Konten dari Pengguna

Pahlawan

Yusuf Arifin

Yusuf Arifinverified-green

tidak tertarik dengan banyak hal. insecure one trick pony.

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusuf Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aksi Mengenang Jasa Para Pahlawan di Bundaran HI. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Aksi Mengenang Jasa Para Pahlawan di Bundaran HI. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Bagaimana sebenarnya cara mendefinisikan kata pahlawan yang tepat dan berlaku universal?

Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sepertinya itu juga yang ada di benak kita semua ketika menyebut kata pahlawan.

Tetapi sedikit saja kita tidak bebal, kita akan bisa mengajukan beberapa pertanyaan. Bukan mengenai keberanian dan pengorbanan. Tetapi persoalan kebenaran.

Kebenaran menurut siapa? Kebenaran yang mana? Apakah kebenaran itu berkonteks, berbatas ruang, berbatas waktu, atau universal?

Karena seorang pahlawan bagi satu kelompok, bisa saja dianggap penjahat bagi kelompok lain. Seseorang pahlawan bagi satu negara, mungkin penjahat bagi negara lain Seseorang bisa menjadi pahlawan ketika menang, namun penjahat ketika kalah.

Karena seseorang bisa saja pemberani dan berkorban sesuatu yang ia yakini sebagai kebenaran, ternyata yang ia yakini sebagai kebenaran adalah sesuatu yang salah. Bisa di satu masa seseorang menjadi pahlawan, ketika jaman berganti dan pemahaman hidup berubah, ia lalu dianggap sebagai penjahat.

Masukkan saja nama-nama mereka yang dianggap pahlawan di Indonesia dan dunia ini, kita akan terbentur-bentur dengan pertanyaan-pertanyaan dan logika di atas.

Bukan bermaksud untuk kemudian merelatifkan mereka semua yang sudah dipahlawankan. Tetapi sekadar berendah hati agar tidak mencuci suci mereka yang sudah kita nobatkan sebagai pahlawan.

Belum lagi ketika kita berbicara di masa yang lebih kontemporer. Ketika konsensus akan sosok yang layak dipahlawankan belum dicapai. Ketika proses kepahlawanan, sadar atau tidak, sedang berlangsung.

Masing-masing individu, kelompok, entitas secara natural menyodorkan pilihan-pilihan mereka sendiri. Dengan sekian macam varian nilai, pertimbangan, dan kepentingan.

Setiap generasi membawa tantangan hidupnya sendiri . Setiap generasi mempunyai pahlawannya sendiri.

Siapa pahlawanmu? (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Siapa pahlawanmu? (Foto: Istimewa)

Pada satu titik memang akan terjadi kesepakatan umum –atau pemaksaan tergantung cara kita melihatnya—akan siapa yang layak dijadikan pahlawan dan kemudian dipahlawankan. Tetapi selama proses berlangsung, sosok yang muncul akan sangat beraneka ragam.

Bahkan ketika kehendak umum sudah menetapkan sosok tertentu sebagai pahlawan, sosok alternatif yang katakanlah telah disingkirkan jamak tetap hidup dalam ruang batin mereka yang memahlawankan.

Agar aman dari kontroversi kita ambil contoh dari negeri nun jauh di pojok Eropa: Inggris. Juga bukan sosok individu tetapi group band dari generasi belum lama berlalu: Sex Pistols.

Sex Pistols –bersama beberapa group punk rock Inggris lain—menjadi pahlawan bagi remaja Inggris tahun 1970an.

Dikepung perekonomian yang runyam, angka pengangguran yang tak terkendali, dan masa depan yang suram Sex Pistol berteriak no future for you dan menawarkan nihilisme --bahwa hidup ini tidak punya tujuan, arti, ataupun nilai—dan karenanya manusia bisa hidup semaunya. Permisif dan eksesif dalam segala hal.

Sex Pistols (Foto: WIkimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Sex Pistols (Foto: WIkimedia Commons)

Statistik tidak pernah menunjukkan berapa banyak remaja Inggris yang hancur hidupnya mengikuti tawaran nilai alternatif punk rock ini. Tetapi itulah kebenaran yang dirumuskan dan diperjuangkan Sex Pistols menghadapi kesuraman hidup yang pekat. Remaja Inggris menemukan mata angin penunjuk arah mengarungi kegelapan.

Kalaupun pemerintah Inggris dan kalangan mapan menganggap mereka sebagai sampah masyarakat, remaja Inggris tak peduli. Hingga kini, para remaja generasi punk yang tentu saja sudah menjadi orang tua tetap menganggap Sex Pistols dan gerombolannya sebagai pahlawan.

Karenanya saya tidak akan kaget kalau pilihan akan mereka para pahlawan antara generasi 45 dan awal abad 21 di Indonesia akan sangat berbeda. Tidak kaget juga ketika pahlawan yang dimunculkan di buku sejarah –bukan berarti lalu kita tidak belajar tentang sejarah –berbeda dengan yang ada ruang batin publik.