Konten dari Pengguna

Peta

Yusuf Arifin

Yusuf Arifinverified-green

tidak tertarik dengan banyak hal. insecure one trick pony.

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusuf Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peta
zoom-in-whitePerbesar

Peta tertua di dunia yang sejauh ini dikenal manusia berasal dari sekitar abad ke-6 SM. Peta Dunia Babilonia.

Peta dari keping tanah liat itu menggambarkan bukan sekadar dunia (Babilonia) fisik –wilayah yang sudah mereka ketahui dan yang masih antah-berantah-- tetapi juga kosmologi spiritual penduduknya.

Peta Dunia Babilonia memang tidak memisahkan antara alam fisik dan non-fisik. Dibuat sebagai arah dan petunjuk untuk mengarungi bukan sekadar yang mereka ketahui tetapi juga yang mereka perkirakan-pikirkan. Sebuah dokumen yang mewakili cara pandang subyektif pembuatnya disatu waktu tertentu dan konteks tertentu pula.

Lebih dari 2500 tahun kemudian, instink manusia ketika membuat peta masih belum berubah. Pengaitan kosmologi spiritual mungkin sudah tidak lagi. Tetapi taburan istilah yang ada tetap mencerminkan cara pandang subyektif pembuatnya yang dipengaruhi arus pemikiran dominan (atau penguasa dunia) pada jamannya.

Ambil contoh peta dunia yang populer sekarang. Sebut Timur Tengah. Maka yang terbayangkan adalah wilayah Arab Saudi, Palestina, Libanon, Yordania, Suriah, Mesir, dan sekitarnya.

Tetapi sesungguhnya Timur Tengahnya siapa? Pastilah bukan Timur Tengahnya Indonesia ataupun negara-negara Asia lain.

Gambar peta harus seperti yang dikenal sekarang pun mempunyai logika subyektif yang serupa. Karena Bumi yang bulat sesungguhnya tidak mempunyai ujung maupun tepi dan pada dasarnya merelatifkan arah.

Andai gambar dibalik dengan utara berada di bawah dan selatan di atas semestinya sama sahnya. Atau bentangan peta dari kiri dimulai dari Samudra Pasifik dan bukannya Samudra Atlantik sama tidak salahnya.

Tetapi itu semua tidak dilakukan karena ada konvensi atau kesepakatan yang dirujuk bersama. Siapa yang menentukan kesepakatan dan mengapa yang lain mentaatinya, di situlah persoalan sesungguhnya. Ada persoalan kolonialisme, geo-politik, dominasi-ketertaklukan, dan sejarah di dalamnya.

Ada seribu satu menggambar peta yang sebenarnya bisa dilakukan. Sebanyak sudut pandang individu yang ingin menggambarnya.

Tetapi itu semua seringkali tidak terpikirkan sama sekali. Seolah yang sekarang ada adalah aksioma –kebenaran yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya--. Seolah peta adalah sebuah dokumen bebas nilai, universal, dan tidak bisa berubah.

Peta (1)
zoom-in-whitePerbesar

Bagaimana manusia memandang dan menciptakan pertemanan, tata kelola pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, budaya, politik, dan segala macam hubungan antarmanusia lain sebetulnya tidak berbeda dengan cara penggambaran peta dunia. Bentuknya saja yang berbeda.

Persoalan sudut pandang, kesepakatan, arus pikir dominan, kekuasaan, dan sejarah tetap ada di dalamnya. Persoalan ke-aksioma-an dalam penyikapannya juga masih sama.

Anda tahu, peta pada dasarnya hanyalah sebuah siasat untuk tidak tersesat. Tetapi, tersesat di peta dunia dan peta kehidupan di dunia sepertinya tidak terlalu menakutkan (bila bersandar pada pemahaman di atas).

Mungkin perlu dicoba.