Konten dari Pengguna

PAI di SMK: Mengejar Materi atau Membentuk Karakter?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zacky Al-Ghofir El-Muhtadi Rizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki tujuan yang kuat untuk menyiapkan peserta didik menghadapi dunia kerja. Karena itu, pembelajaran di SMK banyak dipenuhi praktik, keterampilan teknis, dan kompetensi kejuruan. Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dipersiapkan, yaitu karakter.

Siswa SMK nantinya tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengoperasikan mesin, memperbaiki kendaraan, membuat produk, atau menguasai teknologi. Mereka juga membutuhkan kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan etika. Keterampilan membuat seseorang mampu mengerjakan pekerjaan, sedangkan karakter menentukan bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan.

Di sinilah Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting. Persoalannya, PAI harus berjalan di tengah jadwal SMK yang padat dengan waktu pembelajaran yang terbatas. Materi yang harus disampaikan cukup banyak, sementara pembentukan karakter membutuhkan proses yang tidak sebentar. Lalu, PAI di SMK seharusnya mengejar materi atau membentuk karakter?

Keterbatasan waktu menjadi tantangan tersendiri dalam pembelajaran PAI di SMK. Peserta didik harus membagi waktu antara mata pelajaran umum, kejuruan, praktik, proyek, dan berbagai kegiatan sekolah lainnya. Dalam kondisi seperti ini, pembelajaran PAI berpotensi lebih berorientasi pada penyelesaian materi. Guru berusaha menyampaikan materi sesuai target, memberikan tugas, melakukan evaluasi, lalu melanjutkan ke materi berikutnya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi. Siswa sedang melalukan presentasi, diskusi dan belajar bbernai berbicara di hadapan umum.

Padahal, karakter tidak terbentuk hanya karena siswa mampu menjelaskan pengertian jujur, disiplin, amanah, atau tanggung jawab. Seseorang belum tentu menjadi jujur hanya karena memperoleh nilai tinggi dalam soal tentang kejujuran. Karakter membutuhkan pembiasaan dan keteladanan. Ia tumbuh dari perilaku yang dilakukan berulang-ulang dan lingkungan yang mendukung.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak jam PAI yang tersedia, tetapi apa yang dilakukan dalam waktu yang tersedia tersebut. Keterbatasan jam bukan berarti pendidikan karakter harus kehilangan tempat. Justru pembelajaran PAI dapat dibuat lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa SMK.

Pendidikan karakter, misalnya, dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan siswa setiap hari. Kebersihan diri dan kelas dapat menjadi bagian dari pembiasaan karakter. Siswa dibiasakan menjaga kebersihan pakaian, badan, tempat belajar, dan lingkungan kelas. Dalam perspektif PAI, kebersihan juga dapat dikaitkan dengan pentingnya menjaga kesucian diri sebelum beribadah.

Demikian pula dengan kedisiplinan. Karakter disiplin tidak selalu harus diajarkan melalui materi khusus. Siswa dapat dibiasakan masuk kelas tepat waktu, mengikuti pembelajaran dengan tertib, mengerjakan dan mengumpulkan tugas sesuai waktu yang telah ditentukan, serta menaati aturan sekolah.

Pembiasaan ibadah juga menjadi ruang penting untuk membentuk karakter. Shalat Zuhur dan Ashar tepat waktu dan berjamaah, misalnya, bukan hanya persoalan menjalankan kewajiban agama. Di dalamnya terdapat latihan kedisiplinan, tanggung jawab, keteraturan, dan kebersamaan.

PAI juga dapat menjadi ruang untuk melatih keberanian siswa. Ketika siswa diminta menyampaikan pendapat, mempresentasikan hasil tugas, membaca ayat Al-Qur'an, atau berbicara di depan kelas, mereka tidak hanya sedang belajar materi. Mereka juga sedang belajar percaya diri, berani berbicara, menghargai pendapat orang lain, dan bertanggung jawab terhadap apa yang disampaikan.

Hal sederhana lainnya adalah membiasakan siswa berbicara dengan sopan dan santun. Cara memanggil guru, berbicara dengan teman, menyampaikan pendapat, meminta izin, maupun merespons perbedaan pendapat merupakan bagian dari pendidikan karakter. Nilai agama tidak cukup hanya diketahui, tetapi perlu terlihat dalam cara seseorang memperlakukan orang lain.

Begitu pula dengan kebaikan bersama. Siswa dapat dibiasakan membantu teman yang mengalami kesulitan, menjaga fasilitas sekolah, membersihkan kelas bersama, berbagi tugas dalam kelompok, serta tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut, siswa belajar bahwa menjadi pribadi yang baik juga berarti memberikan manfaat bagi orang lain.

Dengan demikian, PAI tidak hanya menjadi ruang untuk mengetahui nilai agama, tetapi juga ruang untuk menghidupkan nilai agama dalam kebiasaan sehari-hari.

Sebagai Calon Pendidik, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sebagai calon pendidik, kita mungkin tidak dapat menentukan berapa banyak jam yang diberikan kepada PAI. Namun, kita dapat menentukan bagaimana waktu tersebut digunakan.

Pertama, kita perlu memilih nilai karakter yang dekat dengan kehidupan siswa SMK. Nilai tersebut tidak harus selalu disampaikan dalam bentuk teori. Kebersihan, kesucian diri, kedisiplinan, tanggung jawab, keberanian, kesantunan, kepedulian, dan kebersamaan dapat ditanamkan melalui aktivitas sederhana dalam pembelajaran.

Kedua, kita perlu mengintegrasikan nilai tersebut ke dalam materi PAI yang sedang dipelajari. Ketika membahas thaharah, misalnya, pembelajaran dapat diarahkan tidak hanya pada pemahaman tentang tata cara bersuci, tetapi juga pada kebiasaan menjaga kebersihan dan kesucian diri. Ketika membahas shalat, guru dapat menguatkan nilai kedisiplinan melalui pembiasaan shalat tepat waktu dan berjamaah.

Ketika pembelajaran menuntut siswa melakukan presentasi, kegiatan tersebut dapat sekaligus menjadi latihan keberanian berbicara. Ketika siswa berdiskusi, guru dapat membiasakan mereka menyampaikan pendapat dengan bahasa yang sopan dan menghargai pandangan teman. Ketika mengerjakan tugas kelompok, siswa dapat belajar bekerja sama, berbagi tanggung jawab, dan membantu satu sama lain.

Ketiga, membangun karakter melalui pembiasaan kecil. Datang tepat waktu, mengerjakan tugas, menjaga kebersihan kelas, menjaga kesucian diri, melaksanakan shalat tepat waktu, berbicara santun, berani tampil di depan kelas, dan membantu teman mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari karakter siswa.

Keempat, guru harus menjadi teladan. Sulit meminta siswa disiplin jika gurunya tidak menghargai waktu. Sulit meminta siswa berbicara santun jika komunikasi di kelas tidak menunjukkan kesantunan. Demikian pula, pembiasaan kebersihan, ketertiban, dan ibadah akan lebih mudah diterima ketika guru menunjukkan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Terakhir, pendidikan karakter tidak dapat dibebankan kepada guru PAI seorang diri. Guru kejuruan, wali kelas, guru BK, sekolah, dan keluarga juga memiliki peran. Nilai yang diajarkan dalam PAI akan lebih kuat ketika siswa menemukan nilai yang sama dalam kehidupan sehari-hari.

PAI di SMK tidak harus memilih antara mengejar materi atau membentuk karakter. Keduanya dapat berjalan bersama apabila pembelajaran dirancang secara kontekstual dan bermakna. Keterbatasan jam PAI bukan alasan untuk mengabaikan pendidikan karakter. Justru kondisi tersebut menuntut guru untuk menggunakan waktu secara lebih efektif. Materi yang sedang dipelajari dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan.

Pembelajaran tentang thaharah dapat dihidupkan melalui kebersihan dan kesucian diri. Pembelajaran tentang shalat dapat dihubungkan dengan kedisiplinan dan kebersamaan. Kegiatan presentasi dapat menjadi latihan keberanian. Diskusi dapat menjadi latihan kesantunan. Tugas kelompok dapat menjadi latihan tanggung jawab dan kepedulian.

Pada akhirnya, keberhasilan PAI di SMK tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak materi yang selesai diajarkan. Ada pertanyaan yang lebih penting: setelah belajar PAI, apakah siswa menjadi pribadi yang lebih baik?

Siswa SMK memang perlu menjadi tenaga yang terampil. Namun, keterampilan tanpa kejujuran dapat disalahgunakan, kemampuan tanpa tanggung jawab dapat merugikan orang lain, dan kecakapan tanpa etika tidak cukup untuk menghadapi dunia kerja.

Sebagai calon pendidik, tugas kita bukan sekadar membuat siswa memahami agama, tetapi membantu mereka menghidupkan nilai agama dalam kehidupan. Sebab, jam pelajaran PAI mungkin terbatas, tetapi kesempatan untuk membentuk karakter sebenarnya tidak pernah terbatas.