mikir, Memangnya selain malam jumat tidak enak, apa? Atau merasakan hal baru bila di "garap" malam jumat?
Entahlah, saya sendiri belum merasakan itu karena hingga saat ini masih bertahan dengan status lapuk (dimakan rayap kale) sebagai Jones (Jomblo Ngenes). kasihan banget saya ini, iya. Hiks.
Tetapi Keterangan ini sudah cukup menarik batin saya ke ruang hayalan tingkat RT eh maksudnya tingkat tinggi. Pada intinya, kita-manusia-memaknai nikmat tuhan itu tidak hanya dari satu sisi. Setiap apa yang kita lakukan sebisa mungkin harus selalu di syukuri. Ibadah apapun yang sudah dibebankan ke dalam diri kita bukanlah kewajiban yang terukur. Jauh dari itu, manusia dituntut untuk selalu konsisten dan terus meningkatkan nilai ibadahnya. So, ngapain harus nunggu Malam Jumat. Heee...(*).
*tulisan ini hanya guyonan belaka. Bila masuk akal, silahkan di logikakan. Sebaliknya, bila hanya membuat risih, jangan diambil, iya, sayang....
