Cerita Paskibraka Sintang dan Bondowoso: dari Daerah Menuju Istana

Ada cerita panjang di balik 76 calon Paskibraka yang kini mengikuti rangkaian pembinaan dan pelatihan tingkat nasional, untuk persiapan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dua di antaranya adalah Mirza Rafi Navazani dari Sintang, Kalimantan Barat dan Angelica Theona Putri dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Mereka berhasil melewati rangkaian seleksi berjenjang dari daerah hingga tingkat nasional.
Perjalanan mereka menuju titik ini menyimpan cerita masing-masing.
Bagi Mirza, pengumuman kelulusan calon Paskibraka nasional menjadi hadiah ulang tahun yang datang lebih cepat.
Pengumuman kelulusan disampaikan pada 22 Juni, tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang jatuh pada 23 Juni. Saat melihat namanya tercantum dalam pengumuman, siswa SMA Negeri 1 Sintang itu mengaku langsung berteriak kegirangan.
“Saya langsung teriak sekali dan itu kemarin pengumuman tepat tanggal 22 dan tanggal 23-nya saya ulang tahun. Jadi itu kado juga mungkin,” kata Mirza saat ditemui kumparan di PPSDM Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8).
Mirza mengatakan, perjalanan menuju tingkat nasional berlangsung panjang. Dirinya harus melewati seleksi dari tingkat sekolah, kabupaten, provinsi hingga verifikasi tingkat pusat.
Selama menjalani pelatihan jauh dari rumah, Mirza mengaku tidak pernah terpikir untuk menyerah. Namun, tidak bisa dipungkiri dia merasa rindu dengan keluarga di kampung halamannya.
“Kalau saya nyerah di sini mungkin nggak ada. Tapi hanya kangen orang rumah,” ujar Mirza.
Sementara bagi Angelica, kesempatan menjadi calon Paskibraka nasional menjadi pengalaman istimewa karena dirinya merupakan calon pertama dari Kabupaten Bondowoso yang berhasil mencapai tingkat nasional.
"Lebih tepatnya lagi di kabupaten saya baru pertama kali ada yang bisa tembus sampai di nasional dan saya baru pertama kali,” tutur siswi SMA Negeri 1 Tenggarang itu.
Kabar kelulusan juga menjadi momen yang membahagiakan bagi Angelica. Dia mengaku histeris saat mengetahui dirinya lolos, dan pihak sekolahnya ikut menantikan pengumuman tersebut.
“Untuk saya sendiri saya sangat senang karena kayak histeris banget di rumah. Karena sekolah juga ternyata sangat mengapresiasi saya, kayak nonton bareng-bareng pengumumannya. Dan ternyata puji Tuhan saya bisa lulus,” jelas Angelica.
Kini, Mirza dan Angelica sama-sama membawa harapan dari daerah asalnya. Mirza ingin pengalaman tersebut membentuknya menjadi pribadi yang lebih disiplin dan mampu menjadi teladan ketika kembali ke Kalimantan Barat.
“Semoga saya setelah mengikuti diklat di sini, saya mempunyai kepribadian yang disiplin dan dapat menjadi role model,” tutur Mirza.
Lebih lanjut, Angelica berharap pengalaman tersebut membuatnya lebih mandiri, peduli terhadap sekitar, dan mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Ke depannya saya bisa lebih menerapkan sikap saya untuk lebih mandiri lagi dan juga lebih care sama sekitar saya dan juga menerapkan kelima sila Pancasila,” pungkas Angelica.
