Konten dari Pengguna

Adaptasi Perbedaan Budaya Antar Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Yuvi Afiani

Yuvi Afiani

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuvi Afiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Adaptasi Perbedaan Budaya Antar Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
zoom-in-whitePerbesar

Semakin berkembangnya teknologi, banyak manusia yang akhirnya ingin menaikkan standar taraf hidupnya. Mereka mulai mencari-cari pekerjaan, berganti tempat tinggal bahkan menempuh pendidikan yang lebih layak. Ketika kita memiliki tempat tinggal yang baru dan dengan lingkungan yang baru, pasti kita selalu berusaha sebaik mungkin beradaptasi dengan lingkungan tersebut supaya kehadiran kita disambut baik oleh lingkungan. Sedangkan dalam dalam dunia kerja kita memang selalu dituntut untuk bisa bekerjasama dengan orang lain.

Seorang individu yang menempuh pendidikan didaerah lain maupun di luar negeri pasti akan dihadangkan dengan lingkungan serta kebudayaan yang baru. Begitupula dengan mahasiswa luar negeri maupun mahasiswa yang berasal dari daerah lain, seperti halnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). UMY sendiri memiliki tagline Muda Mendunia, yang artinya mahasiswa UMY bukan hanya berasal dari masyarakat dalam negeri namun juga berasal dari luar negeri. Apalagi dengan dibukanya kelas-kelas internasional membuat orang-orang luar negeri berminat untuk kuliah di UMY.

Sebagai salah satu kampus yang berada di kota pendidikan, UMY tentunya siap dengan kehadiran-kehadiran mahasiswa luar daerah. Selain itu mahasiswa juga harus siap beradaptasi, menyesuaikan diri dengan mahasiswa luar negeri yang memang secara budaya, agama, bahasa, sudah berbeda. Penyesuaian diri terhadap lingkungan dilakukan demi kerlancaran kegiatan perkuliahan. Kendala bahasalah yang paling sering menjadi masalah, karena kebanyakan mahasiswa berasal dari Indonesia jadi dosen lebih banyak menerangkan menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi UMY memiliki teknik tersediri agar mereka yang berasal dari luar negeri bisa memahami perkuliahan yang sedang berlangsung saat itu.

Menurut KBBI, Bahasa merupakan suatu sistem suara arbitrer, yang dipakai oleh masyarakat guna berkomunikasi, berinteraksi, bekerja sama, dan mengidentifikasi masalah. Dari pengertian tersebut kita menjadi paham bahwa dengan bahasa yang baik maka akan tercipta pola komunikasi yang baik pula. Kita bisa saling bekerja sama maupun mengidentifikasi masalah apa yang ada di lingkungan kita. Supaya tidak terjadi kesalah pahaman bahasa ataupun tercipta miscommunication maka kita harus menggunakan bahasa yang memang dipahami oleh semua orang. Tidak hanya egois karena kita berasal dari Negara Indoensia maka kita harus menggunakan bahasa Indonesia, mahasiswa juga harus menghargai perbedaan yang ada. Ketika ada mahasiswa lain yang berasal dari luar negeri maka kita sebisa mungkin harus menggunakan bahasa yang mereka pahami seperti contohnya bahasa inggris.

Mahasiswa yang berasal dari luar Jogja maupun dari luar negeri, kebanyakan dari mereka mendapatkan informasi UMY dari internet maupun dari kedutaan besar Indonesia yang berada diluar negeri. Dari informasi-informasi tersebut akhirnya mereka tertarik untuk mencoba kuliah di UMY. Dengan begitu mereka harus siap beradaptasi dengan lingkungan yang baru, bagi mereka yang berasal dari luar negeri hal pertama yang diperlukan adalah mencari teman yang memang bisa memperkenalkan kepadanya bagaimana cara bertahan hidup di Indonesia. Tentang bagaimana kebudayaan yang ada di Yogyakarta, dan bagaimana cara berinteraksi dengan orang Indonesia.

Perbedaan-berbedaan tersebut tidak menghalangi untuk tidak menerima kebudayaan yang berasal dari laur. Seperti halnya tagline UMY Muda Mendunia, paling tidak kita harus memahami Bahasa Inggris. Selain itu dosen UMY juga sebisa mungkin memberikan materi dengan dua bahasa yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk mahasiswa yang berasal dari luar negeri.

Mahasiswa luar daerah maupun luar negeri harus berpisah dengan keluarganya. Pasti ada momen dimana mereka merindukan rumahnya dan merindukan keluarganya (homesick). Homesick adalah perasaan yang dialami individu karena mereka rindu rumah, maupun kehilangan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaannya dinegara asal. Mereka harus beradaptasi dengan teman-teman baru yang bisa disebut sebagai keluarga baru diYogyakarta. Mereka beradaptasi dengan mahasiswa yang berbeda agama dan beda kebudayaan.

Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi sekarang ini sebenarnya homesick tidak selalu menjadi penghambat. Kita bisa memanfaatkan media sosial seperti whatsapp, lalu komunikasi melalui video atau yang biasa disebut sebagai video call. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan media yang ada saat ini.

Perbedaan-perbedaan diatas sebenarnya bukan penghalang kita sebagai mahasiswa untuk membeda-bedakan mahasiswa yang berasal dari luar daerah maupun dari Negara lain. Jika kita mampu melewati perbedaan-perbedaan diatas tagline UMY Muda Mendunia bukan hanya tagline biasa tetapi sangat luar biasa. UMY mampu menjadi kampus mendunia, menerima mahasiswa dari luar daerah maupun luar negeri. Sehingga akan tercipta kampus yang go international.

Yuvi Afiani_Ilmu Komunikasi_Universitas Muhammadiyah Yogyakarta