Konten dari Pengguna

Jadi Perempuan Harus Bagaimana?

ZAHIRA SHARFINA PRADESTI

ZAHIRA SHARFINA PRADESTI

Sociology Student Brawijaya University

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ZAHIRA SHARFINA PRADESTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"gender equality" by Vecteezy
zoom-in-whitePerbesar
"gender equality" by Vecteezy

Kesetaraan gender semakin sering dibicarakan, terutama di media sosial, namun kenyataan menunjukkan bahwa perempuan masih harus menghadapi berbagai tekanan yang tak selalu terlihat secara kasat mata. Dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, tempat kerja, maupun ruang digital, perempuan kerap terjebak dalam ekspektasi sosial yang tidak adil. Standar ganda yang dilekatkan pada peran dan perilaku perempuan terus mereproduksi ketimpangan yang menguras energi mental dan emosional. Situasi ini menuntut refleksi kolektif agar kesetaraan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata.

Tekanan di Tempat Kerja dan Rumah

Di lingkungan kerja, perempuan yang bersikap tegas kerap dicap emosional, sementara di rumah mereka tetap dituntut hadir penuh sebagai pengasuh utama dalam keluarga. Ekspektasi ganda ini membuat perempuan bekerja dua kali lebih keras dibanding laki-laki, karena mereka harus memenuhi tuntutan profesional dan domestik secara bersamaan. Minimnya dukungan institusional, seperti kebijakan kerja fleksibel atau layanan penitipan anak, semakin memperparah beban tersebut. Akibatnya, banyak perempuan mengalami kelelahan mental yang tidak diakui secara sosial, karena dianggap sebagai bagian alami dari peran mereka.

Ketimpangan di Dunia Digital

Ruang digital yang seharusnya memberikan kebebasan berekspresi justru sering kali memperkuat bias dan kekerasan simbolik terhadap perempuan, terutama bagi mereka yang vokal atau menyuarakan opini kritis. Komentar yang bersifat seksis, merendahkan penampilan, atau mempertanyakan status pribadi sering kali diarahkan kepada perempuan, meskipun isi kontennya tidak berkaitan dengan hal-hal tersebut. Ketimpangan ini tidak hanya merugikan perempuan secara personal, tetapi juga menghambat partisipasi mereka dalam diskursus publik yang lebih luas. Hal ini membuktikan bahwa algoritma dan budaya digital masih memelihara ketidaksetaraan yang mengakar dalam struktur sosial.

Beban Sempurna dan Kekerasan Struktural

Perempuan terus dibentuk oleh ekspektasi sosial untuk tampil sempurna dalam segala aspek, harus cantik, cerdas, penyabar, dan sukses, tanpa menunjukkan kelemahan sedikit pun. Tekanan ini merupakan bagian dari kekerasan struktural yang kerap tidak disadari, karena dibungkus dalam narasi positif tentang perempuan ideal. Ketika perempuan gagal memenuhi standar ini, mereka lebih mudah disalahkan dan dinilai kurang layak dibandingkan laki-laki yang berada dalam posisi serupa. Dalam jangka panjang, tekanan ini menciptakan luka psikologis yang membatasi ruang gerak dan potensi perempuan untuk berkembang secara bebas.

Hambatan Representasi dan Pengaruh

Minimnya perempuan dalam posisi pengambilan keputusan di institusi formal menyebabkan kebijakan publik sering kali tidak berpihak pada kebutuhan perempuan. Ketimpangan representasi ini bukan hanya soal angka, tetapi berdampak pada terbatasnya perspektif gender dalam proses perumusan regulasi yang adil dan inklusif. Ketika suara perempuan diabaikan, maka kebijakan yang lahir pun berisiko memperkuat ketidaksetaraan yang sudah ada. Oleh karena itu, peningkatan partisipasi perempuan dalam posisi strategis harus dipandang sebagai upaya penting dalam membangun masyarakat yang lebih setara dan demokratis.

Kesimpulan

Kesetaraan gender tidak akan tercapai selama standar ganda dan bias terhadap perempuan masih menjadi bagian dari budaya sehari-hari, baik secara offline maupun online. Masyarakat harus belajar untuk tidak lagi mengukur perempuan dengan kriteria yang tidak logis dan membebani, serta memberikan ruang yang aman bagi mereka untuk berpendapat dan berkembang. Perubahan sosial dimulai dari keberanian untuk menantang norma lama yang diskriminatif dan menggantinya dengan pemahaman yang lebih adil.