Konten dari Pengguna

Baduy dan Gen Z: Belajar Menentukan Apa yang Perlu Dipertahankan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zacky Al-Ghofir El-Muhtadi Rizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi pribaadi perjalanan ke Baduy Luar.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribaadi perjalanan ke Baduy Luar.

Perjalanan ke Baduy memberi saya pengalaman untuk melihat lebih dekat kehidupan masyarakat adat yang masih mempertahankan tradisi leluhur. Berada di tengah alam yang masih begitu asri, berjalan melewati jalan setapak, dan mendengar suara hutan secara langsung membuat saya menyadari bahwa ada cara hidup yang berbeda dari kehidupan masyarakat modern pada umumnya.

Masyarakat Baduy sering kali dipandang sebagai masyarakat yang terasing. Namun, istilah tersebut perlu dilihat kembali. Mereka bukan masyarakat yang sama sekali terputus dari dunia luar. Mereka tetap memiliki interaksi dengan masyarakat luar dalam kehidupan tertentu. Karena itu, Baduy lebih tepat dipahami sebagai masyarakat yang memilih menjauh dari kehidupan masyarakat luar demi mempertahankan tatanan adat yang mereka yakini.

Pilihan tersebut telah berlangsung dalam waktu yang panjang. Masyarakat Baduy merupakan bagian dari masyarakat Sunda, khususnya yang sering disebut sebagai masyarakat Sunda Buhun. Mereka mempertahankan berbagai tradisi dan tata kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan sandang, pangan, dan papan diupayakan melalui sumber daya dan kemampuan yang mereka miliki. Hubungan mereka dengan alam juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan adat. Hutan dan lingkungan dijaga dengan aturan yang kuat agar tetap menjadi bagian dari keberlangsungan hidup masyarakat.

Yang menarik, keteraturan tersebut tidak selalu dibangun melalui aturan tertulis. Banyak norma hidup dalam ingatan, kebiasaan, dan kepatuhan masyarakat terhadap adat. Tidak tertulis, tetapi dijalankan. Tidak selalu terpampang dalam papan aturan, tetapi hidup dalam perilaku sehari-hari.

Masyarakat Baduy sendiri terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar. Keduanya memiliki karakteristik dan tingkat keterbukaan yang berbeda terhadap dunia luar. Namun, kehidupan keduanya tetap berada dalam kerangka adat yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.

Salah satu filosofi yang menarik perhatian saya adalah:

“Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung.”

Secara harfiah, ungkapan tersebut berarti “panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung.” Filosofi ini dapat dimaknai sebagai ajaran untuk menerima sesuatu sebagaimana mestinya, tidak mengurangi atau menambahkan sesuatu secara sembarangan, serta menjaga kejujuran dan menaati aturan adat yang telah diwariskan.

Bagi saya, filosofi ini tidak harus berhenti sebagai milik masyarakat Baduy. Ada sesuatu yang dapat direnungkan oleh generasi hari ini, termasuk Gen Z.

Gen Z tumbuh di tengah dunia yang hampir tidak memiliki batas. Informasi datang dalam hitungan detik. Tren berubah dengan cepat. Apa yang hari ini dianggap penting, beberapa hari kemudian bisa saja terlupakan. Kita hidup dalam budaya yang mendorong kita untuk terus mengikuti perubahan.

Di tengah keadaan seperti itu, Baduy menawarkan sebuah pertanyaan sederhana: ketika segala sesuatu boleh berubah, apa yang tetap ingin kita pertahankan?

Mungkin kita tidak perlu hidup seperti masyarakat Baduy. Kita tidak harus meninggalkan teknologi, media sosial, atau kehidupan modern. Namun, kita dapat belajar dari cara mereka menempatkan adat dan nilai sebagai pegangan.

Sebab, menjadi generasi yang mengikuti zaman bukan berarti harus mengikuti semuanya.

Ada hal yang perlu kita terima, ada yang perlu kita pertimbangkan, dan ada pula yang perlu kita tinggalkan. Yang terpenting adalah kita memiliki kesadaran untuk menentukan pilihan, bukan sekadar terbawa arus.

Perjalanan ke Baduy juga membuat saya melihat alam dengan cara yang berbeda. Ada keindahan yang rasanya sulit dipindahkan sepenuhnya ke dalam kamera. Terekam oleh mata, terdengar oleh telinga melalui suara hutan yang hidup, dan terasa oleh raga lewat sejuk udara serta tanah yang dipijak.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang mengenal Baduy. Ia juga menjadi ruang untuk bercermin.

Di tengah generasi yang hidup begitu dekat dengan dunia digital, mungkin sesekali kita perlu belajar tentang batas, kesederhanaan, dan keteguhan dari masyarakat yang telah menjaga kehidupannya selama begitu lama.

Baduy tidak harus menjadi Gen Z, dan Gen Z tidak harus menjadi Baduy. Tetapi keduanya dapat bertemu pada satu pertanyaan: di tengah perubahan zaman, nilai apa yang masih layak kita jaga?