Konten dari Pengguna

Strategi Pertahanan Indonesia di Tengah Tarik Ulur Global: Ke Mana Arah?

Laila Zahira

Laila Zahira

Mahasiswa aktif jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Laila Zahira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jet tempur Dassault Rafale saat melakukan manuver di udara. Mencerminkan penguatan strategi  pertahanan Indonesia di tengah dinamika geopolitik global. Sumber Foto: Ilustrasi/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Jet tempur Dassault Rafale saat melakukan manuver di udara. Mencerminkan penguatan strategi pertahanan Indonesia di tengah dinamika geopolitik global. Sumber Foto: Ilustrasi/Unsplash

Indonesia dalam Tekanan Rivalitas Global

Di tengah meningkatnya ketegangan global, Indonesia kini berada dalam lanskap strategis yang semakin kompleks. Rivalitas antara United States dan China di kawasan Indo-Pasifik menempatkan Indonesia pada posisi dilematis: menjaga kedaulatan tanpa terseret konflik. Situasi ini membuat kebijakan pertahanan dan diplomasi tidak lagi bisa dipisahkan, melainkan harus berjalan beriringan.

Modernisasi Militer sebagai Strategi

Langkah Indonesia memperkuat pertahanan melalui pembelian jet tempur Dassault Rafale menunjukkan keseriusan dalam membangun daya tangkal. Namun, modernisasi ini tidak cukup dimaknai sebagai peningkatan alutsista semata. Lebih dari itu, ia merupakan bagian dari upaya membangun posisi strategis di tengah ketidakpastian global. Pertanyaannya, apakah langkah ini sudah menjadi strategi jangka panjang atau masih sekadar respons terhadap tekanan eksternal?

Pelajaran dari Konflik Modern

Konflik seperti Russo-Ukrainian War menunjukkan bahwa kekuatan militer saja tidak menjamin stabilitas. Perang modern menuntut kesiapan teknologi, strategi adaptif, dan jaringan kerja sama yang kuat. Dalam konteks ini, Indonesia perlu memastikan bahwa modernisasi yang dilakukan tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas dan relevansi terhadap ancaman masa kini.

Diplomasi sebagai Penyeimbang

Di sisi lain, diplomasi tetap menjadi instrumen utama Indonesia. Prinsip bebas aktif memungkinkan Indonesia menjaga keseimbangan di tengah rivalitas global. Namun, tantangannya adalah memastikan bahwa kerja sama dengan berbagai negara tidak justru menimbulkan ketergantungan atau tekanan geopolitik yang baru. Diplomasi harus menjadi penyeimbang, bukan pelengkap semata.

Menentukan Arah Strategi Nasional

Modernisasi militer dan diplomasi seharusnya menjadi dua pilar yang saling melengkapi. Tantangan utama Indonesia saat ini bukan hanya memperkuat pertahanan, tetapi juga merumuskan arah strategi yang jelas dan berkelanjutan. Di tengah tarik ulur global, Indonesia dituntut untuk tidak sekadar bereaksi, tetapi mampu menentukan posisinya secara tegas dalam peta geopolitik dunia.