Konten dari Pengguna

Kurban Dan Ekonomi Umat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusuf Hakim Atmadja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak akan lama lagi, umat muslim di seluruh penjuru dunia melaksanakan Idul Adha atau yang sering kita sebut Hari Raya Kurban. Di Indonesia, identik dengan menyembelih sapi,kerbau,domba,dan kambing bagi yang mampu melaksanakanya. Secara bahasa, kata kurban berasal dari bahasa Arab yaitu qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Yang bermakna menyembelih hewan kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan perintah-Nya. Didalam Al-Qur’an surat Al Kautsar ayat 2:

Ilustrasi Kurban Dan Ekonomi Umat. Foto: dok. Pribadi/Abu Bani
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kurban Dan Ekonomi Umat. Foto: dok. Pribadi/Abu Bani

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah mendekankatkan diri kepada Allah)”.

Dari ayat diatas, perintah kurban sejajar dengan perintah sholat yang menjadi urgensi bagi kita sebagai umat muslim untuk melaksanakanya. Selain itu, kurban salah satu bentuk kita meneladani dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang memiliki nilai keikhlasan dan ketabahan. Yang mana Nabi Ibrahim taat atas perintah Allah untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail dan Nabi Ismail bersedia atas apa yang diperintahkan Allah.

Disisi lain, Idul Adha atau penyembelihan hewan kurban memiliki dampak yang positif bagi masyarakat Indonesia karena perputaran ekonomi masyarakat yang setiap tahunya mengalami peningkatan. Dikutip dari Kompas.com data yang diambil dari Center of Reform on Economics (CORE) memprediksi Idul Adha tahun ini mencapai Rp 26-27 triliun yang pada tahun lalu mencapai Rp 24,3 triliun. Banyaknya permintaan hewan kurban setiap tahunya menjadi potensi ekonomi bagi sektor perternakan yang juga berkerjasama dengan pekerjaan lainya, seperti penyedia pakan ternak, hingga pengrajin limbah dari sisa tulang hewan kurban yang dimanfaatkan untuk kerajinan bernilai seni seperti sendok yang terbuat dari tulang, bedug, dan lain sebagainya.

Ilustrasi Kurban Dan Ekonomi Umat. Foto:Dok. Pribadi/Urbandinary

Selain itu, Idul Adha merupakan momentum masyarakat Indonesia mengkonsumsi daging secara merata. Mulai dari kalangan bawah, sampai kalangan atas yang semula kurang mampu untuk membeli daging, pada Idul Adha semua masyarakat Indonesia serentak memakan daging. Mengutip dari data yang diambil dari Lembaga Riset Institute of Demographic and Poverty Studies (Ideas), kesenjangan mengkonsumsi daging tidak terjadi antar kelas ekonomi saja, melainkan antar daerah. Pada tahun 2021, konsumsi daging rata-rata di Jakarta Pusat tercatat 1,73 kg pertahun, sedangkan konsumsi daging di kabupaten Pandeglang tercatat 0,04 kg per tahun.

Ilustrasi Kurban Dan Ekonomi Umat. Foto: dok.Pribadi/Arsil

Oleh karena itu, Idul Adha menjadi potensi peningkatan gizi masyarakat di Indonesia apabila tersalurkan secara adil dan merata terlebih kepada masyarakat yang kurang mampu dan daerah yang tergolong minim kurban. Itulah sedikit hikmah yang dapat kita ambil dari Idul Adha yang penuh makna dan keberkahan di dalamnya.