Konten dari Pengguna

Janji-Nya Dalam Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in

Yusron Rosyadi

Yusron Rosyadi

Penggemar Nasi Telur Burjonan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusron Rosyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi. (Pixabay/dayamay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. (Pixabay/dayamay)

Lantunan Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in sudah tidak asing didengar bagi umat muslim. Ayat indah itu paling tidak dilantunkan sebanyak 17 kali ketika melaksanakan sholat fardu sehari semalam. Dalam terjemahan ayat kelima Surah Alfatihah tersebut, ada dua ungkapan seorang hamba kepada Dzat yang Rahim; "kepada Engkau kami (hamba) menyembah dan kepada-Nya seorang hamba memohon pertolongan".

Dalam sebuah Hadist Qudsi terdapat percakapan Allah Subhanahu wa ta'ala kepada hamba-Nya ketika melantunkan Surah Alfatihah. Lalu tepat pada ayat kelima, Allah menjawab dengan sebuah janji untuk hamba-Nya. Untuk diketahui, Hadist Qudsi ialah tingkatan Hadist yang paling tinggi, dimana Hadist tersebut bersumber langsung dari firman Allah SWT yang kemudian disampaikan Rasulullah SAW kepada pengikutnya.

Hadist Qudsi ini diriwayatkan dalam Kitab Hadis Abu Daud no. 649 dan HR Muslim no.395. Pada Hadist tersebut Allah Subhanahu wa ta'ala menjawab setiap lantunan Surah Alfatihah, ketika sampai Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in dijawab dengan jawaban yang berbeda dari ayat lainnya, Ia menjawab berupa sebuah janji kepada hamba-Nya.

Dari Abu Hurairah Radliyallah'an, Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman: Saya berbagi tugas dengan hamba-Ku antara kewajiban dan dalam dua bagian.

Idza qalal 'abdu, Alhamdulillahi robbil alamin (Apabila hambi mengucapkan Alhamdulillahi robbil alamin). Qalallhu azza wa jalla, "Hamadani 'abdi"(Allah yang Maha Mulia menjawab hamba-Ku memuji-Ku).

Idza qalal 'abdu, Arrahmanirr Rahim (Apabila hamba mengucapkan, Arrahmanirr Rahim). Qalallahu azza wa jalla, "Atsna 'alaiya 'abdi" (Allah berfirman, "hamba-Ku menyajung-Ku").

Idza qalal 'abdu, Maliki yaumiddin (Apabila hamba mengucapkan, Maliki yaumiddin). Qalallahu azza wa jalla, "Majjadani 'abdi" (Allah berfirman, "hamba-Ku mengangungkan-Ku").

Idza qalal 'abdu, Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in (Apabila hamba mengucapkan Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in). Qalallahu azza wa jalla, "hadza baini wa baina 'abdi, ma sa al" (Allah berfirman, "ini perjanjian antara Aku dengan hamba-Ku, apapun yang diminta")

Di sini Allah membagi antar hak-Nya dengan hak hamba-Nya. Ayat Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in menjadi pembatas atara kedua hak tersebut. Mulai dari ayat, Alhamdulillahi rabbil 'alamin hingga Maliki yaumiddin yang seluruh berupa pujian menjadi milik Allah.

Kemudian ayat selanjutnya Ihdinash shiratal mustaqim sampai ayat terakhir merupakan hak seorang hamba, berupa permintaan yang dinginkan hamba kepada Allah yang Maha Esa.

Berdasarkan Hadist tersebut, Al-Habib Abdurrahman Bil Faqih memberikan ijazah tata cara berdoa menggunakan Surah Alfatihah. Ijazah itu didapatkannya dari Ulama-ulama dan para Auliya.

"Di sini ada satu rahasia yang diketahui para Ulama dan Auliya, mereka mengatakan ketika membaca Surah Alfatihah sampai di ayat wa iyyaka nasta'in untuk berhenti," ucapnya dikutip melalui Youtobe Musolla wali songo.

"sebagian dari mereka ada yang memberikan ijazah, saya juga ada ijazahnya supaya berhenti diulang wa iyyaka nasta'in diulang sebanyak 7 kali," sambungnya.

Tata cara berdoa yang disarankan Al Habib Abdurrahman Bil Faqih dengan membaca Surah Al Fatihah hingga ayat wa iyyaka nasta'in. Ketika membaca wa iyyaka nasta'in diulang sebanyak tujuh kali dilanjutkan meminta hajat apapun kepada Allah, kemudian disambung hingga ayat terakhir Surah Al Fatihah, Shirathal ladzina an'amta 'alaihim ghoiril maghdzubi ‘alaihim waladldlallin.

Secara pribadi, saya termasuk hama yang mengamalkan ijazah tersebut bahkan rutin mengamalkannya ketika berdoa, hingga hajat-hajat saya pun banyak yang diijabah. Selain karena Al Habib Abdurrahman Bil Faqih, alasan saya meyakini ijazah tersebut ialah bahwa Surah Al Fatihah sebagai pendakian menuju Allah Subhanahu wa ta'ala.

Dikutip dari buku Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim AL-Jauziyah, Surat Al Fatihah mencakup pengenalan terhadap sesembahan yang memiliki tiga nama, yakni Allah, Ar-Rab dan Ar-Rahman. Dituliskan, tiga asma itu menjadi rujukan Asmaul Husna dan sifat-sifat yang tinggi serta menjadi porosnya.

Dari buku itu juga saya mengetahui bahwa ayat "iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" berisi dua hal yaitu Iyyaka na'budu sebagai bangunan Ilahiyah, sementara itu Iyyaka nasta'in merupakan bangunan Rububiyah.