Untitled Image
17 Mei 2021 8:51

Pogrom di Tanah Palestina

Pogrom di Tanah Palestina (250992)
searchPerbesar
Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan.
Istilah pogrom terserap sebagai kosakata bahasa Inggris di tahun 1882. Dari kata bahasa Rusia-Slavik Grom yang arti sebenarnya merusak, menghancurkan, atau menimbulkan kekacauan tanpa belas kasihan. Pogrom di Rusia dan negara-negara Slavik digunakan untuk menggambarkan penyerangan massal—tindak kekerasan—rampok paksa—pembantaian terhadap orang Yahudi.
ADVERTISEMENT
Walau pogrom sebagai istilah baru populer setelah diserap sebagai kosakata bahasa Inggris, pogrom sebagai sebuah tindakan sudah ribuan kali terjadi dalam sejarah Eropa. Sejak saat pertama Eropa menjadi Kristen hingga abad 20 lalu.
Selama Perang Salib antara tahun 1095 hingga 1271, dalam perjalanan dari Eropa menuju Yerusalem untuk memerangi pasukan Islam, sangat jamak pasukan Kristen sekaligus juga melakukan pogrom sepanjang perjalanan mereka.
Di abad pertengahan pogrom-pogrom besar sering terjadi di negara-negara Eropa tanpa terkecuali. Yahudi Eropa menjadi kambing hitam empuk untuk semua persoalan.
Ada wabah penyakit, pasti praktik keagamaan orang Yahudi penyebabnya, dan pogrom jawabnya.
Gagal panen, pasti orang Yahudi penyebabnya, dan pogrom jawabnya.
Kalah perang, pasti ada pengkhianatan, orang Yahudi pelakunya, dan pogrom jawabnya.
ADVERTISEMENT
Ada kekacauan politik, pasti orang Yahudi penyebar intriknya, dan pogrom jawabnya.
Eksklusif, tertutup, elitis atau cenderung bergaul hanya dengan kalangan elite di luar kelompok mereka, cenderung mapan-kaya-pandai melihat celah dalam kesempitan membuat mereka gampang disalahpahami dan melahirkan kecurigaan-kecurigaan tak berdasar.
Orang Eropa di masa lalu berkilah ada alasan keagamaan mengapa mereka melakukan pogrom. Sebuah tindak balas dendam atas perlakuan orang Yahudi yang menyerahkan Yesus Kristus ke penguasa Romawi untuk disiksa dan dihukum salib.
Tentu saja ini alasan (teologis) mengada-ada. Karena logikanya justru dengan penyerahan Yesus itu maka bangunan paling mendasar keagamaan (Kristen) terbangun dan terbenarkan: Yesus disiksa untuk di kemudian hari menebus seluruh dosa-dosa umatnya. Sebuah blessing in disguise dan orang Yahudi memainkan peran vital untuk mengukuhkan nubuat penyelamatan manusia dari dosa dunia.
ADVERTISEMENT
Alasan yang lebih sederhana, lebih masuk akal, dan tak ada hubungannya dengan agama adalah: Kecemburuan sosial; paranoid; purbasangka (buruk); superiority complex. Agama sekadar tempelan pembenar-pelega hati. Sebagai sebuah afterthought setelah melakukan pogrom.
Tentu saja pogrom terbesar dalam sejarah Eropa adalah yang dilakukan NAZI Jerman di bawah Hitler di Perang Dunia II. Sebuah tindak ethnic cleansing yang sistematis, terstruktur, masif, dan keji. Sebuah penyerangan massal, tindak kekerasan, rampok paksa, pembantaian tak berperikemanusiaan.
Hampir enam juta orang Yahudi—banyak pihak menyebut jumlah yang lebih sedikit—menjadi korban pogrom NAZI ini. Sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Sejarah mencatat dengan nama Holokaus.
***
Sir Mark Sykes penasihat utama pemerintah Inggris untuk urusan Timur Tengah dipanggil ke sidang kabinet 16 Desember 1915 di Downing Street. Ia diminta untuk memberi saran bagaimana sebaiknya Inggris menyikapi melemahnya Kesultanan Usmaniah Turki dan kemungkinan berbagi wilayah jajahan dengan Prancis yang menjadi sekutu dalam memperlemah Kesultanan Usmaniah.
ADVERTISEMENT
Sykes membawa peta dan tiga lembar catatan untuk disampaikan ke kabinet. Tak ada keraguan di benaknya tentang apa yang harus dilakukan dan bahwa ia adalah orang yang tepat untuk menjalankan apa yang ada di tiga lembar catatannya itu.
Sykes memang bukan dari garis darah yang kekurangan percaya diri. Ayahnya, Sir Tatton Sykes, bangsawan tuan tanah kaya raya dari Yorkshire, yang punya ketertarikan khusus dengan Timur Tengah. Sejak kecil hingga remaja Sykes junior sudah ikut ayahnya menjelajahi Timur Tengah.
Ia menempuh pendidikan di Cambridge walau tak menyelesaikannya. Konon ia tak cukup punya kedisiplinan akademis. Tetapi itu tak menghentikannya untuk menerbitkan tiga buku terkait Timur Tengah sebelum usianya menginjak 35 tahun: Through Five Turkish Province, Dar-Ul-Islam, dan The Caliph’s Last Heritage.
ADVERTISEMENT
Para akademisi menganggap remeh buku-buku Sykes. Dianggap tak lebih sebuah snapshot muram wisatawan tentang Timur Tengah. Tanpa kedalaman. Tanpa pemahaman persoalan yang berarti. Hanya mengusik kulit permukaan masalah di Timur Tengah. Apalagi Sykes diketahui tak bisa berbahasa Arab maupun Turki.
Tetapi pemerintah Inggris tak tahu itu. Latar belakang keluarga, pendidikan Cambridge-nya walau tak selesai, perjalanan-perjalanannya ke Timur Tengah, dan tiga buku itu cukup memberi Sykes gengsi dan otoritas untuk berbicara tentang Timur Tengah. Sykes tahu persis itu dan tak hendak mengoyak ilusi kepakarannya di mata pemerintah Inggris.
Di hadapan rapat kabinet ia berceramah berdasar tiga lembar catatannya mengenai kondisi terbaru di Timur Tengah. Ia bentangkan peta di meja. Ketika ditanya tentang bagaimana membagi wilayah kekuasaan antara Inggris dan Prancis untuk menghindari konflik di antara keduanya di Timur Tengah, jari telunjuknya membuat garis, bergerak dari Acre di barat ke Kirkuk di timur.
ADVERTISEMENT
"Saya ingin membuat garis (pemisah) berawal dari huruf ‘e’-nya Acre hingga ke huruf ‘k’ terakhirnya Kirkuk," kata Sykes yakin.
Di utara garis pemisah yang terdiri dari Suriah, Lebanon, sebagian wilayah Turki, dan sebagian kecil wilayah Irak (masa kini) dikuasai Prancis. Di selatan garis pemisah yang terdiri dari Palestina, Jordan, dan Irak menjadi wilayah Inggris.
Sementara untuk wilayah Arab wilayah selatan garis pemisah itu, Inggris mempunyai strategi yang berbeda. Thomas Edward Lawrence yang kemudian terkenal dengan julukan Lawrence of Arabia, membantu menyatukan suku-suku Arab di sana dan mengobarkan pemberontakan melawan penjajah Turki. Pemberontakan itu belakangan melahirkan sebuah negara Arab yang dikuasai oleh keluarga Saud dengan nama resmi Arab Saudi.
Tidak perlu seorang jenius untuk memahami usulan Sykes itu. Inggris selalu ingin membuat buffer wilayah di sebelah timur untuk melindungi aset utama jajahan mereka di Timur Tengah, Mesir. Negeri ini dengan Terusan Suez-nya adalah urat nadi untuk menyambungkan Inggris dengan jajahan di Asia terutama sekali India—asset utama mereka di anak benua.
ADVERTISEMENT
Tetapi tidak pernah terjelaskan—setidaknya saya belum pernah menemukan penjelasan pasti—mengapa Sykes menarik garis dari e-nya Acre ke k terakhirnya Kirkuk. Kecuali sebuah jawaban samar yang dikeluarkan Sykes di depan rapat kabinet itu, "Saya kira sangat penting untuk memahami posisi kewilayahan kita," sebagai antisipasi rencana operasi militer yang akan mereka lakukan bersama Prancis untuk mengusir Turki dari Timur Tengah.
Kesepakatan yang dicapai di ruangan itu, yang kemudian dirundingkan dan disepakati oleh Sykes dan diplomat Prancis Francois Georges-Picot, merupakan awal dari tragedi Timur Tengah bernama Palestina.
**
Arthur Balfour adalah seorang yang hadir dalam pertemuan kabinet Inggris ketika Sykes mendedahkan rencananya. Ia bekas Perdana Menteri Inggris tahun 1902-1905. Balfour yang di pertemuan menjabat sebagai Laksamana Angkatan Laut Inggris menjadi salah satu yang paling aktif terlibat dalam diskusi tentang rencana Sykes.
ADVERTISEMENT
Dua tahun setelah pertemuan, Balfour yang kemudian menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Inggris mengeluarkan surat resmi komitmen pemerintah Inggris untuk membantu pembentukan negara Yahudi di Palestina. Terkenal dengan nama Deklarasi Balfour.
Deklarasi itu merupakan kulminasi lobi-lobi intensif yang dilakukan organisasi Zionis yang digagas seorang Yahudi Austria, Theodor Herzl. Ia mengerti betul akan panjangnya sejarah pogrom yang terjadi Eropa. Bangsa Yahudi menurutnya tidak akan bisa selamat hingga memiliki negara sendiri. Ia memanfaatkan narasi Kitab Perjanjian lama tentang tanah Palestina yang dijanjikan untuk bangsa Yahudi untuk tempat pembentukan negara itu.
Tetapi peran penting berada di tangan Herbert Samuel, anggota kabinet pertama berdarah Yahudi. Dikenal sebagai anggota Zionis, praktis ialah yang berpengaruh menjalankan lobi-lobi dan ikut membentuk kebijakan pemerintah terkait persoalan Yahudi. Ia pula yang di tahun 1920 ditunjuk menjadi High Commisioner (semacam perwakilan pemerintahan Inggris) di Palestina. Menandai untuk pertama kalinya setelah 2.000 tahun seorang Yahudi kembali memegang kendali pemerintahan di tanah Palestina.
ADVERTISEMENT
Penunjukkannya—sebagai bagian dari keputusan Liga Bangsa-Bangsa untuk menjadikan Palestina sebagai wilayah protektorat Inggris—menjadi awal terjadinya ketegangan antara penduduk Yahudi dan Arab (Islam, Kristen, Katolik) yang sebelumnya hidup damai. Terutama setelah Herbert Samuel membuka lebar pintu masuk untuk orang Yahudi dari luar Palestina untuk menetap.
Keputusan politik Samuel terus berlanjut jauh setelah ia tak lagi menjabat. Dan kemudian mendapat momentum luar biasa ketika pogrom Holokaus terjadi di Eropa antara tahun 1941 hingga 1945.
Pada tahun 1947 PBB memutuskan Palestina untuk dipecah menjadi dua wilayah masih di bawah protektorat Inggris. Dengan bangsa Yahudi mendapat 56 persen wilayah Palestina walau jumlah mereka hanya 30 persen—itupun setelah pintu dibuka lebar-lebar bagi imigran Yahudi Eropa—dari keseluruhan penduduk.
ADVERTISEMENT
Tentu saja ini menimbulkan protes keras dari bangsa Arab yang merasa Palestina adalah tanah mereka. Bangsa Arab merasa diperlakukan tidak adil. Apalagi sebagian besar bangsa Yahudi adalah Yahudi pendatang.
Pada tanggal 14 Mei 1948 Israel diproklamirkan secara sepihak ketika bangsa Arab masih mengajukan keberatan—ditolak—dan kemudian banding atas keputusan PBB tersebut.
‘Provokasi’ Israel berujung pada perang terbuka antara Arab-Palestina dibantu beberapa negara Arab sekitar dan Israel. Lebih siap, lebih taktis, dan "mendapat dukungan negara-negara Eropa dan Amerika", Israel memenangkan perang yang dikenal dengan nama Perang Arab-Israel II. Israel justru merebut hingga 70 persen wilayah protektorat Inggris.
Cerita selanjutnya adalah satu cerita mengenaskan ke cerita mengenaskan berikutnya.
PBB menuntut pengembalian tanah yang telah direbut agar kembali seperti keputusan awal mereka. Israel menolak. Hingga 70 tahun lebih sedikit sesudah perang Arab-Israel II, setiap kali PBB hendak mengeluarkan resolusi untuk pengembalian paksa, Amerika selalu memvetonya.
ADVERTISEMENT
Selama itu pula, di tanah pendudukan, secara sistematis Israel terus mengusir orang Arab Palestina dari rumah-rumah mereka, menjarah kepemilikan mereka, dan membunuh mereka yang hendak melawan. Wilayah demi wilayah. Mengganti penduduknya dengan orang-orang Yahudi. Hingga sekarang.
Palestina menjadi wilayah penjajahan, penindasan, dan kerakusan modern yang diwariskan dari Inggris ke Israel. Lebih dari dua juta penduduk Arab-Palestina dijejal di Jalur Gaza yang luasnya tak lebih 365 km persegi. Sementara tiga juta orang lainnya menempati Tepi Barat Sungai Yordan yang berluas 5.600 km persegi.
Orang boleh mengatakan bahwa penyelesaian persoalan Palestina saat ini telah merumit dan tidak gampang. Tetapi jelas dan sederhana awal mula persoalannya—pun hingga sekarang: Penjajahan (yang tak berkesudahan), penindasan (yang tentu saja tanpa perikemanusiaan), dan kerakusan (tak terpuaskan).
ADVERTISEMENT
Israel melakukan pogrom tanpa nama. Pogrom terhadap bangsa Arab Palestina—Islam, Katolik, Kristen, dan yang tak beragama. Israel seperti belajar dari apa yang terjadi pada orang Yahudi di Eropa selama ribuan tahun.
Bukan belajar agar hal serupa tak terjadi lagi. Tetapi belajar untuk menyempurnakan agar pogrom bisa berjalan mulus, dengan ia-Isrel-‘Yahudi’ sebagai pelakunya.
Palestina tersisa sekadarnya saja, tulis Eduardo Galeano dalam Los Hijos De Los Días—Anak-anak Zaman. Dua ribu tahun penindasan yang diderita orang Yahudi dimuliakan untuk membenarkan kerakusan yang bukan kepalang, dilengkapi dalih hak kemilikan tanah yang termaktub di Perjanjian Lama.
Menindas Yahudi adalah olahraganya orang Eropa. Tetapi Palestina yang membayar tagihannya.
Pogrom di Tanah Palestina (250993)
searchPerbesar
Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan.