Pakaian

tidak tertarik dengan banyak hal. insecure one trick pony.
Tulisan dari Yusuf Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Pada awalnya, sosok Odysseus tampak biasa saja. Tetapi ia sekarang memancarkan aura para dewa yang berumah di taman firdaus," Homer bercerita di Odyssey—kisah 10 tahun petualangan Odysseus, Raja Ithaca, untuk kembali pulang ke kampung halamannya setelah terlibat Perang Troya—800 tahun sebelum masehi.
Odysseus terdampar di Pulau Scheria setelah kapalnya dihantam badai. Telanjang, kotor, dan tidak layak, Odysseus ditolong oleh Putri Nausicaa dan diberi pakaian. Dan muncullah penggambaran selayak dewa pada diri Odysseus itu.
2400 tahun setelah Homer, Shakespeare menulis kalimat "The apparel oft proclaims the man—Pakaian menunjukkan sosok yang memakainya" dalam Tragedi Hamlet. Kalimat itu merupakan bagian dari nasehat Polonius—penasehat Raja Claudius pembunuh Raja Hamlet dan terkenal sangat memperhatikan cara berpakaian terkait status sosial seseorang—kepada anaknya, Laertes, yang hendak kembali ke Prancis dari Denmark.
Walau dialog Polonius dengan Laertes mengenai tata cara berpakaian dalam konteks keseluruhan cerita Hamlet tidaklah terlalu penting, tetapi dialog itu mempunyai nyawanya sendiri. Konon peribahasa populer clothes make the man yang menggambarkan pentingnya pakaian/penampilan berawal dari sini.
Baik Homer maupun Shakespeare menempatkan pakaian bukan lagi pada persoalan sederhana melindungi diri dari cuaca seperti diteorikan oleh para antropolog mengenai awal mula manusia berpakaian. Pakaian adalah persoalan kelas sosial, kelayakan, kesopanan, keindahan, dan ekspresi simbolik lainnya. Pakaian terinjeksi oleh nilai dan norma di luar hakikat pakaian itu sendiri. Pakaian menjadi sesuatu di luar pakaian itu sendiri, terdikte oleh apa yang ingin disampaikan oleh si pemakai.
Ada dialog dalam pakaian. Ada dialektika (tesa, antitesa, dan sintesa) dalam pakaian. Ada perlawanan dan kompromi dalam pakaian. Ada imajinasi dan kepraktisan dalam pakaian. Ada kesadaran dan ikut-ikutan dalam pakaian. Fesyen berkembang linear mengikuti ini semua.
Lihatlah pameran adi busana. Jelas ia mewakili sebuah norma-cara berpikir tersendiri dalam berpakaian: Menutupi seksualitas dengan (menampilkan) sensualitas, menonjolkan ketertelanjangan dengan (seolah) menutupinya.
Pameran adi busana adalah panggung yang menawarkan dialog, antitesa, perlawanan, imajinasi, dan kesadaran. Tidak mengherankan pameran adi busana sering diwarnai pakaian-pakaian yang tidak praktis, aneh, dan akan jarang dipakai dalam kehidupan keseharian. Persoalan sintesa, kompromi, kepraktisan, dan ikut-ikutan bukanlah perhatian mereka. Itu persoalan khalayak umum, turunan inspirasi untuk pakaian layak pakai yang masal.
Kaum agamawan mungkin berkebalikan total sikapnya dengan kaum penggagas adi busana. Mereka bisa dikatakan rigid tidak menawarkan dialog dalam berpakaian, pun rigid menolak segala sesuatu yang menonjolkan sensualitas dan ketertelanjangan. Tetapi toh mereka tidak mampu mencegah dan mengontrol turunan inspirasi dari sikap mereka. Dialog, dialektika, dan semacamnya tetap terjadi. Suka atau tidak.
Kalau tidak bagaimana cara menjelaskan—untuk umat Islam maupun kristen (ortodoks)—adanya sekian macam variasi jilbab (kerudung) beserta baju yang menyertainya? Atau mengapa penutup kepala (topi) yang dikenakan para perempuan Eropa ketika keluar rumah pernah pada suatu saat menjadi ukuran kesalehan? Bagaimana dengan baju koko? Bagaimana dengan celana cingkrang—walau mayoritas umat Islam sama sekali tidak melihatnya sebagai bagian dari ajaran agama—yang meresap menjadi populer di kalangan anak muda?
Terkadang tidak perlu serius pula awal mulanya. Jeans kini menjadi jenis celana paling populer di seluruh dunia. Ada nilai santai, muda, modern, dan prestisius. Tetapi popularitasnya diawali oleh hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu semua: murah, kuat dan karenanya tahan lama. Dipakai para pendulang emas yang pasti berstrata sosial rendah ketika terjadi gold rush di California di akhir abad 19. Selama sekitar 150 tahun sejak kelahirannya jelas telah terjadi pemaknaan baru akan arti celana jeans ini.
Ingat model celana bawah pinggang yang memperlihatkan celana dalam pemakainya? Membuat gaya jalan si pemakai seperti menderita bisul di pantat, menyeret kaki dan membungkukkan badan agar celana tak jatuh. Di awal tahun 1990-an, gaya celana ini begitu populer di kalangan remaja terutama yang menggunakan budaya hip hop sebagai kiblat fesyen mereka.
Tidak ada yang bisa memastikan dari mana gaya bercelana seperti itu berawal. Ada yang mengatakan meniru para narapidana di Amerika yang tidak diperbolehkan mengenakan ikat pinggang—khawatir digunakan untuk menggantung diri atau untuk senjata—sehingga celananya melorot ke bawah. Ada yang mengatakan—masih meniru narapidana Amerika—sebagai kode bahwa yang bersangkutan bisa dimanfaatkan untuk melampiaskan nafsu seksual.
Mengapa meniru yang demikian? Siapa yang bisa menebak isi kepala orang. Siapa yang bisa menebak dialog kultural yang terjadi. Kekuatan otoritarian seperti apa yang bisa menentukan benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dalam hal seperti ini.
"Naked people have little or no influence in the society— Mereka yang telanjang, tidak punya atau kecil pengaruhnya terhadap masyarakat," konon itu kata penulis Amerika, Samuel Langhorn Clemens alias Mark Twain. Dari Mark Twain atau bukan, ada benarnya juga pernyataan itu. Siapa pula yang mau mendengar orang yang telanjang tanpa pakaian?
