Konten dari Pengguna

4 Hal yang Membedakan PAUD di Australia

Zabrina Listya

Zabrina Listya

I am a 'student-mom' with two kids and passionate about learning and self-improvent :) Melbourne

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zabrina Listya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi PAUD. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi PAUD. (Foto: Thinkstock)

Baru merasakan pendidikan anak usia dini di Australia selama 1,5 tahun, tetapi sudah banyak sekali pengalaman berbeda ketika anak saya dahulu bersekolah di taman kanak-kanak Jakarta. Mungkin terdengar tidak fair ketika saya membandingkan kedua negara yang letaknya tidak berjauhan ini.

Tetapi, ketentuan berikut sepertinya merupakan hal yang umum dan memiliki hukum resmi dalam sistem pendidikan anak usia dini di Australia. Berikut hal-hal yang menarik untuk diketahui!

1. No Jab No Play

Istilah No Jab No Play dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah anak-anak yang divaksin ketika akan memasuki sekolah di Australia. Ketika dulu mendaftarkan anak saya berusia empat tahun ke kindergarden, salah satu persyaratannya adalah riwayat imunisasi yang lengkap. Jika tidak lengkap, mereka tidak sungkan untuk menolak.

Sebelumnya, riwayat imunisasi bisa diberikan melalui GP (General Practitioner/dokter umum) dan diserahkan kepada council setempat saat pendaftaran (sekolah tidak menerima pendaftaran langsung). Mulai tahun 2018, ditetapkan peraturan baru bahwa riwayat imunisasi harus disahkan melalui satu tempat yaitu, Australian Immunisation Register (AIR).

Ketatnya peraturan mengenai vaksin ini didukung oleh berbagai penelitian bahwa imunisasi terbukti mencegah berbagai macam penyakit yang membahayakan jiwa anak-anak dan komunitas sekelilingnya (herd immunity).

Semakin banyaknya anak yang divaksin mengurangi penyebaran penyakit dalam suatu komunitas. Selain itu, anak-anak yang tidak bisa menerima vaksin karena kondisi medis juga akan terlindungi dan terselamatkan nyawanya!

4 Hal yang Membedakan PAUD di Australia (1)
zoom-in-whitePerbesar

Images: Herd Immunity

Di saat yang sama, ketika membaca berita di laman ini bahwa imunisasi tidak lagi dijadikan syarat untuk memasuki sekolah di Jakarta, saya cukup kaget! Jika ingin memberikan keadilan bagi siapa saja untuk dapat masuk sekolah karena susahnya akses imunisasi, bagaimana jika dengan mempermudah akses imunisasi tersebut?

2. Right Bite and Healthy Eating

Tingginya kesadaran orang tua untuk memberikan makanan sehat didukung oleh peraturan dari sekolah. Orang tua diberikan list dan diedukasi untuk memberikan makanan yang sehat dan sesuai dengan kondisi anak (jika anak alergi misalkan). Ada tiga jenis makanan yang dikategorikan dalam memilih makanan yang sehat untuk anak-anak dalam usia sekolah:

  • Green Foods (makanan yang sangat disarankan): sayur-sayuran dengan berbagai warna, kacang-kacangan, roti, pasta, dan cereal yang rendah gula (disarankan dari whole wheat atau gandum utuh), produk susu sapi rendah lemak (keju, yoghurt, dll), daging-dagingan (sapi, ikan, ayam, telur atau tahu, dan kacang-kacangan sebagai alternatif), dan air putih.

  • Amber Foods (boleh tetapi tidak melebihi green foods): kue-kue manis (muffin)/biskuit, processed meats (korned/sosis/nugget), dan kategori lain yang merupakan produk yang tinggi gula dan garam

  • Red Foods (hindari atau sangat jarang): donat atau roti manis, minuman soda, berkafein atau yang tinggi gula seperti jus, dan goreng-gorengan (deep fried).

4 Hal yang Membedakan PAUD di Australia (2)
zoom-in-whitePerbesar

Bekal makanan yang disarankan meliputi produk berbahan yang segar, bukan siap jadi dari pabrik. Walaupun terlihat ribet, tenyata tidak sesulit itu. Yang sulit adalah membiasakan untuk mengonsumsi makanan yang tidak terlalu berbumbu, rendah gula, dan garam.

Contohnya, di Indonesia saya terbiasa makan sayur kalau tidak dalam sop atau tumisan, tidak biasa makan hanya wortel atau buncis kukus saja atau mentimun kalau tidak ditemani oleh sambal.

3. Without Consent, No Photo Please!

Ini hal yang sangat berbeda di mana di Indonesia, anak-anak tidak lepas dari jepretan kamera di mana pun! Di Australia, photo consent memiliki pasal hukum tersendiri di mana orang tua harus memberikan izin terlebih dahulu jika orang lain atau sebuah institusi ingin mengambil foto atau video anaknya, terutama jika ingin dipublikasikan online. Mengapa?

Hukum ini diberlakukan karena beberapa alasan di antaranya menghargai privacy dan personal information serta untuk menghindari kriminal (cyberbullying, sexting, dll) yang sering terjadi di dunia maya seperti yang dijelaskan pada laman ini.

So, ketika bersekolah di Australia, silakan bertanya dahulu jika ingin mengambil gambar yang bukan anak sendiri.

4 Hal yang Membedakan PAUD di Australia (3)
zoom-in-whitePerbesar

Image: Don't photograph me, please!

4. Competition or Collaboration?

Berbagai macam kompetisi mulai dari lomba menggambar, lomba mewarnai, lomba peragaan busana, lomba menari daerah, lomba 17 Agustusan, dan lomba-lomba lainnya, sangat sering terdengar di sekolah-sekolah taman kanak-kanak di Indonesia. Setelah mengikuti lomba mewarnai yang disponsori oleh satu produk terkenal, anak saya yang ketika itu berumur 4 tahun trauma dan menolak ketika diajak lomba lainnya.

Saat itu dia merasa tegang sekali setelah panitia menyalakan timer dan membunyikan suara pertanda anak-anak mulai mewarnai. Di dalam ruangan itu ada yang menangis, ada yang terburu-buru mewarnai, ada yang diam saja termenung, ada yang terus bergerak tidak bisa diam.

Sesampainya di Australia, saya tidak mendengar satu pun lomba yang diadakan oleh TK anak saya. Hal yang sering diadakan ketika perayaan adalah kolaborasi grup dalam satu performance.

Ketika saya bertanya pada salah satu guru, beliau mengatakan bahwa team work lebih ditekankan kepada anak-anak di usia ini (seperti taman kanak-kanak) bukan persaingan untuk menunjukkan siapa yang lebih baik di antara mereka.

Walaupun kolaborasi atau kompetisi ini bukanlah hal yang diatur dalam suatu hukum, menurut saya pribadi saya setuju kolaborasi penting sekali untuk ditanamkan terlebih dahulu sejak dini.

Namun, berkompetisi tidaklah buruk, tetapi bisa memberikan efek negatif jika tujuan dari kompetisi tersebut hanya untuk menunjukkan siapa yang terbaik atau menjadi pemenang, bukan belajar dari proses untuk pencapaian tersebut. Bagaimana menurut kamu?