Konten dari Pengguna

Petaka Bernama Kantong Plastik

Zachrina Aprillia Jati

Zachrina Aprillia Jati

Hallo! My blog : https://zachrinaaprillia.blogspot.co.id/

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zachrina Aprillia Jati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

video youtube embed

Pagi hari sebelum berangkat ke sekolah atau kantor, beli gorengan dibungkus kantong plastik. Siang hari, beli makan dibungkus kantong plastik. Sore hari, beli martabak dibungkus kantong plastik. Malam hari, beli fried chicken dibungkus kantong plastik. Belum lagi, jika sedang ke mini market, pasar atau gerai retail modern yang membawa pulang hingga berplastik-plastik barang belanjaan.

Padahal, ‘nyawa’ kantong plastik itu hanya seumur langkah kakimu dari pedagang ke rumah, atau kantor. Tepatnya hanya perlu beberapa menit atau jam saja untuk mengubah nama kantong plastik itu menjadi sampah. Lalu, apakah kita benar-benar membutuhkan kantong plastik itu?

Tim kumparan (kumparan.com) melakukan social experiment terhadap 10 konsumen (non-retail modern) sebagai sampel untuk mengetahui apakah konsumen benar-benar membutuhkan kantong plastik. Kami melibatkan 2 pedagang kaki lima, yaitu pedagang fried chicken di Jalan Muhasyim Cilandak Barat pada Rabu, 8 November 2017 dan pedagang gorengan di Jatipadang, Pasar Minggu, pada Kamis, 9 November 2017.

Berdasarkan eksperimen, kami menemukan bahwa dari 10 konsumen, ada 7 konsumen yang menerima tidak menggunakan kantong plastik dan 3 konsumen lainnya menolak jika tidak menggunakan kantong plastik.

Eksperimen Pertama

Kami minta pedagang fried chicken di Jalan Muhasyim, Cilandak Barat untuk tidak memberikan kantong plastik ke konsumen. Cukup bungkus kertas fried chicken saja. Hasilnya, ternyata ada 2 konsumen yang tak masalah tak diberi kantong plastik, 3 meminta tetap ada kantong plastik.

“Enggak pakai ya enggak mengapa. Tahu dampaknya, jadi sampah. Jadi banyak sampah”, kata Novriansyah (15).

Sementara Rizky (21), meski belum mengetahui dampak yang akan ditimbulkan dari sampah plastik, namun dia memilih untuk tidak keberatan ketika tidak diberi kantong plastik oleh pedagang. “Enggak apa-apa, enggak tahu dampaknya sih,” ujarnya.

Tapi ada 3 konsumen lain yang meminta tetap ada kantong plastik sehingga pedagang akhirnya tetap memberikan yang menjadi hak konsumen itu.

"Karena biar mudah membawa, enggak tahu (dampak penggunaan plastik). Biasanya kantong plastik disimpan nanti dipakai lagi," ujar salah satu pembeli Afifah (15).

Begitu pula Ika (36), Ia mengatakan alasan penolakannya adalah kemudahan dalam membawa. Sayangnya, sama seperti Afifah, ia tidak mengetahui dampak dari sampah kantong plastik.

Eksperimen Kedua

Eksperimen kedua diterapkan di pedagang gorengan di Jati Padang. Lantaran terbiasa memberikan plastik tanpa kertas, kami meminta agar dia mengganti plastik itu dengan kertas bungkus nasi.

Temuan yang didapat, ternyata 5 konsumen yang berurutan ditanya, semuanya tidak keberatan alias menerima ketika tidak diberi kantong plastik.

Pelanggan bernama Wiwin, mengakui secara sadar sampah kantong plastik dapat merusak lingkungan. Ia bercerita, selama ini upaya yang ia lakukan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik adalah dengan memakainya berkali-kali selama masih layak.

"Plastik kan merusak lingkungan. Kasian buminya banyak sampah. Lipat plastik dipakai lagi, kalau yang udah bau baru enggak dipakai," katanya.

Serupa dengan Wiwin, Wisnu dan Arief juga menerima ketika tidak diberi kantong plastik pedagang. Bagi mereka, kantong plastik hanya akan menjadi sampah, mereka juga tidak keberatan jika membawa tas atau wadah sendiri ketika belanja.

Febby, menyebut dia menggunakan kantong plastik karena memang itu yang disediakan pedagang dan tidak ada alternatif. Menurutnya, memang harus ada pengganti kantong plastik agar penggunaannya berkurang.

Temuan eksperimen (Foto: (Dok. Tim kumparan))

Respons Pedagang

Eka Nugraha (23), pedagang fried chicken yang dengan sukarela ikut eksperimen, menyebut selama ini menggunakan kantong plastik karena memudahkan pembeli. Tapi dia menyadari sebetulnya banyak konsumen yang dalam sehari-hari memilih tidak menggunakan kantong plastik dan hanya menggunakan bungkus kertas.

Hal itu dibuktikannya dengan jumlah kantong plastik yang lebih ‘awet’ dibandingkan dengan kertas bungkus. “Kalau bungkus kertas itu 100 lembar biasanya 2 hari habis, tapi kalau kantong plastik 100 lembar biasanya bisa habis sampai 3 hingga 4 hari,” ungkapnya.

Hal serupa juga dikatakan penjual gorengan yang mau ikut eksperimen, ia mengatakan bisa menghabiskan 100 lembar plastik untuk 3 hari. Soal alasan, sama dengan pedagang fried chicken, memudahkan pembeli, dan tak tahu bahaya plastik.

Kenapa Ngotot Ingin Kantong Plastik?

Ilustrasi sampah plastik (Foto: Pixabay)

Kantong plastik merupakan produk non-biodegradable (tak bisa diurai oleh proses biologi -red) yang mempunyai potensi membuat kerusakan parah bagi lingkungan. Kantong terdiri atas dari senyawa organik dan anorganik dan sebagaian besar berasal dari petrokimia seperti olefin. Bahan plastik setidaknya membutuhkan waktu 500-1000 tahun untuk terurai. Maka, jika kita membuang sampah kantong plastik sekarang, bisa jadi kita meninggalkan bahaya sampah plastik minimal 5 turunan.

Kantong plastik memang banyak digunakan karena harganya yang cenderung ekonomis, praktis, relatif kuat dan tahan kelembapan. Tapi, nilai guna pada plastik paling lama hanya bertahan selama 2 jam hingga akhirnya di buang ke tempat sampah dan berubah menjadi “pembunuh berdarah dingin”.

Studi di Pusat Nasional UC Santa Barbara yang diterbitkan dalam jurnal Science bahkan menunjukkan ada 8 juta metrik ton sampah yang mencemari lautan setiap tahunnya. Diperkirakan, pada 2025 dapat mencapai 2 kali lipatnya.

Menurut Indonesia Solid Waste Association (InSWA), produksi sampah di Indonesia dapat mencapai 5,4 juta ton per tahun. Data Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, menyebutkan bahwa sekitar 13 persen dari sampah di Jakarta mencapai 6.000 ton per hari adalah sampah plastik. KLHK juga menyebutkan bahwa 9,85 miliar lembar sampah kantong plastik dihasilkan setiap tahun dan mencemari lingkungan selama lebih dari 400 tahun.

Studi baru juga menemukan bahwa sekitar 5 triliun partikel plastik dengan berat total 268.940 ton mengambang di lautan. Hal itulah yang menjadi penyebab berbagai kerusakan ekosistem laut hingga wisata alam, seperti banyaknya paus, burung laut, lumba-lumba dan lainnya mati karena terjerat atau memakan sampah plastik yang kita hasilkan.

Jika bicara ritel, pada Juli 2017, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Lembah dan Bahan Beracun Berbahaya merilis data temuan yang mengungkapkan bahwa gerai anggota Aprindo seluruh Indonesia yang berjumlah 32.000 gerai telah menghasilkan 9.600.000 lembar kantong plastik per hari dan jika dikalikan setahun maka akan mencapai 21.024 Ha sampah kantong plastik pertahun.

Lebih mencengangkan lagi, kantong plastik (kresek) dari 32.000 gerai ritel modern selama satu tahun jika ditimbang adalah setara dengan 68 kali berat Air Bus A380 dan setara dengan 353 kali volume candi Borobudur. Bayangkan, itu hanya sampah kantong plastik di retail modern, bagaimana jika dijumlah dengan dari pasar tradisional, warung kelontong hingga pedagang kaki lima yang setiap hari kita beli?

Sampah plastik di Bantar Gebang (Foto: (Okky/kumparan))

Pencemaran Lingkungan hingga Ancaman Kesehatan Kita

Persoalan mengenai sampah kantong plastik kian mendesak untuk segera ditangani. Pada tahun 2012, organisasi Worldwatch Institute memperkirakan, produksi plastik akan meningkat hingga 299 juta ton pada tahun 2013. Prediksi tersebut ternyata berbanding lurus dengan hasil penelitian mengenai sampah plastik yang dipublikasikan oleh 5 Gryes Institute, sebuah oraganisasi yang berfokus pada persoalan polusi sampah plastik di lautan.

Peneliti 5 Gryes Institute menyebut, pada tahun 2014 terdapat 5,25 triliun partikel plastik seberat 269.000 ton mengapung di lautan seluruh dunia. Yang lebih mencengangkan, menurut laporan studi yang dipublikasikan oleh Ocean Concervacy dan McKinsey Business and Environment, setiap tahunnya terdapat 8 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut. Dari jumlah tersebut, sebanyak 60% diantaranya hanya berasal dari lima negara di Asia yaitu, China, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Sementara itu, Indonesia sendiri telah menjadi penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua di dunia. Satu-satunya negara yang menghasilkan sampah plastik lebih banyak dibanding Indonesia hanyalah China. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Bank Dunia, diperkirakan setiap penduduk Indonesia bertanggung jawab atas sekitar 0,8 - 1 Kilogram sampah plastik per-tahunnya.

Upaya Mengurangi Kantong Plastik

Pemerintah pernah mengampanyekan pengurangan kantong plastik lewat uji coba kantong plastik berbayar Rp 200 di 23 kota di seluruh Indonesia pada Februari-Maret 2016 lalu. Hasilnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengklaim ada penurunan penggunaan kantong plastik sebesar 25-30 persen. Ditambah data bahwa 87,2 persen masyarakat mendukung kebijakan ini dan 91,6 persen masyarakat bersedia membawa kantong belanja sendiri.

Tapi data itu berbeda dengan temuan survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang menguji program itu dari kaca mata konsumen di 25 gerai dari 15 nama ritel terkemuka di DKI Jakarta. Survei itu sampai pada kesimpulan penerapan kantong plastik berbayar tak efektif.

Alih-alih ingin mengurangi kantong plastik, justru harga Rp 200 itu menjadi keuntungan lebih bagi ritel karena masyarakat merasa tak terbebani dengan harga Rp 200 untuk setiap kantong plastik yang mereka gunakan. YLKI mendorong agar mendorong kebijakan ekstrim dengan meniadakan kantong plastik.

Tapi pengurangan kantong plastik sesungguhnya tak serumit menerapkan kebijakan yang menuai pro kontra, eksperimen sederhana tim kumparan di atas menunjukkan bahwa ada masyarakat yang tak masalah tak diberi kantong plastik. Mungkin petaka itu tak disadari, tapi ada kesadaran bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri. Bagaimana denganmu?

Reporter: Nurul Nur Azizah | Okky Ardiansyah | Agritama Prasetyanto | Aditya Pratama Niagara