Konten dari Pengguna

Bahasa

Yusuf Arifin

Yusuf Arifinverified-green

tidak tertarik dengan banyak hal. insecure one trick pony.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusuf Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan.

Para pakar hingga saat ini masih berdebat tentang asal-usul suku bangsa Slavik yang sekarang praktis tersebar di seluruh wilayah yang dikenal sebagai Eropa Timur, dari Rusia hingga turun ke Balkan.

Kesepakatan umum paling populer menyebut mereka dulunya adalah sekelompok suku yang memilih berdiam di lembah Oder dan tepian sungai Vistula, wilayah Polandia dan Ceko sekarang, di abad pertama Masehi.

Tetapi temuan arkeologis menyebut persebaran ras Slavik ini telah terjadi sejak 1500 tahun sebelum Masehi. Meliputi wilayah yang lebih luas, sebuah dataran rendah berawa di tengah-tengah Eropa Timur yang disebut Polesia.

Kajian terhadap bahasa yang dipergunakan oleh suku bangsa Slavik—Proto-Slavik yang kemudian menjadi akar berbagai bahasa rumpun Slavik—sepertinya memperkuat dugaan ini. Josef Rostafinski, pakar botani Polandia, memperhatikan bagaimana bahasa Slavik tidak mempunyai kosakata untuk menyebut berbagai tumbuhan yang tidak ditemukan di kawasan Polesia yang berawa dan harus meminjam kosakata bahasa lain untuk menjelaskannya.

Kosakata bahasa pada awalnya—dan akan selalu demikian—sangat terkait dengan wilayah geografis penggunanya. Bisa jadi sangat lengkap dan berlapis tetapi deskriptif endemik sifatnya. Karenanya kajian bahasa kemudian bisa digunakan untuk menduga asal-muasal sebuah kelompok/suku.

Seperti orang Eskimo di kawasan Artik, misalnya, mereka mempunyai banyak sekali kosakata untuk menyebut salju. Salju yang turun di pagi hari berbeda dengan yang malam hari, yang keras berbeda dengan yang lunak, yang liat berbeda dengan yang repas, dan lain sebagainya.

Namun kata-kata (yang deskriptif endemik) itu salah kalau diartikan hanya sebagai penjelasan akan sebuah objek. Disebalik deskripsi ada konsep, pemaknaan, fungsi, dan simbol: sebuah modus operandi penyintasan.

Disebalik deskripsi tetumbuhan yang ada di polesia ada pemahaman dan penandaan mengenai mana yang beracun, mana yang menjadi obat, yang kayunya kuat untuk papan, dan berbagai fungsi lain.

Begitupun deskripsi salju yang beragam bagi orang Eskimo. Mereka memerlukan untuk menentukan yang bisa diinjak atau tidak, yang bisa dibuat iglo, menentukan saat untuk berburu, dan seterusnya.

Saya kira filsuf Jerman Ernst Cassirer benar ketika mengatakan manusia berbeda dengan binatang. Manusia mampu menciptakan dan mengerti simbol. Mereka menamai dan memberi arti-makna secara simbolik atas objek, makhluk, fenomena, dan hubungan sesama manusia lewat berbagai tindakan dan narasi.

Dengan simbol itu, "Manusia menemukan cara-metode untuk beradaptasi dengan lingkungannya………… bahkan lebih jauh lagi berbeda dengan binatang lain, manusia mampu menciptakan dimensi realitasnya sendiri dan bukan semata bagian dari realitas (alam) yang sudah ada." Dan bahasa dalam hal ini adalah simbol itu.

Itu sebabnya kosakata sebuah bahasa bertambah ketika manusia menemukan tempat baru, fenomena baru, dan pengalaman baru. Pun ketika pertemuan antar-kelompok semakin intens dan semakin sering. Saling tukar pengalaman—jalan damai atau kekerasan—akan terjadi dan kemudian akan diikuti saling pinjam istilah. Ada realitas baru yang perlu dijahit dan dimengerti.

Bahasa Inggris merupakan salah satu contoh. Dijajah pendatang dari kawasan Jerman (modern), ia menyerap kosakata bahasa mereka. Dijajah pendatang Nordik, ia menyerap kosakata bahasa mereka. Ketika giliran Inggris menjajah dunia, ia menyerap kosakata dari negara-negara jajahan.

Tetapi kosakata yang paling banyak diserap bahasa Inggris modern adalah bahasa Prancis. Ribuan jumlahnya. Bisa dimengerti, selama lebih 300 tahun di abad pertengahan, Inggris diperintah Wangsa Plantagenet yang berasal dari Prancis. Bahasa resmi kerajaan, pemerintahan, agama, dan hukum di Inggris selama Plantagenet berkuasa adalah bahasa Prancis.

Kontak dengan pengguna bahasa yang berbeda juga memperkaya nuansa dan memperlebar imajinasi. Terkadang sebuah kata tetap diserap walau padanannya sudah ada karena persoalan ini.

Contoh sederhana dalam bahasa Indonesia. Sibuk mempunyai arti sendiri dan ribet juga mempunyai arti sendiri walau sering digunakan secara bergantian seolah mempunyai arti yang sama. Pun demikian pengguna bahasa Indonesia masih memerlukan menyerap kata Sunda riweuh untuk menggambarkan ketika sibuk dan ribet datang bersamaan. Atau bahkan seringkali digunakan sebagai alternatif ketiga untuk mengganti kedua kata tadi.

Terkadang kontak dengan pengguna bahasa yang berbeda juga bisa mengubah arti atau menambah arti sebuah kata—yang bahkan berlawanan dari arti awalnya. Ini jamak terjadi.

Bahasa Inggris wicked kita tahu artinya jahat. Tetapi pengguna bahasa Inggris berkulit hitam Amerika—kalau tidak salah—di akhir abad 20 juga menggunakannya untuk menggambarkan sesuatu yang hebat, luar biasa, inovatif. Sekarang mereka pengguna bahasa Inggris generasi milenial dan Z di seluruh dunia menggunakannya dengan dua arti itu tergantung situasi.

Kita di Indonesia juga punya padanan kejadian yang serupa. Kata gila berarti kondisi psikologi yang tidak normal. Tetapi kita juga menggunakannya untuk mengekspresikan keluarbiasaan, keheranan, dan kekaguman.

Psikologi penggunaan kata kalau menurut neurologis John Hughlings Jackson adalah hal yang paling penting dalam bahasa, untuk mewakili perasaan terdalam dari manusia. Sebelum Cassirer memperkenalkan konsep binatang simbol—yang bukan hanya berbicara soal bahasa tetapi juga seni, agama, budaya, dan mitos sebenarnya—Jackson telah berbicara tentang bahasa sebagai alat penjelasan-pernyataan (deklarasi) dan ekspresi emosi dalam satu napas.

Karenanya kejadian-kejadian besar yang susah hilang dari ingatan cenderung memperkenalkan istilah-istilah baru. Perang besar-lama-traumatik misalnya memperkenalkan kata-kata baru yang penggunaannya menyusup dalam keseharian. Bom (waktu), perang dingin, blitzkrieg, balkanisasi, dan serangan fajar sekarang dipakai untuk menjelaskan berbagai hal yang tak ada hubungannya dengan perang.

Begitupun pengaruh perkembangan ilmu dan teknologi. Penemuan komputer—di samping memperkenalkan kata baru computer yang berarti alat hitung, dari akar kata to compute atau menghitung—memperkenalkan penggunaan kata diunggah dan diunduh yang tak ada hubungannya barang ataupun buah-buahan. Atau ketika internet merebak, online tidak berarti kita dalam sebuah barisan. Daring (dalam jaringan) sebagai terjemahannya dalam bahasa Indonesia bukan berarti kita sedang berbicara tentang ikan dan burung.

Pertemuan antar manusia ini juga bisa melahirkan bahasa yang sama sekali baru: Pijin dan Kreole. Mudahnya ketika bahasa tercampur dengan kosakata bahasa lain dan menggunakan tata bahasa bukan dari bahasa utama. Terjadi di seantero dunia walau yang paling terkenal tentu saja di Karibia. Ketika bahasa Inggris (dan juga Prancis) bercampur-baur dengan kosakata bahasa para budak yang dibawa dari Afrika Barat—yang bahasanya sendiri bermacam-macam, pengucapannya sesuai dengan lidah para budak, dan tata bahasanya utamanya menggunakan tata bahasa ‘Afrika Barat’.

Lihat pula Singapura. Ketika negara ini memutuskan untuk mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa nasional mereka, terjadi perlawanan kultural yang sebenarnya tidak dimaksudkan sebagai perlawanan. Terjadi begitu saja.

Walau secara resmi—dalam pemerintahan dan pendidikan—mereka berbahasa Inggris sesuai kaidah bahasa Inggris, dalam keseharian muncul kreolisasi: Singlish. Muncul kata-kata semisal makan, habis, cheem (susah), kiasu (antusias), ang mo (bule) dalam bahasa Inggris mereka.

Muncul pula frasa yang secara tata bahasa Inggris tidak tepat—karena memang menggunakan tata bahasa (mungkin) hokien—tetapi diterima dan benar karena digunakan semua orang. Misal saja "you go where?", "got so many dog ah", "the house sell already", "why you so stupid". Terdengar lucu tetapi sangat dimengerti.

Di halaman rumah kita sendiri kreolisasi juga terjadi, selalu terjadi, dan di setiap sudut daerah. Kita bisa pergi ke Yogya, Ambon, Jayapura, Manado, atau bahkan di Jakarta sendiri untuk mendengar kreolisasi bahasa Indonesia dalam percakapan.

Bahasa memang selalu bergerak seirama dengan kebutuhan kita untuk berekspresi dan sebagai bagian dari modus operandi penyintasan dalam kehidupan. Ia cair, lentur, dan adaptif. Tergantung penggunanya.

Namun, all things considered, mendengar orang menggunakan bahasa campur-campur di Jakarta Selatan entah mengapa saya naik darah. Apalagi kalau mendengar kalimat dimulai dengan which is. Maybe saya tak melihat merit di dalam penggunaannya. Atau it is just me saja yang enggak ngerti saja. Huffttt……..!

Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan.