Konten dari Pengguna

Gula Jawa dan Doa Sebagai Penopang Kehidupan Keluarga, Usahanya Kini Tak Sia-Sia

Yuvi Afiani

Yuvi Afiani

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuvi Afiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tempat produksi gula merah yang terletak di Dusun KarangKemojing, Gumelar, Jawa Tengah, Rabu (28/10).
zoom-in-whitePerbesar
Tempat produksi gula merah yang terletak di Dusun KarangKemojing, Gumelar, Jawa Tengah, Rabu (28/10).

Seseorang memerlukan kesulitan karena mereka adalah kebutuhan untuk menikmati kesuksesan – P. J. Abdul Kalam.

Ungkapan tersebut mungkin cocok untuk pasangan suami istri yang bernama Rasiyah dan Risman. Warga Dusun KarangKemojing, Gumelar, Jawa Tengah tersebut menghidupi keluarganya dengan membuat gula jawa atau bisa juga disebut dengan “Gula Merah”. 12 tahun sudah kehidupan mereka digantungkan pada usaha gula merah tersebut. Setiap hari suaminya mengumpulkan Nira “Nderes” dari pohon kelapa, jarak antara pohon kelapa yang akan di deres dengan rumahnya terbilang cukup jauh. Belum lagi ketika hujan datang, maka pohon kelapa akan susah dipanjat karena licin.

“Ketika musim penghujan datang jumlah Niranya bertambah, namun resiko untuk memanjat pohon kelapanya juga semakin bertambah karena pohon kelapa akan licin,” tutur Risman ketika saya temui pada hari Rabu (28/10).

Risman juga berkata, ketika musim kemarau datang pohon kelapa mudah dipanjat namun hasil Nira yang didapat akan berkurang, begitupun dengan musim peralihan antara musim kemarau dan musim penghujan dan sebaliknya. Gula merah yang dihasilkan ketika musim penghujan dan musim kemarau berbeda-beda, kadang bagus dan bisa juga lengket. Cara pengolahan gula merah tersebut masih menggunakan cara tradisional yaitu, dengan menggunakan tungku besar dan kayu bakar. Selain pohon kelapa yang licin ketika musim penghujan, kayu bakar juga semakin susah untuk dicari.

Tugas istrinya dirumah adalah mengolah hasil Nira tersebut sampai menjadi gula merah. Ia akan memasak Nira tersebut kurang lebih 6 jam, biasanya ia akan mulai memasak Nira pada pukul 11.00 WIB dan gula tersebut akan siap dicetak ketika pukul 17.00 WIB. Ketika gula diangkat dari tungku harus segera diproses dan dicetak karena kalau didiamkan cukup lama maka gula akan mengeras diwajan. Tangan sebagai taruhan, rasa panas dari gula yang baru diangkat dari tungku akan terasa sangat panas ditangan, namun itu akan menjadi hal biasa ketika sudah terbiasa.

“Gula merah yang didapat ketika musim penghujan berkisar 7 Kg, harganya juga tidak menentu kalau sedang mahal bisa mencapai Rp 15.000 perKg,” kata Rasiyah.

Hasil olahan gula tersebut akan dijual kepada orang-orang yang membutuhkan. Biasanya orang-orang akan datang ke rumah untuk membeli gulanya. Orang-orang yang sudah terbiasa masak menggunakan gula merah berkata bahwa, masak tidak memakai gula jawa rasanya tidak enak atau ada yang kurang. Orang-orang juga sangat bergantung dengan produksi gula merahnya karena jika mereka berhenti memproduksi gula merah maka tidak ada lagi yang memproduksinya, karena tidak ada orang yang ahli dalam pembuatan gula merah tersebut.

Rasiyah berkata walaupun penghasilannya tidak seberapa, tapi ia masih bersyukur karena masih bisa mencukupi kehidupan keluarganya dan ia juga dapat menyekolahkan kedua anaknya. Tidak hanya itu, kedua anaknya pun memiliki kecerdasan diatas rata-rata sehingga ketika dibangku sekolah mendapat prestasi yang baik.

“Alhamdulilah anak saya yang pertama sudah lulus kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan, jadi sekarang tinggal menyekolahkan anak yang kedua sekarang masih SMK,” kata Rasiyah.

Anak pertamanya kuliah S1 Matematika di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta dan lulus tahun 2020 dengan nilai yang memuaskan lalu sekarang bekerja sebagai guru matematika di Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah. Sedangkan adiknya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) di Purwokerto. Kegigihan mereka dalam belajar mengantarkan mereka menuju pintu kesuksesan, tidak ada kata malu walaupun orang tua mereka hanya sebagai pembuat gula merah. Justru mereka mempunyai motivasi agar lebih baik dari kedua orang tuanya mereka saat ini, mereka ingin membahagiakan kedua orang tuanya dengan menunjukan kesuksesannya.

Rasa bangga ketika doa dan usahanya membuahkan hasil yang manis. Ibaratnya usahanya tidak sia-sia, lelah dan letihnya terbayar dengan kesuksesan anak-anaknya. Semua akan berbuah manis jika dilakukan dengan sabar dan ikhlas. Berusaha sekuat tenaga dan menyerahkan hasilnya kepada sang kuasa, jika sabar menanti buahnya hingga masak maka akan terasa manis, tinggal bagaimana menyikapi keadaan yang ada. Karena tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan, semua harus melewati prosesnya masing-masing.