Konten dari Pengguna

Dongeng

Yusuf Arifin

Yusuf Arifinverified-green

tidak tertarik dengan banyak hal. insecure one trick pony.

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusuf Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dongeng
zoom-in-whitePerbesar

Dari sekian banyak cerita nenek saya, cerita tentang hari pernikahannya adalah yang paling berkesan buat saya.

Ia tidak pernah menyebut tanggal atau tahun pastinya. Tidak penting baginya. Kemungkinan juga ia tidak tahu pasti. Gadis desa tanpa pendidikan sama sekali dan baru berusia 12 tahun ketika perkawinan terjadi.

Ia bercerita tentang letusan kedua Gunung Merapi dari rentetan letusan –maklum, desa tempat tinggal mereka berada tak jauh ke arah timur dari gunung itu— di hari pernikahan.

Ia bercerita tentang desa yang berpendar terang oleh obor walau berselimut hujan abu tipis. Tentang pesta meriah yang tidak batal. Tentang mereka yang berduyun datang.

Tetapi tak kurang penting dari apa yang ia ceritakan adalah kepekaan untuk membaca isyarat alam.

Nenek saya ini menganggap segala sesuatu yang ada di muka bumi -- alam, manusia, dunia wadak, dan dunia batin-- saling berhubungan. Sebuah harmoni yang tak bisa diputus. Saling mempengaruhi.

Gunung meletus, hujan abu, desa yang aman, perkawinan, meriah pesta, dan pendar cahaya obor desa adalah fakta. Tetapi semua itu harus saling dihubungkan dan diberi makna.

Karenanya cerita pernikahan tidak berhenti hanya pada pernikahan saja. Tetapi isyarat yang terjadi di seputar pernikahan dan bagaimana nenek saya menjalaninya.

Rentetan meletusnya gunung sebagai pertanda ia akan menjalani masa yang bergejolak di negeri ini dan ikut langsung merasakan akibatnya. Biarpun ia tak paham dan menyebut semuanya secara generik sebagai gegeran.

Nenek saya memang menjalani hidup yang panjang dan membuatnya menyaksikan Pemberontakan PKI tahun 1926, Proklamasi 1945, Agresi Militer Belanda I dan II, Pemberontakan DI/TII –yang menewaskan salah satu anaknya yang ikut Kartosuwirjo--, dan G30S PKI 1965 –yang mencerai-beraikan keluarga besarnya--.

Letusan gunung pula tapi yang disebutnya membawa berkah kesuburan hingga ia bisa beranak 13.

Pendar obor desa menembus hujan abu disebutnya sebagai isyarat ia akan menjadi induk yang bisa mengayomi anak-anak dan cucu-cucunya.

Berduyun-duyunnya orang yang datang ke pesta ditengah meletusnya Gunung Merapi adalah lambang bahwa ia akan selamat sentosa menjalani semua cobaan yang datang.

Masih banyak lagi pemaknaan yang ia ceritakan yang saya tak ingat lagi.

Pendeknya, cerita sederhana pernikahan nenek saya seperti sebuah jurnal peristiwa lengkap dengan segala pemaknaan dan turunannya. Berbaurnya fakta, asumsi, dan keyakinan yang menjadi pembenaran atas suratan hidup yang kemudian ia jalani.

Tentu untuk saya yang dibesarkan dalam dunia yang positivistik -- harus bisa membuktikan secara empirik-logis keterkaitan antara satu dan lain hal untuk bisa diterima sebagai kebenaran --- cara nenek saya menterjemahkan dan mengaitkan fenomena alam dan suratan hidupnya jelas sulit diterima.

Tetapi bagi nenek saya keterkaitan itu sangat masuk akal segamblang api itu membakar atau air itu membasahi. Bukankah perjalanan hidup seperti yang ia yakini betul terjadi adanya? Ia yang menjalani, ia yang memaknai.

Bukankah ini juga seperti catatan sejarah? Deretan fakta yang diberi pemaknaan oleh mereka yang selamat menjalaninya? Dituturkan oleh pemenangnya?

Mengenai cerita nenek saya, kalaupun saya tak sepakat tapi saya menyukainya. Ada mistis, misteri, dan romantisme. Saya selalu termangu dan terlongong-longong. Imajinasi terbangkitkan.

Mungkin ada nilai-nilai kehidupan yang halus tertanamkan. Karena cerita itu bisa dibantah tetapi tetap menancap diam-diam di relung kesadaran paling dalam. Itu sebab saya selalu mengingatnya.

Mungkin itu yang disebut dongeng.