Masjid dan PMII: Rumah yang Ditinggalkan Penghuni

Jai Guru Deva
Tulisan dari Zaenal Arsyad Alimin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh:
Zaenal Arsyad Alimin
(Sekretaris Umum PC. PMII Kota Serang)
"PMII harus kembali ke masjid"
Belakangan ini, diktum diatas menjadi perbincangan hangat oleh "sebagian" kader PMII baik dalam ajang kaderisasi formal maupun non formal. Bahkan setahun yang lalu diktum ini menjadi satu intruksi kaderisasi resmi dari Ketua Umum PB. PMII. Menjadi menarik untuk kita perhatikan, kenapa diktum tersebut lahir dalam tubuh organisasi ini ?
Pepatah mengatakan tidak ada asap kalau tidak ada api. Maka suatu akibat lahir dikarenakan adanya suatu sebab. Setelah kita amati bersama, diktum itu lahir sebagai bentuk dari pada ekspresi keresahan kita sebagai kader dan waega peegerakan atas dasar realita yang terjadi hari ini. "Sebagian" besar kader PMII rindu akan hangat nya suasana masjid yang diisi oleh pola-pola interaksi yang kita lakukan, rindu masjid sebagai pusat peradaban dan media dakwah ajaran Islam sebagaimana ulama-ulama kita.
Masjid adalah Ruh:
Apa yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah setelah tiba di negara Yatsrib (Madinah) saat hijrah ? Bukan pusat pemerintahan, bukan pula perpustakaan atau museum apalagi pusat perbelanjaan. Akan tetapi Masjid !!!
Maka dari itu, insyaf dan sadar sebagai kader dan warga pergerakan, kita harusnya mengamini bersama bahwa surau adalah parlemen inti yang menjadi menjadi elan vital dalam keberlangaungan organisasi ini. Rasulullah telah memberikan contoh yang sangat jelas dan gamblang bahwa masjid merupakan elemen terpenting dan ruh dalam menyebarkan ajaran Islam saat itu dan akan tetap demikian sampai kapan pun. Maka kita selaku kader dan warga dari organisasi yang kita yakini didalam nya membawa Gen dan misi ajaran Rosulullah yaitu Islam Rahmatan Lil 'alamin sudah sepatutnya dan seharusnya meneruskan estafeta dan perjuangan Rosulullah dalam menyampaikan ajaran dan pesan Agama Islam yang damai di Bumi Pertiwi ini dengan melalui masjid sebagai salah satu media utama.
Selain menjadi tempat berserah diri dalam beribadah dan pusat penempaan elemen spiritual, masjid juga menjadi pusat peradaban dan kebudayaan masyarakat Islam secara umum dan Indonesia secara khusus. Segala bentuk kegiatan, baik yang besifat mahdhoh ataupun ghoiru mahdhoh, hampir tidak terlepas dari peran masjid. Sholat, mengaji, muludan, rajaban, tahlil dsb merupakan salah satu contohnya. Bermusyawarah menentukan jadwal ronda, jadwal kebersihan, bahkan memilih ketua RT dan hampir segala bentuk kegiatan sosial lainnya pun tidak terlepas dari peran masjid. Maka dari itu masjid merupakan ruh bagi kita selaku warga pergerakan dalam mengarungi setiap kehidupan.
Globalisasi dan Terkikisnya Khittah:
57 tahun yang lalu tepat nya tanggal 17 April 1960 organisasi ini lahir dari rahim ijtihad para ulama yang menjadi pewaris para nabi dengan membawa misi ajaran Islam Ahlussunah Wal Jama'ah dan ajaran nasionalisme Indonesia. Lebih jelas tergambar dalam tujuan organisasi "Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa Kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. (AD/ART BAB IV Pasal 4)".
Dalam hemat penulis, para pendahulu dan Founding Fathers organisasi ini adalah manusia-manusia yang sholeh, baik dalam beribadah maupun kehidupan sosial. Bagaimana tidak, tujuan yang termaktub dalam AD/ART organisasi merupakan bentuk representatif dari perilaku keseharian mereka. Sehingga wajar ekspektasi yang dibangun oleh mereka terhadap kader-kadernya meneruskan nya dalam tubuh organisasi ini.
Tahun demi tahun telah terlewati, dinamika demi dinamika kita jumpai sampai lah pada masa dimana kondisi sosial berubah. Globalisasi datang mencengkram semua bentuk peradaban bangsa ini, manusia mulai merubah arah haluan dari semula hidup dalam suasana gotong royong dan tenggang rasa menjadi manusia individualis dan arogan. Konsumerisme menggerogoti masyarakat tanpa terkecuali dan menjadi alternatif gaya hidup, life style menjadi tolak ukur status sosial dalam masyarakat termasuk mahasiswa. Hal ini menjadi fakta dan realitas kehidupan yang tidak bisa kita napikan serta menjadi tantangan kita sebagai suatu bangsa terlebih kita yang menjadi "pewaris" ajaran Islam Rahmatan Lil 'Alamin dan penjaga jati diri bangsa ini. Lantas yang jadi pertanyaan apakah kita akan tunduk dan menyerah terhadap kondisi tersebut ? Jawaban nya pasti TIDAK !!!
Kembali kepada khittah awal terbentuknya organisasi ini, kita meyakini bahwa kita adalah pewaris ajaran-ajaran Rosulullah Saw serta penjaga pintu terakhir keutuhan jati diri bangsa sesuai amanat dan mandat para ulama kita.
Maka salah satu jawaban agar kita tidak terkikis oleh derasnya globalisasi adalah dengan kembali kepada khittah pusat peradaban umat islam yaitu masjid.
Realitas yang Memilukan:
Dari tujuan yang merupakan hasil konsensus dan ijtihad para Founding Fathers kita sepertinya sudah mulai memfosil terlebih dalam kurun waktu terakhir ini. Entah karena sudah memasuki fase kemunduran atau memang kondisi dan manusia nya yang sudah berubah. Wallahu 'alam.
Secara kuantitas masa dan elektabilitas organisasi, mungkin kita masih unggul ketimbang organisasi tetangga sebelah. Akan tetapi kenyataan bicara lain, dalam segi pemberdayaan kualitas dan potensi kader, kita masih berada di urutan dibawah beberapa organisasi tetangga. Kembali kepada pembahasan awal tentang pemberdayaan masjid, kita khususnya mengalami kemunduran dan ketertinggalan dalam hal ini. Bagaimana tidak, hampir seluruh masjid dan ruang-ruang strategis di kampus dikuasai oleh mereka yang gemar dan konsisten mendukung gerakan ideologi baru pengganti pancasila yang kita sebut khilafah. Hari ini masjid dan ruang-ruang strategis sebagai pusat peradaban manusia dikampus didominasi atau bahkan dikuasai oleh mereka. Sebut saja KAMMI dan LDK yang dominan dan beberapa komponen lain terutama dikampus kita, belum lagi ada HTI dan GEMA Pembebasan. Mungkin kita pernah menggunakan masjid sebagai media interaksi kita, akan tetapi kita cuma mampir dan bahkan "ngacak-ngacak" bukan menjadi penghuni. Hal ini harus kita akui bersama sebagai suatu realitas yang sangat memilukan.
Kenapa hal ini bisa terjadi dan lantas kemana kader-kader kita yang berjumlah sekian fantastisnya dan tak terhitung ? Apakah cuma kader hoax atau mitos belaka ?
Tentu jawaban nya ada dalam kesadaran diri dan sistem organisasi kita. Organisasi ini didirikan untuk membentuk kader-kader ulul albab yang mampu mengintegrasikan 3 elemen yang penulis sebut "Tri Dharma PMII" secara bersamaan yaitu Intelektual, Emosional dan Spiritual. Untuk dua elemen yaitu intelektual dan emosional, mungkin merupakan hal yang sangat akrab dengan kehidupan kita. Banyak kader-kader yang memiliki kapasitas intelektual cukup mumpuni. Dalam hal kapasitas emosional pun demikian. Akan tetapi lain cerita ketika bicara elemen spiritual, hanya sepersekian persen kader yang memiliki kapasitas dalam elemen ini, selebihnya bleng termasuk penulis. Maka jawaban yang sangat pas adalah kembali ke masjid dan memperdayakan nya, bukan malah meninggalkan nya dengan berbagai alasan bulshit. Bagaimana kita bisa mengcounter perkembangan gerakan radikalisme yang makin mencokol dikampus yang biasa melakukan kegiatan dan berinteraksi dimasjid, sedang kita malah menjauhi masjid dan pusat peradaban yg lain nya ?
Menjadi satu anomali organisasi kalau hal ini terus berlanjut. Maka dari itu mari kita "labrak" ramai-ramai masjid terutama masjid kampus kita sebagai pusat perdaban, kegiatan dan interaksi organisasi kita secara beradab tanpa meninggalkan norma-norma dan etika pemberdayaan masjid.
Semoga mulai saat ini, kita bisa merefleksikan dan sadar akan penting nya peran masjid sebagi ruh dan pusat peradaban. Jangan sampai lahir stigma yang berkelanjutan dari kader kita atau orang lain bahwa kita adalah penghuni yang meninggalkan rumahnya yaitu masjid.
Tabik !!!
Tulisan ini dibuat untuk seluruh kader PMII tanpa terkecuali, terkhusus PMII UIN SMH BANTEN sebagai bentuk refleksi dan tekad kita bersama dalam membangun spirit berorganisasi tanpa mengandung unsur yang mendeskriditkan pihak-pihak tertentu.
