Ah, BPJS...

tidak tertarik dengan banyak hal. insecure one trick pony.
Tulisan dari Yusuf Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Bisakah anda bersama istri datang ke tempat praktik sekitar jam 10 pagi?"
"Tentu bisa. Tapi ini Sabtu? Bukannya anda libur?"
"Tidak apa. Kita perlu bicara sesegera mungkin."
Singkat saja pembicaraan antara saya dan dokter yang menangani kesehatan masyarakat daerah tempat kami tinggal lewat telepon pagi itu. Saya lupa tanggal tepatnya tapi pasti di salah satu Sabtu bulan Mei 2010.
Dan termulailah sebuah perjalanan panjang penanganan kesehatan yang rumit, melelahkan, dan mahal. Yang membuat kami—saya, istri, dan juga anak—belajar tentang kesabaran, kasih sayang, pengorbanan, empati, simpati, hingga hal-hal seperti pentingnya pajak, persoalan administrasi, fungsi negara, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Istri saya sudah sejak 2008 sering mengalami pening yang amat sangat. Tetapi ia mengabaikan dan menganggap sebagai pening biasa saja.
Persoalan menjadi serius ketika beberapa kali ia mengalami "black out"—hilang kesadaran sesaat—di tengah menjalani kegiatan keseharian.
Dokter yang menangani kesehatan masyarakat di daerah kami tinggal kesulitan menentukan penyebabnya. Istri saya kemudian diminta untuk menjalani pemeriksaan di rumah sakit terdekat. Dengan peralatan yang lebih lengkap dan dokter yang lebih sesuai keahliannya.
Telepon di hari Sabtu itu adalah untuk membahas hasil pemeriksaan dari rumah sakit tersebut.
Saya sudah menduga ada yang serius dengan hasil pemeriksaan. Pertama, dokter mengajak bertemu sesegera mungkin bahkan di hari libur. Kedua, ketika kami mulai berbicara si dokter mengawali dengan bercerita yang tak ada hubungannya dengan hasil diagnosis. Ia malah bercerita tentang bagaimana kita harus mensyukuri kehidupan dan apapun cobaan maupun kesenangan yang kita dapati sepanjang kehidupan.
Hingga kemudian, "Ada tumor di otak," kata dokter tadi.
Kami berdua seperti mati rasa mendengarnya. Penjelasan lanjutan dari dokter tentang langkah-langkah perawatan yang harus dijalani oleh istri saya, pernyataan-pernyataan yang mencoba meyakinkan kami bahwa kemampuan penanganan medis mereka adalah salah satu yang terbaik di dunia dan bahwa istri saya akan baik-baik saja seperti suara yang sekadar memantul-mantul di dinding-dinding ruangan. Tak bisa kami menyerapnya.
Istri saya menangis. Saya yakin ia berpikir tentang yang terburuk. Sementara saya seperti terlempar ke dunia yang asing, tak mampu saya urai dan pahami.
"Kalian pulang dulu saja. Bicara berdua tentang hal ini. Nanti kita bertemu lagi," kata dokter tadi sambil menyodorkan sejumlah booklet dan dokumen mengenai langkah-langkah berikutnya yang harus kami tempuh mulai hari itu.
Tidak perlu saya ceritakan kecamuk di otak maupun pembicaraan di antara kami berdua setelah sampai di rumah. Satu saja mungkin, bukan persoalan mudah untuk menerimanya. Ada penolakan menerima kenyataan (denial), kemarahan, menyalahkan semua yang ada di muka bumi ini, sebelum akhirnya pasrah menerima kenyataan. Dan itu tidak sebentar waktunya.
Booklet dan dokumen yang diberikan semacam petunjuk pelaksanaan (juklak), petunjuk teknis (juknis), dan peta yang harus kami lalui dalam pengobatan dan perawatan. Sebegitu lengkapnya panduan yang diberikan bahkan juga menyangkut bantuan konsultasi psikologi—untuk saya karena harus belajar hidup dengan penderita dan untuk istri saya karena harus belajar tidak lagi bisa hidup mandiri seperti sebelumnya—serta bantuan nonmedis seperti fisioterapi dan rekan untuk berkegiatan sosial di waktu tertentu untuk istri.
Pada awalnya kami tidak mengerti mengapa harus sedetail itu dan merasa tidak memerlukannya. Tetapi belakangan kami mengerti mengapa.
Istri saya dirujuk ke salah satu pusat penanganan tumor otak terbaik di kota kami tinggal. Di tempat ini diketahui bahwa tumor yang diderita istri saya termasuk pelik, berkemungkinan menimpa hanya satu di antara dua ribu yang menderita tumor otak. Tersembunyi dan tidak bisa diambil. Mengambil tumor itu risikonya lebih besar ketimbang manfaatnya.
Pilihan perawatannya seperti memakan buah simalakama.
Pertama membiarkan, mengawasi, serta sebisa mungkin menangani akibatnya—seperti rasa pening berlebihan dan black out yang sering dialami. Dengan seperti itu kualitas hidup istri saya relatif akan bisa dipertahankan dan normal. Persoalannya tumor itu akan semakin membesar walau sangat perlahan dan pada satu titik—entah kapan—harus diambil. Dan ketika waktu itu tiba, dengan istri semakin tua dan ringkih kondisi fisiknya, risikonya fatal.
Pilihan kedua, tidak mengoperasi tetapi melakukan radiotherapy. Perawatan ini tidak mampu mematikan sel tumor itu tetapi mencegah untuk tumbuh. Tidak ada kekhawatiran suatu saat istri harus melakukan operasi. Hanya saja kualitas hidupnya dalam jangka panjang akan turun sebagai efek samping dari radiotherapy itu. Ia akan terbebaskan dari rasa sakit tapi kemungkinan akan memerlukan bantuan untuk menjalani kesehariannya.
Kami meminta pendapat kedua. Ke rumah sakit lain yang juga menjadi salah satu pusat penanganan tumor otak terbaik di kota kami tinggal. Pilihan yang mereka sarankan sama persis.
Setelah melewati diskusi dengan mempertimbangkan segala macam pro dan kontra, kami akhirnya memilih yang kedua. Kami juga memilih rumah sakit yang kedua yang lebih condong memilih yang kedua dan kami tahu memiliki salah satu tim dokter terbaik di dunia.
Istri saya harus menjalani biopsi—mengambil contoh jaringan untuk menentukan penyakit—dua kali. Yang pertama gagal—membuktikan sulitnya posisi tumor yang ada di otaknya. Sekitar empat bulan setelah biopsi, ia menjalani proses radiotherapy—yang hanya semenit dua—setiap hari selama 35 hari tanpa henti.
Masih belum selesai. Istri saya mengalami efek samping yang tak terduga. Radiotherapy itu menyebabkan munculnya cairan di otak yang efeknya persis sama dengan tumornya sendiri. Sehingga enam bulan kemudian ia harus menjalani operasi otak kembali untuk menyedot cairan itu.
Praktis semua proses dari awal hingga akhir memakan waktu sekitar tiga tahun. Kesabaran kami sekeluarga benar-benar diuji. Selama hampir satu setengah tahun saya terpaksa harus berhenti bekerja—mungkin sudah jalan hidup yang harus saya lalui karena kebetulan pada saat yang bersamaan saya terkena PHK dari kantor—untuk mengurus semuanya. Sementara istri tentu saja juga terpaksa sudah berhenti bekerja terlebih dahulu.
Itu tidak mudah. Bohong kalau kami tidak kebingungan memikirkan persoalan finansial, kondisi fisik, dan kejiwaan kami sekeluarga dan pada saat bersamaan mencoba menjaga kehidupan senormal mungkin. Di sini saya merasakan kehadiran negara yang luar biasa.
Semua biaya yang diperlukan untuk pengobatan istri ditanggung tanpa batas oleh negara. Negara juga memberi tunjangan kesejahteraan untuk istri, tunjangan kendaraan—disewakan mobil sesuai spesifikasi keperluan istri yang tentu saja tidak murah karena harus memenuhi standar kenyamanan, pekerja sosial untuk membantu kami menjalani masa sulit, dan segala sesuatu yang kami perlukan. Negara bahkan memberi saya tunjangan setiap minggu, semacam gaji untuk menjaga dan merawat istri.
Tentu ini semua tidak bisa menggantikan kenormalan, baik finansial maupun nonfinansial, yang selama ini ada. Tetapi luar biasa membantu dan melegakan. Beruntung pula kami punya sedikit punya tabungan untuk melewati masa sulit itu.
Dokter yang merawat kesehatan daerah kami selalu memantau perkembangan. Terkadang ia menelepon. Terkadang ia meminta kami datang untuk sekadar berbicara tentang perkembangan. Terkadang tentu saja untuk memantau kesehatan istri dan menanyakan kondisi saya dan anak.
Kami berbicara tentang apa saja. Termasuk tentu saja sistem kesehatan yang memungkinkan kami melalui semua masa sulit itu.
"Itu sebab kita semua membayar pajak dalam semua transaksi keuangan tanpa terkecuali," katanya. "Dari sekadar beli permen hingga beli mobil, bisnis toko kelontong hingga super market, bayaran buruh kasar hingga gaji kantoran, dari yang kecil hingga yang besar-besar entah itu apa."
Saya yang sering mengeluh karena potongan gaji untuk pajak terasa begitu besar, dan semakin besar gaji saya semakin besar pajak yang harus dibayar, mengangguk-angguk sepakat.
Saya yang sering mengeluh karena merasa menyetor uang terlalu besar ke negara dan merasa tidak akan memanfaatkannya menjadi mafhum, selalu ada orang lain yang membutuhkan. Bukankah bisa membantu orang lain adalah perbuatan mulia? Bukankah—dalam kasus kami yang kebetulan jatuh sakit—ketika tidak memanfaatkan berarti dikaruniai kesehatan?
Hingga kini saya dan istri masih sering membicarakan masa-masa sulit itu. Satu episode ketika kami masih tinggal di Inggris. Kami berdua bersyukur ada yang namanya BPJS. BPJS versi Inggris yang bernama NHS (National Health Service—Layanan Kesehatan Nasional).
Kami sering membayangkan bila suatu ketika itu bisa diterapkan di Indonesia.
