Mengubur Harmsworth

tidak tertarik dengan banyak hal. insecure one trick pony.
Tulisan dari Yusuf Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada zamannya ia memulai sebuah revolusi. Kalaulah revolusi itu membuat jidatnya dipahat dengan kalimat tak enak "Orang yang mendegradasi profesi wartawan".
Alfred Harmsworth, baron media Inggris dari jaman yang sudah silam, menjelang akhir abad 19 menggagas sebuah model pemberitaan yang pendek-pendek, padat, dan dengan kalimat-kalimat sederhana. Jurnalisme tabloid namanya.
Istilah tabloid adalah pinjaman dari istilah farmasi untuk menyebut obat-obatan yang dipadatkan dan menjadi kecil (tablet). Dalam perkembangannya kemudian digunakan oleh umum untuk menyebut segala sesuatu yang dipadatkan. Harmsworth mencomotnya ke dunia media.
"Abad 20 akan menjadi abad dengan semangat menghemat waktu. Sistem pemadatan berita yang saya perkenalkan atau jurnalisme tabloid, setiap tahunnya akan menghemat ratusan jam kerja," demikian alasan Harmsworth ketika memperkenalkan jurusnya ini.
Wartawan menghemat waktu untuk menulis beritanya, pembaca menghemat waktu untuk mengkonsumsinya. Sementara koran bisa menjadi lebih irit halaman (dan karenanya lebih murah) karena tak perlu memuat berita yang panjang-panjang yang memakan halaman.
Lalu Harmsworth mencanangkan gosip selebriti, kasus kriminal, dan olahraga sebagai menu utama korannya. Karena, "Berita adalah sesuatu yang ingin ditutup-tutupi oleh mereka yang terlibat, selebihnya (isi koran) adalah iklan belaka," katanya yakin.
Daily Mail yang ia dirikan pada tahun 1896 sesuai dengan visi tabloidnya menjadi penerbitan yang berkembang cepat. Di tahun 1900 menjadi koran pertama di dunia dengan sirkulasi di atas satu juta eksemplar setiap harinya.
Dengan rumus yang relatif sama dan sedikit penyempurnaan—fisik koran lebih kecil, foto lebih banyak, bahasa lebih sensasional—Harmsworth mendirikan Daily Mirror pada tahun 1903. Daily Mirror hanya perlu enam tahun untuk ikut menembus batas satu juta eksemplar per harinya.
Harmsworth beruntung. Atau cerdik membaca perkembangan teknologi. Atau piawai merumuskan kecenderungan zaman.
Ketika ia menggagas Daily Mail maupun Daily Mirror waktunya bersamaan dengan semakin sempurnanya jaringan teknologi telegraf yang mampu mengirimkan berita tentang kejadian-kejadian nun jauh di pelosok manapun secara cepat. Perangai pemberitaan berubah: Nasional ketimbang lokal dan untuk umum ketimbang etnik-kelompok-kelas sosial.
Klaim Harmsworth tentang abad menghemat waktu yang kalaupun ada benarnya terasa superficial. Gimmick. Gula-gula argumen ketimbang esensi. Yang dilakukan oleh Harmsworth pada intinya dan tidak oleh yang lain—pada zaman itu—adalah tepat menafsir apa yang ingin dibaca orang dan menemukan cara penyampaian yang pas.
Para editor/penguasa media sesudah Harmsworth adalah pengekor semata. Teknologi dan medium boleh berganti rupa, berkembang sempurna, dan menjadi bermacam-macam tetapi cara berpikir Harmsworth seperti kiblat arah bersujud.
Ukuran kesuksesan karenanya tak berubah tetap berorientasi pada kuantitas seperti dicanangkan Harmsworth. Eksemplar berubah menjadi jumlah pendengar untuk radio, jumlah pemirsa untuk televisi, dan jumlah click untuk media online/internet.
Hingga kemudian datang abad 21 dengan media sosialnya yang merenggut kuasa eksklusif editor media (konvensional) dan mengubah segalanya.
Kita tahu media sosial adalah sebuah paradigma yang berhadapan secara diametral dengan media konvensional apapun alirannya. Koran, majalah, tabloid, radio, televisi, ataupun online.
Sementara editor media memilihkan apa yang dianggap penting bagi pembacanya (khalayak), media sosial bertumpu pada empat hal: Tentang (apa yang terjadi pada) diri kita sendiri, apa yang terjadi pada teman-sanak saudara-lingkungan kita, tentang ketertarikan (interest) kita, dan kuasa untuk mencari sendiri informasi tentang ketiganya sekaligus menyebarnya.
Media sosial memberi penggunanya kuasa untuk menjadi pembuat konten, khalayak, editor, distributor pada saat bersamaan. Memungkinkan penggunanya untuk mengikuti individu, artikel-konten, atau segala sesuatu yang dianggap menarik—receh atau serius—tanpa batasan. Membuka kesempatan untuk menjadi agnostik terkait organisasi media dan brand.
Media sosial menghapus jarak antara si pembuat konten dan khalayak. Percakapan, perdebatan, dan persetujuan bisa terjadi seketika antara pembuat konten dan khalayak atau sesama khalayak bila diinginkan.
Media sosial menghapus perbedaan definisi komunikasi sosial (dari satu orang ke beberapa) dan siaran (dari satu orang ke khalayak) menjadi semuanya siaran. Apapun yang kita lakukan di media sosial, sepribadi apapun, adalah sebuah siaran. Dari memberi komentar foto seorang teman, menulis status, mengomentari status, memberi like, dan berteman.
Kuantitas tetap penting dalam jaringan media sosial tetapi tidaklah sedominan seperti dalam konteks media konvensional. Ada tawaran keintiman khalayak dan keefektifan penyebaran yang tidak bisa ditandingi oleh media konvensional.
Tak mengherankan kalau semua media konvensional tanpa kecuali menyasar media sosial sebagai salah satu alat penyebaran konten. Berebut perhatian dengan jutaan blog, vlog, status, atau konten apapun yang terunggah setiap harinya.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Press Institute di tahun 2015 menemukan bahwa mereka yang berumur 18 hingga 34 tahun cenderung untuk tidak mencari berita langsung ke sumber media konvensional. Hampir 90 persen dari mereka melihat terlebih dahulu yang riuh di sosial media sebelum melakukan eksplorasi sendiri.
Kecenderungan yang sama terjadi di seluruh penjuru dunia. Semakin tinggi penggunaan media sosial, semakin tinggi pula media sosial menjadi sumber berita.
Ah……. kenapa tiba-tiba saja saya mengkhawatirkan masa depan media konvensional ya………………..
