Menjadi Muslim yang Bermanfaat

Pendiri Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran
Tulisan dari Yusuf Mansur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam berbagai kesempatan saya sering mengajukan pertanyaan ringan seperti ini, “Siapa yang hafal surat Al-Alaq?”
Tapi herannya, jemaah lebih banyak terdiam. Tak ada satu pun yang mengacungkan jarinya. Yang ada hanya tengok ke kiri dan ke kanan, di tengah banyaknya yang menundukkan wajah menekuri karpet.
Baru saat saya desak untuk mengacungkan jari, terkadang dengan ancaman saya enggak mau melanjutkan tausiah, mereka bersama-sama mengacungkan jarinya.
Dari fenomena itu, muncul pertanyaan kemudian, "Mengapa kita baru mau bertindak jika sedang terdesak? Mengapa kita tidak mau memulai meski kita sudah tahu? Apakah takut disebut ria?"
Saya rasa soal ini babnya berbeda. Beda antara inisiatif dan ria.
Saya rasa inilah yang menjadi penyebab ketinggalan umat Islam. Kita lebih sering menunggu apa yang dilakukan oleh orang lain. Padahal kita bisa melakukan pekerjaan tersebut. Akhirnya kita hanya menjadi follower meski Allah SWT menyuruh kita untuk menjadi The Leader.
Akhirnya seperti inilah kondisi umat Islam kebanyakan. Kita kalah dalam segala sisi. Belum lagi kita juga tidak mau mengambil hikmah kenapa ini bisa terjadi. Yang terjadi, kita hanya merutuki keadaan dengan mengencangkan ego masing-masing.
Allah SWT sudah memperingatkan, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung,” (QS. Al Jumu’ah: 9-10).
Frasa “Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi” berarti kita disuruh bertebaran di muka bumi. Bukan hanya di Indonesia, bukan hanya di Ketapang, dan bukan hanya di Cikarang, tetapi di muka bumi yang luas ini.
Saya mengartikan ini, kita harus cekatan melihat peluang. Ambil inisiatif dan peran dalam kehidupan ini. Jangan menunggu dan jangan pasif, sebab dengan begitu kita akan semakin tertinggal.
Tak usah khawatir dengan yang enggak senang terhadap Islam. Islam ada yang punya. Yakni Allah sendiri. Tak usah khawatir terhadap segala rencana mereka-mereka yang mau merusak Islam wal Muslimiin. Khawatirlah kita sendiri yang merusaknya, dan berjuanglah membelanya.
"Mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar," (QS Ali Imran : 54).
''Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir itu) merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun merencanakan tipu daya pula, dengan sebenar-benarnya," (Ath-Thariq : 15-16).
"Dan Dia-lah Zat Yang Maha keras tipu daya-Nya," (Ar-Raa'd : 13).
Kita bela Islam dengan cara jadi muslim dan muslimah yang baik serta bermanfaat buat semesta dan isinya. Kita bela Islam dengan terus belajar, dan terus beramal saleh.
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlak jika mereka menuntut ilmu,” (HR Ahmad dari Abu Hurairah ra).
Kita hidupkan masjid-masjid di tiap-tiap waktu salat, dengan berjemaah. Kita hidupkan sunah-sunah Nabi, kita perbanyak membaca Alquran, sedekah, zikir-zikir, dan doa-doa.
Rasulullah SAW berwasiat, “Sebaik-baik kalian, adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya,” (HR Bukhari).
Berbarengan dengan itu, kita kurangi dosa dan benar-benar berusaha menjauhi dosa. Maka Insyaallah kejayaan Islam wal Muslimiin enggak terbendung.
“Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya, sedangkan keburukannya terjaga,” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah ra).
Kita bahu-membahu saling mengingatkan, sambil membangun negeri, dan berkontribusi positif kepada dunia. Sebagai rahmat bagi semesta.
Kita hadir, dan disuruh menebar manfaat. Sesuai wasiat Nabi kita: “Sebaik-baik manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Bukan untuk keluarga dan sesama muslim saja, tapi kepada semua manusia, bahkan semua makhluk dan alam semesta.
