AI dan Kemalasan Siswa dalam Menjawab Pertanyaan

Lulusan jurusan Teknologi Industri Pertanian UGM dan mengembangkan UTBKCAK.com
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yusuf Abdhul Azis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Tanya saja ke AI!” Ironi tentang "AI dan Kemalasan Siswa Zaman sekarang"
Kalimat ini makin sering kita dengar di ruang kelas, grup belajar, bahkan dalam obrolan santai di rumah. Dulu, siswa harus membuka buku dan mencari sendiri jawaban atas tugas-tugas sekolah.
Sekarang, cukup mengetik satu-dua kalimat dan dalam hitungan detik, jawabannya langsung muncul. Lengkap, rapi, dan kadang tanpa perlu dipikir ulang. Teknologi kecerdasan buatan memang hebat.
Tapi pertanyaannya:
Apakah kehebatan itu turut menumbuhkan semangat belajar, atau justru memupuk kemalasan berpikir?
Emang Ada Peran AI dalam Pendidikan?
AI hadir membawa banyak kemudahan dalam proses belajar. Kita bisa dengan cepat mendapatkan penjelasan soal konsep rumit, mencari contoh soal, bahkan menyusun kerangka esai hanya dalam beberapa detik.
Dalam situasi tertentu, AI bisa menjadi “guru kedua” yang selalu siap sedia membantu kapan saja.
Bagi sebagian dari kita, ini terasa seperti revolusi positif dalam dunia pendidikan. Namun, kalau kita tidak hati-hati, kemudahan ini bisa berubah menjadi jebakan yang membuat kita terlalu bergantung.
Alih-alih berpikir sendiri, kita bisa jadi lebih sering memilih jalan pintas.
Bahkan, saking jalan pintasnya, kadang kita meminta AI untuk menyusun outline tanpa berpikir dulu apa yang sebenarnya ingin kita tulis. Akibatnya, otak kita makin jarang dilatih untuk menyusun alur gagasan. Kreativitas pun perlahan ikut melemah.
Kita memang patut bersyukur hidup di era di mana akses informasi begitu terbuka. AI memungkinkan kita belajar hal-hal baru secara mandiri, bahkan tanpa harus selalu bergantung pada guru atau buku pelajaran.
Pada akhirnya sekarang ini, justru karena terlalu mudah, kita sering lupa untuk menguji pemahaman kita sendiri.
Saat semua jawaban tersedia instan, kita bisa saja merasa “paham”, padahal hanya menelan informasi mentah tanpa benar-benar mencernanya.
Di sinilah letak persoalannya: Apakah kita masih mau berpikir, atau cukup puas menerima? Cukup merasa gini aja sudah bagus kok?
Ketergantungan dan Turunnya Kemampuan Berpikir Siswa
Saat kita terlalu sering menggunakan AI untuk menjawab pertanyaan, lambat laun ada kemampuan dalam diri yang mulai tumpul. Kita tidak lagi terbiasa menganalisis soal, memahami maksudnya, atau mencoba menjawabnya dengan logika sendiri. Kita hanya fokus pada hasil akhir, bukan proses berpikirnya.
Padahal, justru di situlah latihan mental dan logika berpikir terjadi. Kita akan berusaha mencari tahu sendiri, mencoba menjawab walau salah, lalu memperbaikinya.
Kalau setiap kali kita langsung “tanya AI ajalah cepet” begitu menemui soal, otak jadi tidak pernah diajak bekerja keras.
Lama-kelamaan, kita bisa mengalami ilusi kecerdasan. Seolah-olah kita tahu jawabannya, padahal kita hanya tahu bagaimana cara mendapatkannya. Ini berbahaya.
Kalau terus dibiarkan, kita akan kesulitan menghadapi persoalan yang butuh pemikiran orisinal atau penalaran yang mendalam.
AI tidak salah. Tapi ketika kita terlalu bergantung, kita kehilangan peluang untuk bertumbuh secara intelektual.
Dampak Jangka Panjang Bagi Siswa dan Dunia Pendidikan
Ketergantungan pada AI di sekolah-sekolah SMP atau SMA bisa membuat siswa kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Misalnya, saat mengerjakan soal matematika atau tugas bahasa Indonesia, mereka lebih sering mencari jawaban langsung dari AI daripada berpikir sendiri.
Padahal, belajar bukan hanya soal mendapatkan jawaban, tetapi juga tentang proses berpikir dan menyelesaikan masalah.
Jika kebiasaan ini berlanjut, siswa bisa kesulitan menghadapi ujian atau tantangan yang mengharuskan mereka berpikir kritis tanpa bantuan teknologi. Di sisi lain, guru juga harus berpikir keras agar soal yang mereka buat tidak mudah ditaklukkan oleh AI, yang bisa mengurangi makna dari proses belajar itu sendiri.
Apabila selama ini kita terus biarkan ketergantungan ini, pendidikan akan kehilangan nilai pentingnya: berpikir dan berkembang melalui usaha sendiri.
Siswa yang terbiasa mengandalkan AI bisa kesulitan di masa depan, baik di dunia pendidikan maupun dunia kerja yang membutuhkan keterampilan berpikir kreatif.
Bahkan, untuk seleksi masuk kuliah yang seleksinya menggunakan esai pun sudah ada AI yang mampu untuk membuatkannya tanpa terdeteksi oleh tulisan AI.
Suatu paradoks, AI meniru manusia tetapi manusianya sendiri tak sadar percaya pada AI (untuk ditiru). Padahal, hasil dari penelitian Steve Ryan (2024), menyatakan dalam menyelesaikan tugas sekolah bahwa AI dapat menghasilkan tulisan yang repetitif, tidak akurat, atau tidak sesuai dengan gaya yang diinginkan.
Apabila siswa tidak diajari untuk bijak dalam menggunakan AI, bisa bahaya dan menelan mentah-mentah hasil dari AI tersebut.
Penutupan
AI memang memberikan kemudahan yang luar biasa dalam kehidupan kita, terutama dalam dunia pendidikan.
Namun, kita harus bijak dalam menggunakannya. Jika terlalu bergantung pada teknologi ini, kita bisa kehilangan keterampilan berpikir kritis yang seharusnya menjadi fondasi pendidikan.
Seperti yang pernah disampaikan oleh Albert Einstein, “Pendidikan adalah apa yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang dipelajarinya di sekolah.”
Ini mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati tidak hanya tentang menghafal informasi, tetapi juga tentang kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah dengan cara yang kreatif dan mandiri.
Kita harus memastikan bahwa teknologi, termasuk AI, menjadi alat bantu yang memperkaya proses belajar, bukan menggantikannya. Dengan cara ini, kita bisa menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam menggunakan teknologi, tetapi juga dalam berpikir kritis dan mandiri, siap menghadapi tantangan dunia nyata.
Referensi:
Ryan, S. (2024). Generative Al in the Classroom: Teaching a Critical Skill for the Public Relations Writing Student. Journal of Public Relations Education, 9(3), 25-45. Diakses dari https://journalofpreducation.com/wp-content/uploads/2024/03/3-JPRE_93_Ryan_PDF.pdf
